Pembangunan dan Kejayaan Islam di Masa Kekuasaan Maulana Hasanuddin di Banten (1552-1570)

12/24/2017 04:16:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments

Pendahuluan
Kerajaan Banten merupakan kerajaan Islam yang beroengaruh di Jawa Barat. Kesultanan ini diperkirakan berkuasa sekitar abad XIV-XIX. Tome Pires menyebutkan bahwa Banten menjadi pelabuhan dagang yang ramai sejak tahun 1522. Pada awalnya, Banten merupakan bagian kerajaan Demak. Namun, setelah Demak runtuh, Maulana Hasanuddin menyatakan Banten sebagai negara merdeka. Selama ia berkuasa, Banten mencapai puncak kejayaannya.

Salah seorang tokoh yang berpengaruh dalam kejayaan Banten adalah Maulana Hasanuddin. Maulana Hasanuddin adalah putra Sunan Gunung Djati dan pendiri kerajaan Banten. Ada pula yang mengatakan dia merupakan sultan Banten setelah ayahnya. Dia bersama ayahnya dan pasukan Demak menaklukkan Banten kemudian mendirikan sebuah wilayah kekuasaan. Semasa dia berkuasa, pembangunan-pembangunan banyak digalakkan untuk memperbesar pengaruh Banten dalam peta perpolitikan Islam di Nusantara.

Makalah ini akan menjelaskan pengaruh Maulana Hasanuddin dalam kejayaan kesultanan Banten. Tulisan ini akan dimulai dengan sejarah kerajaan Banten mulai dari penaklukkan Syarif Hidayatullah atas Banten hingga kejayaannya di masa Maulana Hasanuddin. Terakhir, akan dijelaskan aspek-aspek pembangunan Banten di bawah kekuasaan Maulana Hasanuddin.
     Riwayat Hidup Maulana Hasanuddin 
Sultan Banten pertama Maulana Hasanuddin (Sumber gambar: https://commons.wikimedia.org)
Maulana Hasanuddin adalah pendiri dan penguasa pertama kesultanan Banten. Dia merupakan putra Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Djati dari Nyi Kaung Anten.  Dia dilahirkan pada tahun 1479. Ibunya, Nyi Kaung Anten, adalh putri Prabu Surasowan, penguasa Kaung Anten. Ketika Prabu Surasowan wafat, kekuasaan Kaung Anten diwariskan kepada pamannya atau kakak ibunya, Arya Surajaya. Saat Arya Surajaya berkuasa, Sunan Gunung Djati memilih untuk kembali ke Cirebon.

Meskipun ayahnya pulang ke Cirebon, ia tetap tinggal di Banten. Ia mengabdikan dirinya kepada masyarakat dengan mengajar ilmu-ilmu agama Islam (Zuraya & Fakhruddin, 2010). Aktivitasnya inilah yang membesarkan namanya di masyarakat Banten saat itu. Santri-santrinnya tersebar di beberapa daerah di Banten. Penyebaran agama Islam di Banten pun dimulai pada saat kedatangannya. Dia pun mendapatkan panggilan Maulana Hasanuddin.

Saat beranjak dewasa, ia ditugaskan ayahnya untuk menyebarkan Islam di wilayah kerajaan Pajajaran. Pajajaran merupakan kerajaan Hindu di Jawa Barat. Ia sukses menyebarkan Islam di daerah Banten utara yang merupakan kekuasaan Pajajaran. Jalan dakwah Maulana Hasanuddin di Pajajaran dihalangi raja Pajajaran yang mengeluarkan kebijakan membatasi pedagang masuk ke Banten. Raja Pajajaran juga menjalin hubungan dengan Portugis sehingga menyulut amarah dari Maulana Hasanuddin. Akhirnya ia memutuskan untuk memberontak terhadap raja Pajajaran. Setelah menyebarkan Islam di Banten, ia pun menjadi sultan pertama Banten. Dia berkuasa selama 18 tahun (1552-1570) dan wafat pada tahun 1570  di usia 91 tahun

Berdirinya Kesultanan Banten

Kesultanan Banten (Sumber gambar: https://commons.wikimedia.org)
Kesultanan Banten pada awalnya adalah sebuah pelabuhan dagang yang ramai dikunjungi para pedagang dari Arab dan Tiongkok. Ramainya pelabuhan Banten pada saat itu tidak terlepas dari perebutan Portugis atas Malaka. Para pedagang yang merasa gengsi bersaing dengan Portugis akhirnya berpindah ke Banten. Tome Pires mengatakan bahwa pada tahun 1513 Banten belum menjadi pelabuhan yang diperhitungkan. Namun, ia telah menjadi pelabuhan penting kedua setelah Sunda Kelapa dari kerajaan Sunda. Setelah tahun 1522, Banten telah menjadi pelabuhan penting. (Abimanyu, 2014, hal. 452). Pelabuhan Banten menjadi pelabuhan penting bagi ekspor-impor beras, bahan makanan dan lada.

Sebelum menjadi sebuah kesultanan, Banten merupakan wilayah kerajaan Sunda. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, Banten menjadi pelabuhan dagang yang ramai khususnya pada abad XIV. Ada pula yang berpendapat bahwa Banten telah menjadi pelabuhan internasional sejak abad ketujuh masehi (Berdirinya Kesultan Banten, hal. 1). Banten merupakan wilayah kekuasaan Pajajaran yang beragama Hindu. Pajajaran bertambah maju seiring Portugis menaklukkan Malaka tahun 1511 dan Pasai pada tahun 1521. Para pedagang Islam dari Arab, Persia, dan Gujarat yang awalnya berniaga dengan kedua kerajaan ini berpindah ke pulau Jawa kemudian ke Maluku (Hamka, 2001, hal. 775). Perpidahan para pedagang dari Malaka ke Banten inilah yang membuat ramai pelabuhan Banten dan mempengaruhi kemajuan Pajajaran.

Berdirinya kesultanan Banten diawali dengan keinginan Demak untuk memperluas kekuasaan. Bersama Sunan Gunung Jati, pasukan Demak menyerbu Banten pada tahun 1524 (Abimanyu, 2014, hal. 453). Tujuan penaklukkan pada saat itu adalah Banten Girang yang merupakan pusat pemerintahan Banten. (Hadiwibowo, 2013, hal. 2). Banten Girang terletak 3 km dari kota Serang tepatnya di kecamtan Cipocok Jaya (Berdirinya Kesultan Banten, hal. 1). Penguasa Banten Girang terakhir sebelum penaklukkan adalah Prabu Pucuk Umun. Pada tahun 1526, pasukan Demak berhasil menaklukkan Banten Girang. Prabu Pucuk Umun sendiri yang menyerahkan kekuasaan Banten secara sukarela. (Abimanyu, 2014, hal. 455)

Namun, Hamka (2001, hal. 775) berpendapat bahwa penaklukkan Banten tersebut merupakan upaya untuk menghadang Portugis. Portugis hendak mengincar lada yang berasal dari Banten. Strategi yang akan digunakan saat itu adalah dengan mengusir pedagang-pedagang Muslim dan menjalin kerjasama dengan Pajajaran sehingga mampu memonopoli perdagangan lada. Portugis pun mengutus pasukan yang dipimpin Henrique Leme. Mereka meminta izin Banten untuk mendirikan loji di sana. Perjanjian kesepakatan pun ditandatangani pada tanggal 21 Agustus 1522. Sejak saat itu, Portugis bebas berdagang di Banten bahkan Sunda Kelapa.

Setelah berhasil menaklukkan Banten Girang, Sunan Gunung Jati memindahkan pusat pemerintahan Banten dari Banten Girang ke Surasowan. (Abimanyu, 2014, hal. 454) Sunan Gunung Jati menyerahkan kekuasaan Banten kepada Maulana Hasanuddin karena ia harus kembali ke Cirebon untuk berdakwah.Maulana Hasanuddin memulai  penguasaan atas Banten berdakwah ke penjuru daerah. Dia memfokuskan dakwahnya ke tempat-tempat keramat seperti Gunung Pulosari, Gunung Karang, Gunung Aseupan, sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon (Hadiwibowo, 2013, hal. 11)

Kesultanan Banten di Masa Maulana Hasanuddin: Pendirian dan Masa Kejayaan

Wilayah kekuasaan Kesultanan Banten (Sumber gambar: https://upload.wikimedia.org)


Maulana Hasanuddin menjadi penguasa pertama Banten atas pesan ayahnya yang kembali ke Cirebon (Abimanyu, 2014, hal. 454) atau ke Sunda Kelapa menurut Hamka (2001, hal. 777). Pada waktu  itu, Banten masih menjadi wilayah kekuasaan Demak. Dia menjadi adipati Banten sejak tahun 1526 sesuai penunjukan Sultan Demak. Karena kemajuan pesat selama kepemimpinannya, Banten menjadi negara Bagian Demak pada tahun 1552 dengan mempertahankan Maulana Hasanuddin menjadi sultan Banten (Zuraya & Fakhruddin, 2010). Setalah Demak runtuh dan digantikan oleh Pajang pada tahun 1568, Maulana Hasanuddin memproklamasikan Banten sebagai negara merdeka (Abimanyu, 2014, hal. 454).

Maulana Hasanuddin merupakan politikus ulung dan menginginkan perdamaian. Menurut Al-Hatta Kurdie, Kepala Seksi Pendidikan dan Informasi Kenadziran Masjid Agung Maulana Hasanuddin Banten, Ketika menaklukkan Banten, tidak ada pertempuran berarti antara kedua belah pihak. Dia menerima ajakan Prabu Pucuk Umun untuk mengadu ayam jago. Ketentuan yang disepakati adalah jika ayam Prabu Pucuk Umun kalah, dia harus menyerahkan kekuasaannya kepada Maulana Hasanuddin dan dia bebas menyebarkan Islam di Banten. “Ternyata ayam Pucuk Umun kalah dan ia melepaskan keadulatannya atas Banten, kemudian bermukim di Ujung Kulon.” Tutur Hatta (Zuraya & Fakhruddin, 2010). Langkah ini dipilih oleh Hasanuddin agar tidak terjadi pertumpahan darah dan tidak memicu konflik antar agama.
Benteng Surosowan, pusat kekuasaan Kesultanan Banten (Sumber gambar: http://kekunaan.blogspot.co.id)

Langkah awal yang Hasanuddin ambil sebagai penguasa Banten adalah mengajak penduduk Banten untuk memeluk Islam. Ia kemudian 800 orang untuk masuk Islam atau tetap memeluk agama Hindu dengan kewajiban membayar upeti. Sebagian besar penduduk menerima ajakan tersebut namun sekitar 40 orang mengingkari ajakan ini dan melarikan diri dan merekalah yang saat ini dikenal sebagai suku Badui, sebagaimana yang disampaikan oleh Hatta (Zuraya & Fakhruddin, 2010). Meskipun demikian, Hasanuddin tetap membiarkan mereka tinggal di sana. Hal ini menunjukkan toleransinya terhadap rakyat yang berbeda keyakinan.

Hasanuddin juga memperluas kekuasaan Banten. Di masa kekuasaannya, kekuasaan Banten meliputi seluruh daerah Banten, Jayakarta, Karawang, Lampung, dan Bengkulu (Zuraya & Fakhruddin, 2010). Selain memperluas wilayah, dia juga memperluas pengaruh Banten di antara kerajaan-kerajaan di Nusantara. Ia melakukan kontak dagang dengan sultan Malangkabu (Minangkabau, Kesultanan Inderapura) Sultan Munawar Syah dan sultan Inderapura menghadiahinya keris (Berdirinya Kesultan Banten, hal. 2). Suatu ketika, ketika ia mengunjungi Inderapura untuk mendapatkan wilayah Selebar (Bengkulu), ia disambut secara meriah oleh kerajaan Inderapura di laut Muara Sakai. Ia pun dikawinkan oleh Sultan Inderapura dengan puterinya, dan dihadiahilah daerah Selebar untuk memenuhi hajat hidup. Dia pun mengikat janji untuk melanjutkan perjuangan untuk meningkatkan syiar Islam, melawan Portugis dan menentang Hindu (Hamka, 2001, hal. 780).

Pembangunan-pembangunan pesat juga dilakukan pada masanya. Pembangunan-pembangunan ini meliputi pembanguan keamanan, peningkatan arus perdagangan dan penyebaran agama Islam. Dalam pembangunan keamanan, ia memindahkan pusat pemerintahan dari Banten Girang ke Surosowan membangun Surosowan menjadi pusat pemerintahan yang strategis. Surosowan terletak tidak jauh dari pelabuhan Banten dan dibangunlah di sana istana, pasar, dalem (istana), masjid, alun-alun (Hadiwibowo, 2013, hal. 12). Hasanuddin membangun Surosowan sekitar tahun 1526, menurut tradisi lokal. Pemindahan ini dimaksudkan untuk memperkuat hubungan dengan pesisir Sumatera melalui Selat Sunda dan Samudera Hinda. Melihat pula kondisi Malaka yang jatuh ke tangan Portugis sehingga pedagang-pedagang berbelok arah ke Banten (Abimanyu, 2014, hal. 454). Sehingga hal ini memberikan keuntungan bagi Banten dalam politik dan ekonomi.

Karena banyaknya pedagang yang berniaga di Banten, Banten pun menjadi kesultanan yang berpengaruh dalam ekonomi melalui pelabuhannya. Banten dengan mudah mengekspor barang-barangnya. Hasil ekspor Banten adalah lada, nila, kayu cendana, cengkih, buah pala, kulit penyu dan gading gajah (Hamka, 2001, hal. 779). Para pedagang pun banyak menjual barang-barang di pelabuhan ini. Pedagang Arab membawa permata dan obat-obatan, pedagang dari Tiongkok membawa porselen, kertas sutera dan lain-lain. Sementara itu, pedagang-pedagang lokal banyak membawa bahan-bahan makanan. Garam dari Jawa Timur, beras dari Mengkasar (Makassar) dan Sumbawa, dan rempah-rempah dari Maluku. Perdagangan-perdagangan internasional membuat kebudayaan pesisir Banten kala itu lebih heterogen (Hadiwibowo, 2013, hal. 13).

Hasanuddin juga berkontribusi dalam penyebaran Islam di Banten. Ia mendirikan Masjid Agung Banten, Masjid Kasunyatan dan pesantren. Selain mendirikan masjid dan pesantren, ia juga mengirim ulama ke berbagai daerah kekuasaannya (Abimanyu, 2014, hal. 455). Penyebaran Islam di Banten membuahkan hasil yang memuaskan. Banyak orang dari luar daerah yang sengaja belajar di Banten, sehingga banyak berdiri perguruan seperti di Kasunyatan (Zuraya & Fakhruddin, 2010). Perdagangan pula berpengaruh dalam penyebaran Islam di Banten. Tak jarang, pedagang-pedagang khususnya dari Arab berdagang sambil menyebarkan Islam. Lewat pesisir, awalnya Islam di kesultanan Banten berpengaruh besar terhadap penyebaran Islam di daerah pedalaman. Maka, selain karena faktor ekonomis, pemindahan ibukota dimaksudkan untuk memudahkan penyebaran Islam di daerah pedalaman (Hadiwibowo, 2013, hal. 13).

Penutup

Dari pemaparan di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa kerajaan Banten merupakan kesultanan Islam yang berpengaruh di Nusantara. Sebelum berkembang menjadi sebuah kesultanan, Banten merupakan pelabuhan yang ramai di masa kerajaan Pajajaran. Setelah ditaklukkan oleh Demak beserta Sunan Gunung Jati, ia menjadi kekuasaan Demak dengan Maulana Hasanuddin sebagai adipati Banten. Setelah Demak runtuh, Banten menjadi kesultanan dengan Hasanuddin menjadi sultan Banten.

Di masa Maulana Hasanuddin, banyak perubahan yang ia buat selama 18 tahun kekuasaannya. Dia memindahkan pusat pemerintahan Banten ke Surosowan dan membangun berbagai infrastruktur di dalamnya. Dia mempereluas kekuasaan Banten hingga Bengkulu dan menjalin hubungan dengan kerajaan lain. Dia juga menjadikan pelabuhan Banten sebagai pelabuhan dagang internasional. Penyebaran Islam pun mulai berkembang di zamannya. Dia membangun sarana keagamaan seperti masjid dan pesantren. Maka, pada zamannya, Banten berkembang melalui tiga aspek: politik, ekonomi dan agama

Daftar Pustaka                     

Abimanyu, S. (2014). Babad Tanah Jawi. Yogyakarta: Laksana.
Berdirinya Kesultan Banten. (t.thn.). Dipetik Mei 19, 2016, dari BantenProv.Go.Id | Website Resmi Pemerintahan Provinsi Banten: http://bantenprov.go.id/upload/Sejarah/3.%20Berdirinya%20Kesultanan%20Banten.pdf
Hadiwibowo, T. U. (2013). Perkembangan Kesultanan Banten pada Masa Pemerintahan Sultan Maulana Yusuf (1570-1580). Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta.
Hamka. (2001). Sejarah Umat Islam. Singapura: Perpustakaan Nasional Pte Ltd.
Zuraya, N., & Fakhruddin, M. (2010). Sultan Maulana Hasanuddin: Penguasa Muslim di Banten. Jakarta: Republika.

0 Comments:

Hikmah di Balik Musibah

12/17/2017 10:17:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Suara tangis yang merintih
Tanda bumi sedang menangis
Langit merah di atas sana
Kesaksian alam semesta
(Gigi - Bumi Menangis)

Memasuki penghujung 2017, kita dikejutkan dengan berbagai ujian yang menimpa kita. Kita diuji dengan bencana alam dan bencana lain yang datang seakan-akan beruntun. Ujian bertubi-tubi ini menggoncangkan dada, menyesakkan hati, menimbulkan nestapa. Seakan-akan kita ingin mengeluh dan berkata, "Ya Allah, kenapa engkau uji kami sedemikian berat?"

Badai siklon Cempaka di Jawa bagian selatan memulakan rentetan ujian. Diawali dengan hujan sehari semalam yag tak putus di akhir November, ia ternyata berakibat banjir bandang di berbagai kawasan di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Aku pribadi awalnya mengira ini adalah hujan seperti hari-hari biasa, hanya saja lebih lama, dari subuh sampai malam. Ternyata, ia berdampak kepada musibah yang lebih parah. Seketika itu, Pacitan dilanda banjir bandang. Jalan-jalan dan jembatan hancur. Rumah-rumah rusak disapu banjir  Orang-orang kelimpungan hendak lari ke mana. 19 orang bahkan harus kehilangan nyawanya. Kerugian material terhitung mencapai triliunan rupiah.

Belum selesai bencana alam, sebuah ujian menimpa lagi khususnya umat Islam. Untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan memperkuat persatuan umat, agenda bertajuk "Reuni 212" dilaksanakan di silang Monas, Jakarta. Atas rahmat Allah ta'ala, acara Reuni 212 berjalan lancar tanpa halangan. Meskipun tanpa halangan, cobaan terhadap ummat Islam tetap ada.

Acara ini menerima beberapa reaksi negatif. Reuni 212 dianggap buang-buang uang dan tenaga, tak berguna, intoleran, dan lain-lain. Ada yang bilang juga 212 untuk mengusung khilafah. Ungkapan nada miring tersebut tidak datang dari anak-anak atau kalangan bawah, namun ia datang dari aktivis atau tokoh-tokoh nasional. Bahkan, Metro TV dengan blak-blakan menyatakan bahwa reuni 212 merupakan perayaan intoleran. Otomatis, suara miring tersebut akan menggiring opini publik untuk membenci gerakan ini dan menuding siapapun yang terlibat di dalamnya untuk merongrong NKRI.


Aksi 212 berakhir, cobaan tak kunjung berakhir. Kali ini menimpa da'i dan ulama masyhur Ust. Abdul Somad. Ust. Abdul Somad dihadang oleh massa ormas KRB dan meminta berikrar kebangsaan. Sungguh aneh, Ust. Abdul Somad dikenal dengan ceramahnya yang merakyat. Tapi koq masih ada orang yang tak suka? Beliau dianggap anti-NKRI. Padahal, di mana sikap beliau yang anti NKRI? 

Tidak hanya umat Muslim Indonesia yang sedang diuji, umat Islam sedunia pun juga diuji. Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, tanpa tedeng aling-aling menyatakan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Pernyataan sepihak ini disusul wacana pemindahan Kedutaan AS ke Yerusalem. Hal ini tentu memantik emosi umat Islam. Di saat umat Islam berjuang untuk mempertahankan Yerusalem dan Masjid Al-Aqsha sebagai milik Palestina, Trump justru menyerahkannya kepada Israel. AS jelas-jelas berpihak kepada Israel, meskipun Trump berdalih untuk menjaga perdamaian antara masyarakat Palestina dan Israel.
Umat Islam se-Indonesia bergerak mendukung Palestina (Hidayatullah.com)

Yah, kita tak tahu lagi ujian apa yang akan terjadi nantinya. Sebenarnya semua adalah cerita lama. Kita sudah berkali-kali menyaksikan bahkan merasakannya. Namun, kita merasa ujian ini "besar" karena ia datang beruntun. Bencana alam sudah sering kita mengalaminya. Akan tetapi, bencana alam yang terjadi sekarang meliputi kawasan yang lebih luas. Belum lagi kita dihadapkan dengan cercaan terhadap Islam. Tahun-tahun ini kita akan berhadapan dengan tahun politik. Apapun masalahnya, semua dianggap usaha politik. Apa yang Anda utarakan saat ini, bisa jadi disebut pernyataan politis sehingga dikecam oleh siapapun yang berseberangan dengan Anda. Mau ceramah agama koq tahu-tahu dicekal dengan dalih mengancam politik?!

Ujian Dari Allah

Tak ada asap kalau tidak ada api. Tidak ada sesuatu hal terjadi tanpa penyebab. Semua yang kita alami pasti ada penyebabnya. Entah kita atau orang lain, pasti ada yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi baik langsung atau tidak langsung. 

Kita harus menyadari bahwa manusia pasti akan mendapatkan ujian. Bagaimanapun bentuknya dan seberapa berat ujian tersebut, masing-masing akan mendapatkan cobaan tersebut. Levelnya berbeda-beda bagi masing-masing orang. Ada yang diuji dengan kenikmatan, ada yang diuji dengan bencana dan duka cita. Semuanya diuji untuk mengukur kadar keimanan dan ketaqwaan manusia.

Allah swt. berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 155:
 وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ 
Artinya: Dan sungguh kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang yang sabar.

Untuk apa Allah memberikan cobaan? Dia memberikan kita cobaan untuk mengetahui kadar ketakwaan kita siapa yang lebih baik amalnya.

ليبلوكم أيكم أحسن عملا
Ujian dan cobaan ada untuk menguji keimanan kita

Bencana alam yang terjadi di atas mungkin karena ulah manusia. Mengapa banjir terjadi begitu parah? Mungkin karena kita serakah. Menebang hutan-hutan, membuka lahan untuk kepentingan perumahan. Air pun tidak langsung meresap ke tanah, melainkan mengalir begitu saja tanpa hingga menghancurkan bendungan dan jalan. Atau mungkin kita tidak pernah memperhatikan lingkungan. Asal menebang pohon tanpa membangun kembali, buang sampah sembarangan ke sana sini, terus-terusan bermewahan, lupa bersyukur, dan menyia-nyiakan yang sudah ada. Intinya sih kurang bersyukur.

Terus kenapa umat Islam terus-terusan dicaci? Cacian terhadap Islam tidak hanya terjadi saat ini. Hinaan terhadap Islam pun sudah dimulai sejak Rasulullah membawa risalah Islam. Bahkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah disoraki oleh Abu Jahal ketika berceramah menyampaikan Islam di Mekkah. Abu Jahal bersorak, "Celakalah engkau, Muhammad! Apakah untuk ini kamu mengumpulkan kami?" Penistaan terhadap Islam akhirnya mendorong Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat untuk berhijrah ke Madinah. Bagi mereka, pergi hijrah meninggalkan harta dan keluarga lebih baik dan lebih mulia daripada tinggal di Mekkah tapi Islam akan terus dicaci hingga tak berkembang pesat.

Karena ujian dan cobaan datang langsung dari Allah, kita harus siap menghadapi berbagai cobaan. Tak ada yang tau pasti kapan Allah menguji keimanan kita. Entah saat kita sehat atau sakit, entah saat bahagia atau berduka. Kita juga tak tahu ujian apa yang akan menimpa kita. Bisa jadi, harta dan kekayaan adalah ujian. Apakah kita mensyukuri nikmat yang Allah berikan atau justru mengkufurinya. Apakah kita juga bersabar atas ujian, atau justru mengeluh dan mencari jalan pintas yang tidak diridhoi Allah seperti pergi ke dukun, mencuri, berjudi dll.
Menjaga lingkungan adalah salah satu bentuk taqwa kita kepada Allah

Bencana alam juga merupakan sebuah cobaan dan peringatan. Bencana alam turun berarti Allah memperingatkan kita agar mendekatkan diri kepada-Nya dan menjaga alam. Karena kita rakus mengejar keuntungan, Allah menurunkan bencana alam yang justru merusak dan merugikan kita. Banyak jalan untuk menjaga alam sekitar. Tidak membuang sampah sembarangan dan mengurangi penggunaan plastik adalah salah satu langkah kecil kita. Pembangunan ramah lingkungan merupakan solusi luas jangka panjang yang bisa dilakukan oleh pemerintah dan stakeholder lain. Setidaknya, menjaga lingkungan harus dimulai dari diri sendiri.

Membersihkan lingkungan adalah upaya kita untuk menjaganya

Kita memang tidak bisa lari dari ujian dan cobaan. Kita harus siap menghadapinya. Akan tetapi, kita bisa melakukan berbagai upaya agar ujian tak datang lagi lebih besar. Kita bisa "mencegah" cobaan tersebut. Bagaimana caranya? Kita bisa "mencegahnya" dengan mempererat hubungan dengan Allah melalui ibadah dan ketakwaan kita. dengan berbuat baik bagi lingkungan sekitar dan alam. Dengan demikian, kebaikan kita akan bertambah sehingga kita siap me nghadapi ujian.

Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga diri kita dalam menjalani hidup. Kita sudah menjalani berbagai cobaan di penghujung tahun ini. Berbagai cobaan yang menimpa datangnyadari Allah, jadi mau tak mau kita harus menghadapinya. Bagaimana menghadapi cobaan dari Allah? Kita harus terus mempererat hubungan kita kepada Allah dan kepada makhluk-Nya agar batin kita kuat dan siap mengahdapi cobaan. Semoga kita tetap kuat dalam menjalani ujian hidup.



0 Comments:

Wisata Asyik di Telaga Ngebel Ponorogo

12/01/2017 10:33:00 am Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Berbicara wisata Ponorogo, tentu tak bisa kita lepas dari telaga Ngebel. Telaga Ngebel adalah salah satu objek wisata besar di Ponorogo. Dengan pemandangannya yang hijau dan wisata telaga yang unik, Telaga Ngebel selalu menjadi primadona wisata di Kota Reog. Berbagai agenda selalu diadakan di telaga ini mulai agenda rutin Grebeg Suro sampai yang terbaru Reyog Jazz. Tak heran, telaga ini jadi ikon pariwisata Ponorogo.

Telaga Ngebel terletak di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Telaga Ngebel berada di kaki gunung Wilis. Dia berada di ketinggian kira-kira 734 mdpl. Hawa dingin akan menyeruak ketika kita tiba di sini. Di sekitar telaga, banyak penginapan, rumah makan dan warung berdiri.

