Menghayati Makna Tahun Baru Hijriyah

10/03/2016 11:16:00 am Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments

Tahun baru Hijriyah adalah tahun baru yang berbeda dengan tahun baru lain. Mengapa berbeda? Karena penanggalan hijriyah bukan dimulai dengan kelahiran Rasulullah saw. atau kelahiran siapapun sebagaimana penanggalan masehi yang berpatokan pada kelahiran Nabi Isa a.s. Namun, penanggalan hijriah dimulai dari hijrah Rasulullah saw. dari Mekkah ke Madinah.

Rasulullah saw. bersama para sahabat berijrah dari Mekkah ke Madinah bukan untuk mencari harta atau kehidupan yang lebih mapan. Madinah yang sebelumnya bernama Yatsrib memang dikenal memiliki iklim sosial yang lebih baik daripada Mekkah waktu itu. Akan tetapi, hijrah Rasulullah untuk berdakwah dan memperkuat Islam. Di Mekkah, Rasulullah selalu mendapat cercaan dan hinaan selama beliau berdakwah. Mulai dari tetangga, teman, bahkan keluarganya sendiri menentang dakwah beliau. Di antara mereka yang getol menentang dakwah Rasulullah saw. adalah paman beliau sendiri, Abu Lahab. Dialah yang meneriaki Rasulullah ketika berpidato di atas bukit, “Celakalah engkau, hai Muhammad! Apakah ini maksudmu mengundang kami di sini?” Ada juga Abu Jahal. Dia tidak memiliki hubungan kerabat dengan Rasulullah saw. Kebenciannya semakin memuncak ketika Khadijah menolak lamarannya namun menerima lamaran Rasulullah. Dialah yang menyangkal Isra’ dan Mi’raj Rasulullah dan mengatakan kalau itu hanya bohong belaka.
Setelah beliau saw. hijrah ke Madinah, banyak program yang beliau laksanakan. Pertama, beliau membangun masjid Quba’ masjid pertama yang dibangun atas dasar taqwa. Kemudian beliau juga mempersaudarakan kaum Muhajirin dari Mekkah dan kaum Anshar sang tuan rumah. Beliau pun mendirikan pemerintahan Islam di Madinah. Akhirnya, Islam tak hanya kuat dari segi aqidah, Islam juga kuat dari segi sosial-politik. Kajian-kajian sejarah peradaban Islam banyak yang dimulai dari Madinah. Setelah asulullah saw. wafat, para sahabat melanjutkan perjuangannya dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam.
Ada sebuah pelajaran di balik hijrah Rasulullah saw. Seandainya beliau tidak berhijrah dan meninggalkan keluarga dan tanah kelahirannya demi Islam, tentunya Islam tidak akan tersebar seperti sekarang. Islam tak akan maju sebagaimana era kekhalifahan dan berbagai dinasti. Tentunya Islam sejak awal tidak akan berkembang karena Rasulullah masih tetap nyaman dalam keadaan beliau di Mekkah waktu itu.
Hijrah dalam Konteks Kekinian
Jika seseorang baru saja putus cinta, kalimat pertama yang selalu terngaiang-ngiang adalah “move on, dong!” Memulai aksi move on, dia akan melupakan berbagai kenangan bersama mantannya. Untuk melancarkan aksi move on, ia akan membuat berbagai misi untuk melupakan orang tercintanya. Setelah itu dia akan melaksanakan programnya. Yang terpenting dia harus bisa melupakan mantan dan memulai lembaran baru hidupnya.
Kalau biar kekinian kita sering “move on”, Islam sudah mengenalnya sejak lama meskipun tidak dengan “move on”. Hijrah, salah satu term dari Islam yang kira-kira sepadan dengannya. Meskipun artinya sepadan, move on memiliki perbedaan dengan hijrah.
Hijrah tidak hanya bermakna pindah dari satu tempat ke tempat lain atau dari keadaan ke keadaan. Hijrah bukan hanya sekedar “move on” yang meninggalkan kenangan masa lalu. Hijrah juga berarti menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat. Dari yang dulu belum pernah membuka Al-Quran hijrah menjadi sering membaca bahkan mengamalkannya. Hijrah harus dibarengi dengan niat dan kemauan sebagai booster untuk memacu semangat.
Syahdan, ada seorang preman di sebuah kempung di Timur Tengah. Ia dikenal suka mabuk-mabukan, mencuri, dan berjudi. Bahkan, dia telah membunuh 99 orang selama hidupnya. tersadarlah dia dengan kehidupannya yang sangat bejat itu. Kemudian ia menemui seorang ulama untuk meminta bimbingan  agar mampu bertaubat. Dia bertanya kepada ulama itu, “Saya sudah membunuh 99 orang. Apakah dosa saya masih bisa diampuni oleh Allah?” Ulama itu menjawab, “Tidak! Dosamu sudah sedemikian banyak. Allah tidak akan mengampunimu!” Marah dengan jawaban ulama itu, dia pun membunuh sang guru. Genaplah sudah ia membunuh 100 orang.
Tidak puas dengan jawaban ulama pertama, ia kembali menemui ulama lain. Ia sangat ragu untuk mengeluhkan masalahnya, takut akan ditanggapi sama seperti yang pertama. “Saya sudah membunuh 100 orang. Masihkah Allah mengampuni dosa saya?” si preman tersebut bertanya. “Masih, wahai pemuda! Allah masih mengampuni dosamu asal kamu mau bertaubat.” Jawab ulama kedua dengan ramah. Mendengar jawaban tadi, si preman berterima kasih dengan penuh haru. Selang beberapa hari, dia pun bertaubat dan memutuskan untuk berhijrah ke tempat yang lebih baik dari lingkungan lamanya.

Masih banyak kisah-kisah hijrah lainya. Intinya adalah hijrah tidak hanya sekedar berpindah atau berganti keadaan. Hijrah harus diiringi niat dan motivasi agar lebih mendorong semangat diri. Setelah niat, barulah merencanakan program-program yang akan kita lakukan. Jangan hanya merencanakan! Kerjakanlah apa yang kita programkan. Tak hanya itu, kita harus meminta petunjuk Allah swt. agar usaha kita lebih lancar. Karena hijrah juga berarti perubahan menuju hidup yang lebih baik.

0 Comments: