Cerita di Balik Diplomasi (Review FIlm "The Interpreter")

3/31/2016 06:50:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Tahun              : 2005
Sutradara        : Sydney Pallock
Pemeran         : Nicole Kidman, Sean Penn, Catherine Keener, Jesper Christensen, Earl Cameron, Curtiss Cook, George Harris





Film “The Interpreter” menceritakan seorang penerjemah bernama Sylvia Broome (Nicole Kidman) yang bekerja untuk PBB. Dia berasal dari keluarga yang menjadi korban genosida rezim Dr. Zuwanie, presiden Matobo yang berkuasa selama 23 tahun. Interpreter merupakan pekerjaan yang berat , karena ia tidak hanya harus menerjemahkan kata per kata, tetapi juga harus menerjemahkan secara cepat dan menyampaikan ke bahasa tujuan. Terlebih lagi, seorang interpreter harus memahami konteks bahasa asal agar lebih dipahami komunikator. Untungnya, Broome berasal dari negara tersebut dan memahamai bahasa Ku, bahasa kebangsaan Matobo. Jadi dia mampu berdiplomasi antara Matobo dengan PBB dengan lebih mudah.
Dr. Edmund Zuwanie merupakan presiden kontroversial Republik Matobo. Dia menggunakan pendekatan tersendiri demi reformasi di negara itu. Dia melakukan praktik genosida agar kepentingannya tercapai. Tak pelak, banyak pihak mengecam langkahnya ini dan menuntut agar ia diadili di International Criminal Court (ICC). Selain itu, lawan politiknya berusaha untuk menjegalnya. Mereka adalah Ajene Xola dan Kuman-Kuman. Akhirnya, Zuwanie berencana untuk datang ke markas PBB untuk menyampaikan pembelaannya untuk menghindari indictment dari PBB.
Sebelum kedatangan Zuwanie, muncul wacana untuk membunuhnya dalam Majelis Umum PBB. Namun agen Secret Service, Tobin Keller dan Dot Woods ditugaskan untuk menjaga keamanan Zuwanie. Masalah semakin rumit ketika kepala keamanan presiden Matobo Nils Lud ikut campur dengan membeberkan masa lalu Zuwanie.
Broome juga tidak lepas dari pengamanan Keller karena ia akan menjadi penerjemah bagi Zuwanie. Meski diamankan, Broome merasa tertekan dengan kedatangan Zuwanie lantaran dendam atas bom ranjau yang ditanam di rezim Zuwanie yang menewaskan keluarganya. Masalah baru keluar tatkala foto Broome ikut aksi mendukung perlawanan terhadap pemerintahan sah.
Broome mulai merasakan hal-hal aneh sejak kejadian itu. Dia bertemu dengan Kuman-Kuman dalam sebuah bis yang akhirnya meledak saat berhenti. Di apertemennya, dia diteror oleh orang bertopeng. Terakhir dia dikabari oleh rekan kakaknya Simon Broome dan memberitahukan bahwa kakaknya terbunuh. Karena tertekan, dia pun kabur dari penjagaan Secret Service. Hal inilah yang membuat Keller frustasi dan memfokuskan ke kedatangan Zuwanie esok harinya.
Keesokan harinya, Presiden Zuwanie datang dan disambut demonstrasi menuntut penghentian genosida. Hari itu juga Keller mendapatkan data tersangka yang akan membunuh Zuwanie dan berusaha menggagalkan aksi tersebut. Namun hal ini sia-sia karena data yang didapat tidak sesuai dan tersangka tidak ditemukan. Kemudian dia mengawasi keadaan Majelis Umum sebelum pidato Zuwanie. Di  sana ia menemukan hal ganjil. Dia mendapati kursi pengawal Zuwanie kosong. Dia bergegas menuju ruang penerjemah.  Ternyata dia memergoki Lud berada di sana dengan senjata. Diperksa senjatanya, ternyata peluru yang dipegang kosong. Dari situ Keller menyadari bahwa hal ini merupakan siasat Zuwanie agar ia mendapat simpati dari dunia internasional. Sang presiden pun diamankan ke ruang penjagaan. Tak disangka, Broome mengintip ruang penjagaan dan menuntut balas kepada Zuwanie. Dia mengancam akan menembak mati Zuwanie. Keller pun datang menenangkan Broome dan menjelaskan bahwa Zuwanie akan diadili di ICC. Akhirnya Zuwanie diadili dengan banyak tuntutan dan yang terbesar adalah genosida yang ia lakukan selama 23 tahun pemerintahannya.

Dalam film ini, negara Matobo digambarkan sebagai negara yang terbelit masalah politik dan ketidakjelasan hukum. Negara ini bermasalah dengan pemerintahan diktator dan genosida. Agar konflik terselesaikan, diplomasi harus dijalankan dibandingkan perang atau intervensi negara asing. Bahasa merupakan faktor utama diplomasi antar dua negara.

0 Comments: