Mendaki Gunung Arjuno dari Jalur Lawang

2/02/2016 04:10:00 pm




Gunung Arjuno adalah gunung dengan ketinggian 3339 mdpl di kabupaten Malang, Jawa Timur. Gunung ini termasuk dalam gunung bertipe Strato. Gunung Arjuno bersebelahan dengan gunung Welirang maka tak jarang para pendaki melewati Arjuno untuk sampai ke Welirang atau sebaliknya. Kawasan gunung Arjuno termasuk dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo yang dilindungi oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur.
Untuk mencapai puncak Arjuno, para pendaki dapat melalui beberapa jalur yang ada. Di antaranya adalah jalur Lawang (arah timur), Tretes (utara), gunung Welirang dan Batu-Cangar (Barat). Namun, kali ini, saya akan menjelaskan salah satu dari keempat jalur tersebut. jalur yang akan saya bahas adalah jalur Lawang. Jalur Lawang ternyata banyak dipilih oleh para pendaki karena jalur ini cukup variatif dibandingkan jalur lain. Di jalur ini, anda akan menjumpai berbagai macam hamparan alam, dari kebun teh, hutan pinus, sampai padang sabana. Namun di antara jalur lain, jalur ini juga merupakan jalur yang amat panjang dan cukup menantang. Oleh sebab itu, anda memerlukan tenaga ekstra untuk melalui jalur ini.
Pos I: Pos Perijinan
Sebelum pendakian, para pendaki akan mampir ke pos perijinan untuk mencatatkan identitas rombongan. Selain identitas, rombongan mengisi surat permohonan ijin mendaki dan membayar karcis masuk. Setelah pendataan, rombongan akan diberikan briefing dari petugas pos mengenai jalur-jalur dan aturan yang harus dipenuhi. Terakhir, anda harus menyiapkan air dari pos ini. Sebab sumber air hanya tersedia di pos ini dan desa sekitar, kecuali di musim hujan, anda dapat menemukan beberapa sumber air di beberapa titik.
Pos I-Pos II
Setelah melewati pos perijinan, anda masih melalui wilayah pedesaan Wonorejo. Beberapa basecamp dan warung berdiri di pinggiran jalan desa. Jadi, anda masih punya kesempatan untuk menyiapkan perbekalan. Anda bisa membeli air atau makanan lain di warung-warung dan bersiap-siap bersama rombongan di basecamp. Apabila mau mengirit pengeluaran, anda boleh minta air ke penduduk sekitar.
Setelah pedesaan, barulah rute pendakian dimulai. Rute ini dimulai dari kebun teh yang luas milik PT Perkebunan Nusantara XII. Jalur pendakian di sini berupa jalan berbatu dan panjang. Apabila ingin perjalanan lebih cepat, anda bisa memotong jalur lewat tengah-tengah kebun teh asalkan tetap mengikuti petunjuk arah yang ada. Kalau beruntung, anda bisa menyaksikan langsung proses pemetikan teh yang sulit ditemukan di kota. Meskipun panjang, di kebun ini terdapat dua tempat peristirahatan (brak) sementara pemetik teh yang bisa anda tumpangi sebagai tempat istirahat.
Kemudian anda akan melewati perkebunan milik warga sekitar. Warga sini banyak menanam tanaman buah. Dari kebun buah perjalanan berlanjut ke hutan lebat yang disebut Alas Kaliandra. Saat musim kemarau, hutan ini berubah menjadi hutan mati yang penuh dengan pohon-pohon tumbang dan terbakar. Perjalanan dari kebun teh sampai pos II memakan waktu sekitar 2-3 jam
Begitu tiba di Pos II, para pendaki bisa melepas lelah setelah perjalanan di pos penjagaan atau dengan mendirikan tenda di sebelah pos penjagaan. Di pos inilah jalur pendakian bercabang menjadi dua, jalur sabana dan bukit Lincing.
Dari Pos II ke Pos III dengan Jalur Bercabang
Jalur pendakian menuju pos III bercabang menjadi dua jalur: jalur sabana dan bukit Lincing (alternatif). Jalur pertama adalah padang sabana. Padang rumput yang luas ini disebut juga Oro-oro Ombo. Anda akan disuguhkan dengan hamparan rumput yang luas dan relatif datar. Anda bisa ngecamp di sini apabila sudah malam. Namun butuh waktu sekitar 5 jam melewati wilayah ini.