Untuk menuju telaga, kita bisa menggunakan transportasi umum atau kendaraan pribadi. Dari kota Ponorogo, kita dapat menempuh perjalanan kurang lebih 50 menit- 1 jam. Alternatif lain adalah dengan bis Damri trayek Terminal Seloaji-Ngebel. Dengan harga Rp 9000,00-Rp 10.000, kita bisa bepergian ke Ngebel. Ada dua jalur yang banyak jalur yang bisa kita tempuh menuju telaga Ngebel. Jalur pertama adalah lewat Jenangan. Dari pertigaan lampu merah, belok ke kanan ke arah Ngebel di Jl. Raya Jenangan. Bisa juga kita lewat Dolopo yaitu ke Jalan Dolopo-Ngebel. Ada juga jalur dari Pulung. Dari pasar Pulung, kita belok kiri dan mengkuti jalan. Setelah melewati pasar Kesugihan, kita ambil jalan lurus dan belok kiri di perempatan berikutnya. Setelah itu, ikutilah jalan sampai ke Telaga Ngebel. 

Perjalanan kami waktu itu melewati Pulung. Setelah dari Pulung, saya dan kawan saya Alwan, menggunakan sepeda motor melewati Kesugihan. Alasanku melewati Pulung waktu itu adalah untuk menghindari operasi yang masih berlangsung. Meskipun jauh, itulah jalan yang terbaik bagi saya. Resikonya, perjalanan lebih lama bisa sampa sejam. Belum lagi, kontur jalan yang lebih ekstrem membuat aku harus lebih piawai mengontrol motor  karena jalan sempit, licin, dan berkelok. Belum lagi kami sempat tersesat di perapatan Kesugihan sampai harus putar arah dua kali. 

Jalan yang becek dan terjal membuat kami berkali-kali memperlambat laju motor. Setelah sampai di telaga Ngebel, adem rasanya dan lelah perjalanan tadi pun hilang. Perjalanan selama sejam dengan medan ekstrem dan jalan licin cukup melelahkan. Capek terasa hilang setelah tiba di Telaga Ngebel.

Untuk masuk ke areal telaga, kita diharuskan membayar karcis terlebih dahulu. Harga tiket masuknya sekitar Rp 5000,00 untuk sepeda motor. Sstt.. Tapi itu hanya berlaku saat kita lewat jalur Ngebel. Kalau kita lewat Kesugihan, tiket tidak berlaku. Kita bisa masuk secara gratis. Saat pertama kali masuk lewat sana, aku pangling takut salah masuk. Hingga aku bertanya ke Alwan, temanku, "Wan, kita gak salah masuk, nih?!" sampai aku sendiri berniat putar balik ke loket masuk. Ternyata, memang benar tidak usah bayar. Kira-kira itulah "hadiah" perjalanan melelahkan tadi.

Setelah sampai telaga, sayang kalau tidak berkeliling telaga. Di kanan jalan lereng-lereng berdiri tegak. Pohon pinus menutupi lereng sehingga terlihat hijau. Tapi, kita harus waspada ketika musim hujan. Jalanan di sana licin ketika hujan dan berpotensi longsor. Di sisi kiri jalan, pemandangan telaga Ngebel terhampar dengan bukit-bukit melatarinya. Tambah elok jika terpantul matahari. 

Setelah puas berkeliling telaga, saatnya duduk-duduk santai. Kalau mau keliling telaga lagi, silakan! (Tapi gak usah sampai 7 kali, itu mah namanya thawaf... )Kalau memang lelah berkeliling, kita bisa beristirahat santai di pinggir telaga. Ada banyak spot yang bisa digunakan untuk beristirahat. Di antara tempat-tempat istirahat yang ada, menurutku tempat terbaik adalah di depan Markas Koramil Ngebel. Tempat tersebut adalah tempat peristirahatan sederhana berupa trotoar yang diperlebar dan dikeramik. Kursi-kursi dari batu terpasang juga di sana. 
Pose di depan dermaga pun oke (Foto oleh Yoga Arif Kurniawan)

Trotoar tersebut biasa digunakan orang-orang buat berkumpul bersama. Mereka duduk-duduk lesehan dengan tikar yang disewa di warung-warung sekitar. Kami pernah berkumpul bersama keluarga besar angkatan di tempat tersebut. Tempatnya luas dan adem. Pohon-pohon tinggi meneduhkan tempat  istirahat sehingga terasa sejuk. Sembari mengobrol, kami menikmati pemandangan indah di telaga. Suasana sejuk telaga membuat tenang dan meeting pun kondusif.
Meeting asik di Telaga Ngebel

Di sekeliling tempat istirahat berdiri warung-warung menyambut para pengunjung. Warung-warung menjajakan berbagai makanan dan minuman, mulai dari  gorengan, snack, dan mie goreng maupun rebus, dan minuman hangat seperti kopi, susu dll. Sebenarnya hampir mirip dengan warung-warung yang biasa kita jumpai di pinggir jalan. Akan tetapi, ada sedikit kekhasan di warung-warung di telaga Ngebel. Hampir semua warung menjajakan es degan (es kelapa muda) dan menawarkan penyewaan tikar. Es degan di sini disajikan dengan batok kelapa sebagai gelasnya. Aku tidak tahu persis berapa harga keseluruhan jajanan di sini termasuk  jasa sewa tikar. Akan tetapi, jika disewakan secara gratis, lebih baik kita membeli camilan dari warung penyedia sewa tikar sebagai imbalannya.
Telaga Ngebel juga menyediakan penyewaan perahu

Persis di sebelah tempat istirahat ada sebuah dermaga besar. Dermaga ini digunakan sebagai tempat bersandar kapal-kapal wisata di Ngebel. Semua kapal disewakan untuk umum. Ada dua jenis kapal di sini, kapal penumpang dan speedboat. Kapal penumpang berkapasitas 15-20 orang yang beru tersedia 1 unit saat aku ke sana. Speedboat berkapasitas lebih sedikit, hanya bisa menampung 4-5 orang. Maka, jumlah speedboat lebih banyak daripada kapal motor. Jika ingin mencoba, kita bisa menyewanya. Sewa kapal penumpang dikenakan tari Rp 6000,00 per orang dan Rp 70.000,00 untuk satu kapal. Untuk speedboat, biaya hanya dikenakan untuk penyewaan per perahu. Tarif sewa speedboat kurang lebih Rp 60.000,00-Rp 70.000,00 per kapal. Jadi, kalau mau mencoba sensasi perahu cepat, sebaiknya datang beramai-ramai agar lebih murah.
Sensasi naik Speedboat di Telaga Ngebel (foto dari Muhammad Rikho)
Telaga Ngebel memiliki panggung untuk berbagai acara (Foto dari Faisal Setiawan Fajri)
Selain warung dan wisata air, di kawasan ini juga ada panggung terbuka dan lapangan. Posisinya berada di belakang warung-warung. Panggung terbuka biasa digunakan untuk pertunjukan. Lapangan juga sering dipakai lomba, kemah, outbond dll. Beberapa agenda kampus menggunakan lapangan ini sebagai venue seperti IT Camp, LDK, Diklat dan sebagainya. Di sini juga terdapat mushola yang letaknya di dalam kantor Koramil. Meskipun di kawasan militer, mushola ini terbuka untuk umum. 

Restoran dan Penginapan

Mengapa saku membahas restoran dan penginapan dalam sub tersendiri? Sebab aku gak pernah mencoba makan di restoran kecuali saat ramai-ramai. Kalau sendiri, berdua, bertiga atau berempat, aku memilih makan di warung saja. Apalagi penginapan. Aku belum pernah menginap di sana. Makanya pembahasan tentang keduanya akan lebih sedikit dan lebih enak dibahas di bagian sendiri.

Di sekeliling telaga berjajar restoran-restoran. Restoran di sini rata-rata berkonsep lesehan dengan pemandangan telaga karena hampir semua terletak di bibir telaga. Restoran di sini menyajikan berbagai macam makanan (ya iyalah, namanya juga restoran! Kalau menyediakan alat musik itu studio namanya.) Maksudku, biasanya restoran di sini menyediakan berbagai masakan dan makanan berat. Salah satu restoran yang pernah aku sambangi menyajikan macam-macam olahan ikan seperti nila, gurame, lele juga ada. Ada juga ayam goreng, ayam kremes dan berbagai olahan ayam. Harga makanan di restoran ini berkisar Rp 15.000,00-Rp 50.000,00 (harga yang tertulis adalah estimasi harga, mungkin bisa lebih murah atau mahal tergantung restoran yang kalian tuju). 

Penginapan di Ngebel banyak dan tersebar di berbagai penjuru. Aku sendiri belum pernah menginap di sini. Namun, dari yang saya baca di situs internet, harga sewa hotel rata-rata di antara Rp 50.000,00-Rp 250.000,00. Harga yang ditawarkan berbeda di setiap penginapan tergantung fasilitasnya.


Cukup sekian tulisanku tentang wisata Telaga Ngebel. Semoga dapat menjadi referensi wisata kalian apalagi di musim liburan ini. Mohon maaf atas kekurangan. Ditunggu kritik dan sarannya. Terima kasih dan semoga berfaedah!





0 Comments:

Toleransi dalam Keberagaman: Belajar dari Tanah Papua

11/10/2017 01:22:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Tak bisa kita pungkiri, keberagaman adalah kodrat alam yang telah Allah ciptakan kepada kita. Keragaman membuat manusia lebih mengenal sesamanya. Keragaman telah membuat manusia memahami alam. Yang terpenting, keragaman mewarnai kehidupan manusia dan membuat kehidupan manusia tidak membosankan. Bayangkan jika makhluk di dunia tidak diciptakan beragam! Hidup akan terasa membosankan. 

Keberagaman adalah modal berharga dalam sebuah masyarakat. Masyarakat merupakan sekumpulan orang-orang dari berbagai latar belakang. Dari berbagai latar belakang, mereka hidup  dan membangun kehidupan sosial bersama. Masyarakat dengan berbagai warna akan menciptakan masyarakat majemuk. Dengan kemajemukan, masyarakat akan hidup lebih berwarna. 

Bagaimana masyarakat dapat hidup berwarna? Begini contohnya, masyarakat majemuk terdiri dari individu yang beragam. Ada penduduk asli, ada juga pandatang. Orang-orang pendatang kemungkinan besar datang dari berbagai wilayah. Mereka akan bersama-sama membangun daerah mereka. Mereka akan berusaha untuk membuat lingkungan nyaman dengan membersihkannya dan membangun fasilitas-fasilitas penunjang. Selain itu, mereka juga membangun berbagai kesepakatan untuk saling menjaga lingkungan agar mereka hidup kondusif.

Ada beberapa keuntungan dalam hidup dengan keberagaman. Kita mampu lebih terbuka dalam menanggapi berbagai hal. Ini tentunya terjadi karena kita terbiasa hidup bersama orang yang berbeda latar belakang. Kita juga akan lebih toleran dengan keadaan orang di luar kita. Karena kita hidup beragam, kita pun mampu merespons masalah dengan berbagai perspektif, setidaknya dengan perspektif pihak yang terlibat dalam masalah tersebut. COntohnya, orang Bali pantang memakan daging sapi karena sapi adalah hewan suci menurut agama Hindu. Sedangkan, orang Islam tidak memakan daging babi karena diharamkan. Maka, ketika ada jamuan makan bersama, mereka mencari makanan pengganti kedua daging tersebut seperti ayam, ikan, dan kambing.

Kadang-kadang, keberagaman menjadi potensi konflik. Konflik lahir dalam sebuah masyarakat majemuk karena ketidakmampuan seseorang memahami perilaku orang lain. Ibarat kayu, jika semakin digesekkan akan menimbulkan percikan api yang ketika membesar akan menyulut api dan membakar apa yang di sekelilingnya. Begitupun dengan masyarakat, gesekan-gesekan di antara mereka akan membesar dan menyulut konflik. Contohnya begini, orang Surabaya memecahkan kata "Jancok" sebagai kata sapaan akrab, namun lain halnya dengan orang luar Surabaya, kata "Jancok" diartikan sebagai makian. Apabila kedua orang tersebut saling menyapa kemudian keluar kata Jancok dari si orang Surabaya, ditakutkan mereka akan bertengkar karena perbedaan penafsiran tersebut.

Bagaimanapun, keberagaman adalah kodrat yang tak bisa kita hindari. Keberagaman akan selalu ada sepanjang hayat manusia. Kita tidak akan bisa menjauhi orang-orang yang berbeda keadaan dengan kita. Mau tidak mau kita pasti bertemu dengan mereka. Kita pasti menjumpai hal asing saat kita berhadapan dengannya. 

Bagaimana menghadapi keberagaman? Ya, hadapi saja! Aku serius, nih! Kalau kalian merasa asing dengan seseorang yang baru kalian ketahui, cobalah dekati dulu. Pahami juga karakter dan kebiasaannya. Bersikaplah toleran terhadap kebiasaan atau pendapatnya yang mungkin berbeda dengan kita. Di sinilah kita dapat ilmu dan pengalaman baru

Sewaktu kecil dulu, saya pernah bertetangga dengan keluarga dari Papua. Yang saya ingat di antara keluarga itu adalah anak perempuannya yang bernama Chika. Setiap sore sepulang sekolah, kami selalu bermain di depan rumahnya. Kadang petak umpet, kadang kejar-kejaran, yang paling sering adalah main perahu-perahuan dari daun dan dilalirkan di selokan. Keluarganya memelihara seekor anjing. Anjing itu bertubuh pendek dan berbulu coklat.  Kata Chika, anjing itu adalah seekor kanguru yang disuntik obat sampai tubunya mengecil dan menjadi seekor anjing. Aku waktu itu percaya-pecaya saja karena pengetahuanku soal anjing kurang dan belum ada Google di masa itu. Aku pun sering bermain dengan anjingnya tanpa menemui masalah meskipun saat pulang aku harus membersihkan bekasnya dengan air dan campuran tanah.