Padang sabana yyang membentang luas menuju Pos 3 (sumber: pribadi)

Bukit Lincing merupakan alternatif menuju pos III. Bukit ini dikenal dengan jalan menanjak dan membentuk zig-zag. Perjalanan akan lebih singkat lewat bukit Lincing dibandingkan sabana. Meski lebih singkat, jalur ini tidak direkomendasikan untuk dilewati di musim hujan. Jalan ini lebih licin dan sulit didaki saat musin hujan berlangsung.
 
Pos 3 di waktu fajar (sumber: pribadi)

 Pertemuan antara kedua jalur tersebut berada di sebuah tempat yakni pos III yang dikenal juga dengan pos Mahapena. Pos pendakian ini berupa lapangan tanah berundak yang dikelilingi bebatuan. Tempat ini tidak terlalu luas untuk ngecamp tapi setidaknya dapat menampung 3-4 tenda untuk beristirahat sejenak.


Perjalanan menuju Pos IV
Jalur pendakian mulai ekstrem setelah keluar dari pos III. Selepas dari pos III, pendaki akan melewati hutan pinus yang luas yang dinamai Alas Nggombes. Hati-hati melangkah karena jalur ini terjal dan menanjak serta jurang di kanan dan kiri kalian. Meski terjal, pemandangan hutan tetap indah. Apabila menoleh ke belakang/timur, seluruh kota akan tampak membentang. Menengok ke kanan/utara, terdapat bukit dengan hutan pinus yang luas dan sayang untuk tidak diabadikan.
Setelah berjalan sekitar 1-2 jam di hutan pinus, para pendaki akan tiba di Pos IV. Pos ini cocok untuk berkemah karena lebih luas dari pos-pos sebelumnya. Selain itu, tempat ini telrlindung pohon-pohon sehingga tidak perlu takut kepanasan.

Hutan pinus luas setelah pos 3

Pendakian akan dilanjutkan lewat hutan yang luas bernama Alas Lalijiwo. Disebut demikian karena hutan ini benar-benar luas sampai mampu membuat para pendaki lupa diri (lali jiwo) dan tersesat. Hal ini memang benar terbukti. Saya sendiri hampir saja tersesat ketika mendaki di jalur ini. Kala itu, jalur menuju puncak tertutup pohon tumbang sedangkan jalan terbuka malah menunjukkan ke arah yang salah. Mungkin saja saya akan tersesat jika tidak menerobos reruntuhan pohon dan membaca tanda berupa jalan yang luas tadi ternyata dipalangi dengan kayu. Keluar dari Alas Lalijiwo, anda akan menjumpai Alas Cemorosewu yang terdapat di dalamnya pohon cemara yang lebat. Jalan agak menanjak dari Cemorosewu sampai ke puncak Arjuno
Puncak Arjuno
Perjalanan menuju puncak Arjuno tidaklah mudah, sebab bebatuan cadas merintangi jalan ini dan jurang di kanan-kiri pendaki. Perlu kehati-hatian ekstra agar mampu melangkah dengan mantap dan tidak tergelincir. Perjalanan bertambah sulit lantaran jalan menuju puncak berbelok setelah Pelawangan dan jurang tetap ada. Waspadai jalan ini, salah langkah anda akan tergelincir ke jurang.

Jalur menuju Welirang dari puncak Arjuno (sumber: pribadi)
Setelah perjalanan menegangkan di jalan bebatuan selama 1-2 jam, akhirnya ketemu juga dengan puncak Arjuno. Puncak ini terdiri dari batu-batu besar sehingga disebut juga puncak ogal-agil. Abadikanlah momen berharga ini di puncak tersebut. Namun tetaplah hati-hati agar tidak terjatuh di antara bebatuan. Apabila anda perhatikan, terdapat jalur lain yang lebih panjang seperti jembatan ke gunung lain. Itulah jalur menuju gunung Welirang.

You Might Also Like

0 Comments

Like us on Facebook

Hubungi Kami

Name

Email *

Message *