Ada lagi, tetangga kakekku adalah keluarga keturunan Tionghoa yang sudah berumur lansia. Aku biasa memanggil mereka Opa Om dan Oma Tante. Lagi-lagi waktu aku kecil, setiap mudik ke Surabaya (aku tinggal di Bogor dan mudik ke rumah kakek-nenek Surabaya setiap hari raya Idul Fitri), aku sering main ke rumah mereka. Setiap pagi, aku selalu menyaksikan Opa Om memberi makan burung-burung peliharannya. "Kasih makan, kasih minum!" kata Opa Om. 

Beberapa tahun berselang, kakek pindah ke Malang dan mereka pun pindah rumah ke daerah lain di Surabaya. Keluarga kami masih sering mengunjungi rumah Opa Om. Pernah aku menginap di rumahnya karena orang tuaku akan mengikuti reuni sekolah mereka. Ketika waktu shalat tiba, Oma Tante selalu menyuruhku shalat di masjid dekat rumahnya. Oma Tante juga menyediakan sarung untuk shalat karena waktu itu aku masih terbiasa bercelana pendek. Karena hubungan baik kami kepada mereka, kami selalu merencanakan untuk bertandang ke rumah mereka setiap mudik lebaran.

Saat ini pun, saya selalu bersikap toleran terhadap siapapun itu. Setiap menghadiri pertemuan, saya mencoba enjoy bersama orang-orang baru yang mungkin berbeda keyakinan denganku. Akhirnya, aku merasa tidak ada masalah dengan mereka. Malahan, pas aku menjawab pertanyaan, "Dari kampus mana?" mereka tampak tertarik mendengarkan penjelasan tentang kampusku karena menurut mereka, ada yang berbeda dengan kampus lain. Aku pun juga terkesan dengan bagaimana kampus mereka dan kegiatannya serta bagaimana keseharian atau tentang adat istiadat.

Sungguh menarik bila kita mampu berbagi dengan orang lain apalagi dengan orang yang berbeda. Kita akan mengenal banyak orang dari berbagai latar belakang, kita dapat mengenal adat serta kebudayaannya, dan yang terpenting, kita bisa belajar bertoleransi dengan orang lain. Dari mana kita belajar it semua? Kita belajar itu dari keberagaman. Keberagaman adalah pelajaran yang belum tentu kita dapatkan di bangku kuliah.

Keberagaman akan terus menciptakan hal-hal baru yang belum pernah tercipta sebelumnya. Keberagaman akan membuat sesuat yang unik hingga menarik minat orang yang menyaksikannya. Masyarakat yang hidup beragam akan menciptakan cerita baru dalam lembaran kehidupan sosial.

Salah satu yang hal unik karena kebaragaman adalah inovasi baru akan lahir dalam masyarakat. Masyarakat majemuk akan menciptakan berbagai inovasi berbekal pengalaman yang ada di daerah asal masing-masing.

Ada dua peristiwa menarik yang pernah ada dari keberagaman. Saya mengambil peristiwa ini dari tanah Papua. Dengan agama dan etnis beragam, mereka bisa rukun dan membangun masyarakat dan memakmurkan daerah.
Masyarakat Asmat Gelar Buka Puasa Bersama- independen.id

Tradisi yang lahir berkat toleransi dan keberagaman adalah buka puasa bersama masyarakat kabupaten Asmat. Buka bersama masyarakat Asmat ini berlangsung pada tanggal 10 Juni 2016 di kota Agats, ibukota kab. Asmat. Bukber ini ditujukan untuk menjaga toleransi dan menghormati umat Islam yang sedang berpuasa. Padahal, jumlah umat Islam di Kab. Asmat hanya 8.998 jiwa, sekitar 8% dari total penduduk Asmat. Pemerintah Asmat membagikan 5000 kupon gratis pada buka puasa ini, dan ditukrakan dengan makanan dan minuman.

Baca juga: Hormati Umat Muslim, Warga Asmat Gelar Buka Puasa Bersama - independen.id

Umat Islam di Indonesia pun selalu berusaha untuk bersikap toleran dengan sesamanya khususnya dengan non-Muslim. Di sana, mereka saling bahu membahu menjaga kerukunan di tanah ujung timur. Mereka saling mengunjungi setiap ada perayaan hari besar seperti Idul Fitri, Natal, dan perayaan lainnya. Tak jarang pula didapati rumah-rumah ibadah yang saling berdampingan. Setiap satu jamaah masjid contohnya, mengadakan shalat di masjid, pihak gereja menyediakan lahan parkir, begitu pula sebaliknya. Masjid dan gereja di sana bukan hanya simbol keagamaan dan tempat ibadah, namun juga menjadi lambang keberagaman dan sarana sosial. Tak heran jika Papua mendapatkan predikat tertinggi dalam kerukunan umat beragama.

Baca juga: Wujud Toleransi Umat Beragama Jadikan Papua Tanah Damai - cendananews.com

Selain agama, keberagaman di Papua juga tercermin dalam aspek sosial budaya. Masyarakat Papua tidak hanya penduduk asli Papua, ada juga masyarakat pendatang yang berasal dari suku bangsa lain seperti Jawa, Makassar dan sebagainya. Mereka saling membantu meningkatkan kehidupan di Papua. Dari situ, banyak hal baru tercipta.

Salah satu kegiatan yang lahir berkat keragaman adalah Hari Perayaan Pahlawan Pongtiku yang digelar masyarakat Toraja di Jayapura pada 4 September 2016. Hari Perayaan Pahlawan Pongtiku diadakan untuk membakar kembali semangat juang Pongtiku, pahlawan asal Tana Toraja. Acara ini sendiri diisi dengan perlombaan olahraga, seni, donor darah, dan gerak jalan. Acara ini berjalan lancar karena Ikatan Keluarga Toraja sebagai asosiasi masyarakat Toraja di Papua berperan aktif dalam pembangunan Papua, sebagaimana yang dijelaskan oleh Asisten II Setda Kota Jayapura Nurjainudin Konu.

Baca Juga: Masyarakat Toraja di Papua Gelar Perayaan Hari Pahlawan Pongtiku - kabarpapua.co

Keberagaman dan toleransi adalah dua hal yang tak bisa terpisahkan. Keduanya seling berkaitan satu sama lain. Karena keberagaman, kita belajar bertoleransi. Rasa toleransi ada karena terbiasa dengan keberagaman.

Kita harus tetap menjaga keberagaman dan toleransi. Namun, dalam toleransi antara umat beragama, kita mesti mengerti batasan-batasan dalam toleransi. Toleransi dalam beragama berarti kita tidak mengganggu orang lain dalam menjalankan ibadah, tidak pula turut berbaur dalam perayaan mereka. Kita mungkin bisa membantu memfasilitasi, namun tidak perlu ikut mengenakan atribut mereka atau ikut merayakan. Merayakan perayaan itu berarti kita mengakui kepercayaan mereka.

Baca juga: Bagaimana Islam Memahami Toleransi?

Itulah yang dapat kita pelajari bersama tentang toleransi dalam keberagaman. Keberagaman dalam masyarakat adalah sebuah kodrat yang ada dalam kehidupan sosial. Bagaimana menyikapinya? Kita harus mencoba bertoleransi dalam kebaragaman tersebut. Dengan itu, kita akan menjadi terbuka dan menyelesaikan masalah dengan mudah karena memahaminya secara menyeluruh. Semoga kita semua dapat merayakan keberagaman.


0 Comments:

Cerita Perjalanan dari Kursi Kereta (Tentang Tenggang Rasa dan Prioritas kepada Orang Lain)

11/03/2017 04:46:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ  كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ( الحشر9
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (Al-Hasyr; 9).

Ayat ini menerangkan kisah kaum Anshor yang menyambut kaum Muhajirin yang berhijrah ke Madinah (daulu bernama Yatsrib) untuk menjaga akidah mereka. Ayat itu menggambarkan bagaimana kaum Anshar tetap megutamakan kebutuhan orang-orang Muhajirin daripada mementingkan kebutuhan mereka sendiri. Kaum Ansar selalu berbagi tempat, makanan sampai harta rampasan dengan orang Muhajirin dan mereka tak punya rasa iri dengki satu sama lain. Ayat ini menjadi dalil dalam kaidah ushul fiqh: 
Mendahulukan kepentingan orang lain di luar ibadah adalah dianjurkan.

Ayat ini mengajarkan kita pula untuk mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri sekalipun kita membutuhkannya. Mungkin terdengar sulit, namun kalau kita bisa mengapa tidak?

Kita selalu mempunyai hajat yang harus kita penuhi. Selalu setiap hari, ada saja yang kita butuhkan, dari sandang pangan sampai keperluan lain. Bahkan ada beberapa kebutuhan mendesak yang kalau tidak dipenuhi sekarang, kemungkinan lebih buruk akan terjadi. Akan tetapi, tidak ada salahnya kalau kita memprioritaskan kepentingan orang lain.

Pengalaman mengajarkan kita untuk belajar. Itulah kalimat bijak yang harus selalu disampaikan untuk kita. Semoga dengan pengalaman yang saya bagikan ini membuat kita terus belajar.

Ada suatu kisah menarik dalam perjalanan saya dua pekan lalu. Saat itu, saya menggunakan kereta api Jayakarta Premium dari Madiun ke Jatinegara. Sejak menggunakan Traveloka, saya sering bepergian naik kereta api. Selain lebih nyaman, kereta dari kampus ke rumah tersedia hampir setiap waktu meskipun harus ke Madiun terlebih dahulu. Tidak seperti bis yang hanya tersedia siang hari. Setiap memesan tiket kereta, kita bisa memilih bangku yang ada. Saya biasa memilih bangku di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan di luar kereta.

Sesuai dengan jadwal tertera di tiket, kereta akan berangkat pukul 17.30. Sudah sekitar setengah jam saya menunggu di stasiun. Jarak dari kampus di daerah Ponorogo ke Madiun yang  jauh mengharuskan saya untuk memersiapkan keberangkatan sejak awal. Setengah jam berlalu, kereta yang mengantarkan saya pulang pun tiba. Saya pun bergegas untuk masuk gerbong.

Selama mencari tempat duduk, saya selalu memegang tiket agar kursi yang saya duduki cocok dengan nomor di tiket. Setelah mendapatkan nomor yang pas, lega rasanya setelah lama menunggu dan mencari-cari tiket. Saya pun segera menaruh barang-barang dan bersiap untuk duduk. Namun, sesuatu hal yang mengejutkan pun terjadi!

Belum saya menduduki kursi, ternyata sudah ada seorang wanita muda menduduki kursi saya. Di sebelahnya, wanita paruh baya duduk. Ternyata mereka telah menduduki tempatku sebelum aku datang. Ingin aku mengusir keduanya atau memanggil petugas. Bagaimana tidak? Sudah berangkat jauh-jauh dari Ponorogo ke Madiun selama sejam, menanti kereta setengah jam, taunya kursi sudah diduduki! Aku juga mengumpat manajemen Kereta Api. Katanya sudah diatur, koq masih ada yang duduk seenaknya sendiri.

Namun, aku mencoba menenangkan diri dan mengendalikan emosi. Aku sadar, ini adalah transportasi umum yang mana semua punya hak masing-masing. Kereta api bukan milikku sendiri yang aku bisa mengatur-atur kereta. Sejenak, aku kemudian menanyakan si wanita paruh baya yang kebetulan duduk di sebelah koridor.
Pak, maaf.. Ini nomor berapa?

"Bu, maaf, ini kursi 5A?" tanyaku sambil melihat nomor gerbong.

"Ini anak saya, mas!" Wanita tersebut menjawab sambil menunjuk perempun muda di sebelahnya. 

Koq, gak nyambung?! aku membatin. Aku nanya apa, jawabnya apa

Sekali lagi aku bertanya.

"Bu, maaf ini kursi 5A?" tanyaku sekali lagi, penasaran.

"Maaf, bu! Saya sudah pesan tiket di kursi sini!" Aku menambahkan sembari menunjukkan tiket.

"Ini anak saya, mas. Saya dapat tiket di sana tapi anak saya di sini. Saya tukar tempat gak papa ya... Maaf lho, mas!" Ibu itu menjelaskan dengan senyumnya sambil menunjuk tempat di belakangku yang diikuti senyum anaknya di sebelahnya.

Aku pun menoleh ke belakang. Ternyata memang ada kursi kosong di sebelahnya. Aku lemparkan senyum kepada ibu itu dan segera meletakkan tas lalu duduk di tempat itu.

Aku awalnya tak percaya kalau wanita muda itu anaknya si ibu. Wanita muda itu kira-kira berusia 20 tahunan dan tidak berjilbab. Ibu tadi berusia sekitar 40-50 tahunan dan mengenakan jilbab. Ah, mana mungkin mereka ibu-anak? Lagian, yang satu jilbaban dan satunya enggak?! Namun, aku diam-diam memperhatikan keduanya setelah berjam-jam di kereta. Ternyata mereka menunjukkan bahwa keduanya adalah keluarga yang bahagia. Mereka berdua berbagi makanan, saling bergantian menyandarkan kakinya, sampai si anak tidur bersandar di pundak ibunya. Setelah itu aku baru percaya kalau mereka berdua adalah ibu-anak.

Dari perjalanan ini aku mendapatkan dua pelajaran. Pertama, kasih ibu tidak mengenal zaman. Sebesar dan setua apapun kita, ibu masih selalu mencurahkan kasih sayangnya kepada kita. Kedua, kita sebaiknya memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kita kecuali kalau benar-benar mendesak. 

Seandainya saya tidak mengalah kepada si ibu, keselamatan anaknya mungkin tidak terjamin. Transportasi umum seperti kereta api belum tentu terjamin keamanannya. Mungkin saja barang keluarga tersebut tercuri atau yang lebih parah lagi, keluarga itu diganggu oleh penumpang lain.

Kalau kita bisa memprioritaskan orang lain, akan ada kebahagiaan tersendiri bagi kita dan orang lain. Hati kita tenagn karena mampu berbagi dengan orang lain, orang yang kita berikan itu pun akan senang karena merasa dihormati dan diberikan kesempatan. Rasa tenggang rasa kita pun menambah dan kita mampu menghormati orang lain. Akhirnya, rasa saling menghormati pun terbangun di antara kita.





0 Comments: