Semua Ada Jawabannya

3/30/2017 05:35:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 1 Comments

Stasiun Pasar Minggu, saksi penantian seorang kawan tanpa hasil (sumber: poskotanews.com)

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٥﴾ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٦﴾
Artinya: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Al-Insyirah 5-6).

Allah pasti punya jawaban atas segala pertanyaan yang kita minta. Allah selalu hadir di kala kita membutuhkan. Jangankan jika kita butuh, kita tidak butuh pun Allah selalu ada.  Allah selalu memberikan solusi di kala kita dirundung masalah dan butuh penyelesaiannya. Allah selalu akan membantu kita, menolong kita. Begitu pun dengan masalah yang kita hadapi, Allah pasti punya jawaban atas masalah kita. Asal kita tetap optimis dalam menjalani hidup kita.

Sekarang, aku akan berbagi kisah kepada kawan-kawan semua bagaimana kita dapat optimis meskipun kita menghadapi sebuah kesusahan.  Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari apa yang aku ceritakan ini.

Ketika liburan lalu, aku sebenarnya belum mempunyai agenda di rumah kecuali acara keluraga, bertemu kawan-kawan alumni Gontor dan merawat kucing di rumah. Suatu pagi aku mendapatkan pesan dari salah seorang teman, Rasyid, via WhatsApp. Waktu itu kira-kira pukul 06.30 dan aku sedang menonton bersama adik sepupu.

“Kita ke Ragunan, yuk....”

“Ketemuan di sono....”

“Kapan?” Aku membalas pesan itu.

“Siang”

“Ketemuan jam 12.”

“Tapi aku berangkat jam 9.” Dia membalas pesan bertubi-tubi.

“Oh, iya! Dia kan lagi di Jakarta. Ikut, dah! Lagian juga ane belum pernah ke Ragunan.” Batinku.

Dua menit berselang...

“Eh, dari Lenteng Agung ke Ragunan naik mobil nomer berapa?” tanya Rasyid lagi di WhatsApp.

“Emboh. Aku juga jarang ke Jakarta.” Jawabku sekenanya.

Bagaimana aku tahu angkutan dari Lenteng Agung ke Ragunan?! Lha wong aku terbiasa bolak-balik Bogor-Jakarta dengan KRL Commuter Line[1].

“Ok. Bisa, ya?”

“Yo....bisa. Tapi agak siangan. Ane mau ngurus e-KTP dulu!” jawabku. Aku pun bergegas mandi dan pergi ke kantor kecamatan untuk mengurus e-KTP. Selama di kampus, aku malas pulang hanya untuk mengurusi e-KTP. Paling hanya diberi waktu empat-lima harian.

Setelah selesai dengan urusan e-KTP, aku pun kembali ke rumah. Aku segera berkemas untuk persiapan ke Ragunan. Minuman, jaket, kamera dan buku catatan. Aku memang berencana untuk merekam video selama di Ragunan. Syukur-syukur kalau bisa dijadikan vlog. Setelah semua barang-barang siap, aku memesan ojek daring ke Stasiun Bogor. Tiba di Stasiun Bogor, aku menerobos antrian yang ramai. Cuaca saat itu agak mendung jadi tidak terasa panas. Untungnya aku memegang kartu langganan KRL. Jadi aku tidak perlu lama-lama mengantri tiket. Aku segera masuk ke KRL dan mengambil tempat. Suasana pun menjadi semakin adem dengan AC di dalam kereta.

Saat aku duduk di kereta, aku segera mengabari Rasyid. “Aku udah di stasiun Bogor.” tulisku di Whatsapp. Kecurigaan mulai timbul di benakku. Koq tumben dia tidak langsung membalas. Pesanku dibaca pun tidak. Pesan WA-ku tertanda centang satu abu-abu yang berarti pesan terkirim dan belum sampai kepada penerima. Keningku mulai berkerut, ada apa ini? Aku melewati perjalanan di kereta siang itu dengan was-was. Akankah janjian kita batal? Atau mungkin ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi padanya.

Sekitar empat puluh lima menit perjalanan, aku pun tiba di stasiun Pasar Minggu, stasiun terdekat dengan kebun binatang Ragunan. Cukup 20 menit dengan angkutan umum, kamu akan tiba di Ragunan. Keluar stasiun, perutku mulai memberontak minta diisi. Memang, sejak berangkat dari Bogor, belum ada seteguk air pun yang masuk.  Di kereta pun kita dilarang untuk makan dan minum. Aku pun berjalan menyusuri jalan kecil di sisi stasiun. Warung makan pasti ramai apalagi di jam makan siang seperti ini. Setelah mengayunkan kaki sejauh kurang lebih dua ratus meter, aku menemukan sebuah warung tegal yang sedang ramai pembeli. Di etalase terpampang berbagai lauk pauk yang memanjakan lidah. Aku segera masuk menerobos kerumunan orang di sana. Setelah kenyang dengan nasi ayam, aku membayar kepada pelayan dan beranjak dari warung.

Kenyang sudah dirasa, sekarang waktunya shalat. Kulihat ternyata ada masjid di sebelah warteg. Aku pun melongok ke dalam masjid. Ternyata masjid itu ditutup. Wajar saja, waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Beberapa masjid ditutup ketika shalat berjamaah selesai. Ya sudahlah, aku harus menyeberang ke Pasar Minggu untuk melaksanakan shalat Dzuhur. Aku yakin pasar sebesar Pasar Minggu pasti memiliki fasilitas mushala.

Aku pun menyeberangi jalan ke Pasar Minggu. Perjalanan aku lanjutkan hingga ke terminal Pasar Minggu. Setelah sampai di terminal, HP-ku berbunyi lagi. Begitu kubuka, ternyata Rasyid mengirimiku pesan lagi.

“Di sini macet. Besok aja, ya! Udah kesorean.” Begitu pesan yang dia kirimkan.

 Aku sangat kesal. Sia-sia sudah perjalananku ke Jakarta kalau batal. “Ane udah di Jakarta malahan. Ente emang di mana?”

“Blok M. Lagi di bus Citraraya.”

“Mau nginep nggak? Nginep aja di rumah om ku di Citraraya!”

Citraraya? Di mana lagi tuh? Setahuku di Jakarta tidak ada daerah bernama Citraraya. Bus kota pun tidak ada yang ke sana. Keningku semakin berkerut. Keringatku makin mengucur deras di tengah panasnya Pasar Minggu. 

“Citraraya...? Coba share lokasi atau screenshot posisi ente!” aku membalas pesannya.

Rasyid kemudian mengirim posisinya di WA.

“Ini posisi ane. Ente ke terminal Citraraya terus entar ane jemput. Oke?”

Ya Allah kenapa jadi begini? Rencanaku untuk membuat vlog gagal karena dia membatalkan agenda kita. Ah, daripada lama-lama mengeluh, lebih baik aku shalat Dzuhur dulu.

Setelah shalat Dzuhur, aku berbaring sejenak di mushala. Lelah sekali rasanya siang itu. Sudah panas, rencana buyar pula. Hampir aku memejamkan mata ingin tidur. Namun, belum pulas aku tidur, aku teringat sesuatu. “Oh,ya! Mending aku telepon saja dia!” aku membatin. Aku buka HP dan mencari nomornya di kontak. Segera aku telepon dia.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikumussalam!” suara Rasyid terdengar di ujung telepon.

“Halo, ini Rasyid?” tanyaku.

“Iya. Ada apa?”

“Gini, bro! Daripada aku jauh-jauh ke sini gak ada faedahnya, mending kau pastikan bagaimana enaknya! Aku sudah di Jakarta kau malah bilang tak jadi. Sudah panas, tak jadi pula!” ujarku hampir membentak. Tanpa sadar, aku sedikit mengeluarkan logat Batak. Bukan karena aku orang Medan, tapi aku banyak kenal dengan teman-teman dari Medan yang ketika berbicara intonasi mereka selalu menanjak. Jadi ketika aku mengobrol dengan mereka, aku kadang-kadang mernirukan aksen bicara mereka. Aku menutup pembicaraan di telepon tanpa menunggu jawabannya saking kesalnya.

Tak lama berselang, datang pesan WA dari nomor lain yang belum kukenal.

“Ini Rasyid. Aku chat pakai nomor ayahku” begitulah tulisan di pesan WA. Kulihat foto profilnya adalah seorang laki-laki paruh baya. Usianya kira-kira 40-50 tahun.

“Oke....Aku masih di Pasar Minggu. Naik apa ke sana?”

“Naik aja bus patas Citra Raya! Satu-satunya bus Cuma itu.”

Bus Citra Raya? Mana ada di terminal Pasar Minggu? Aku semakin sangsi. Jangan-jangan Citra Raya sudah di luar Jakarta. Segera aku buka Google Map. Ternyata benar, Citra Raya terletak di Tangerang. Rasanya ingin aku menghujatnya karena dia tidak mengatakannya kepadaku secara terang-terangan kalau tumah pamannya di Tangerang. Aku pun bertanya kepadanya.

“Jadi, ente di Tangerang?”

“Yups! Aslinya aku mau ke Ragunan. Ternyata macet di jalan.” Rasyid menjawab.

“Kalau mau, ente nginep aja!” ujarnya menawarkan.

Aku pun semakin geram. Aku tidak punya rencana untuk menginap ke rumah siapapun. Persiapan aku pun bukan untuk menginap di mana-mana. Uangku saat itu juga pas-pasan, tidak cukup untuk perjalanan lebih lama dan lebih jauh. Mau minta ke orang tua juga gak enak. Tapi, di satu sisi,aku juga tidak keberatan kalau harus ke sana. Kapan lagi bisa jalan-jalan jauh, menginap pula?! Makan dan transportasi di sana pasti dijamin. Toh, tuan rumah sudah menjamin itu.

Dilema berkecamuk dalam diriku. Aku pun mondar mandir kebingungan. Mana yang aku pilih? Pulang atau melanjutkan perjalanan? Lelah mondar-mandir, aku terduduk di ruang tunggu terminal. Tiba-tiba, seseorang memanggilku.

“Dek, kenapa mondar-mandir gitu?” tanya seorang bapak di belakangku.

Sontak aku pun terkejut. “Pak, saya mau ke Tangerang. Tapi bingung naik apa.” Jawabku.

“Oalah, nanya dong dari tadi!” ujar bapak itu.  Dia duduk di loket sebuah bus. Jaraknya sekitar lima meter dari tempatku duduk. Penampilannya mengingatkanku pada Dono "Warkop DKI". Ia mengenakan kemeja coklat berkantong empat. Rambutnya agak keriting dengan kacamata menghiasi wajahnya. Dia mengenakan seragam putih bertuliskan “Ragam Indah”. Mungkin dia agen tiket bus tersebut.

“Kalau mau ke Tangerang, dek, naik aja Arta Murni! Terus turun di Lebak Bulus.” Lanjutnya

“Ooo...gitu, pak. Makasih, pak!” aku berterima kasih kemudian beranjak dari tempat duduk. Dia pun tak membalas terima kasihku dan langsung menoleh kepada calon penumpang di sampingnya.

Aku kemudian membuka Google Map untuk mengetahui jarak dan waktu tempuh ke tempat Rasyid secara rinci. Ternyata, jarak dari Pasar Minggu ke Citra Raya memakan waktu hingga 5 jam. Itu pun kalau tidak macet. Waduh, bisa-bisa aku sampai sana ketika Maghrib. Masa aku bertamu di rumah orang di waktu Maghrib? Tidak etis tentunya.

“Sudahlah, daripada berlama-lama aku di sana tanpa ada kejelasan, lebih baik ke stasiun dulu. Nanti aku putuskan di sana” aku membatin.

Aku segera beranjak dari tempat duduk menuju stasiun Pasar Minggu. Aku masih menggerutu mengapa harus di-cancel mendadak begini. Teriknya Jakarta membuat emosiku memuncak. Untuk menahan emosi, aku beristighfar dan berdoa di jalanan semoga Allah memberi jalan yang lebih baik, entah pulang atau menemui teman yang lain atau lainnya. Begitu tiba di stasiun, tiba-tiba HP-ku berbunyi lagi. Aku pun membukanya. Ternyata ada pesan masuk di WA-ku namun dari orang lain.

“Ente ada di rumah, gak?”

“Besok bisa jemput ane, kan?”

“Entar ane kabarin lagi kapan nyampe. Ane masih di Jogja nih. Okey?”

Itu adalah pesan dari Kevin, teman sekelas Rasyid yang kebetulan dekat denganku juga. Dia adalah anak Medan yang kebetulan tidak pulang karena terlalu jauh. Travelling adalah hobinya. Langsung saja aku tersenyum sumringah. Bagaimana tidak senang, dari kejadian menyesakkan tadi, tiba-tiba ada seorang ingin bertamu ke rumah. Temanku memang hampir tidak ada yang bertamu ke rumahku karena aku sering berpindah rumah. Maka kedatangannya pun rasanya menjadi angin segar. Selagi itu, pasti ada waktu untuk jalan-jalan keliling Bogor dan tidak lagi sendirian.

Langsung saja aku masuk peron stasiun Pasar Minggu menunggu KRL ke Bogor. Begitu kereta tiba, aku langsung mengambil tempat di dekat pintu. Kereta saat itu sudah mulai penuh sehingga aku harus berdiri. Tak lupa aku kabari Rasyid kalau aku tak jadi menginap ke rumahnya.

“Bro, sorry! Aku tak jadi ke rumahmu. Kevin mau datang besok ke rumah.” Tulisku di WA.

“Oh, ya. Sorry kalau merepotkan.” Rasyid membalas.

Begitulah Allah menunjukkan jalan takdir-Nya kepadaku. Janjianku dengan Rasyid batal, tetapi Kevin langsung ingin bertamu ke rumah. Aku mulai menyusun rencana jalan-jalan bersama Kevin di perjalanan pulang. Aku juga sempat mengabadikan suasana kereta yang super sibuk dan di siang itu. Tiba di stasiun Bogor, aku segera mengambil air wudhu dan shalat ashar

Apapun masalah yang kita hadapi, tetaplah optimis dan yakin bahwa kita akan mendapatkan solusi. Janganlah berputus asa lantaran masalah tersebut. Segala masalah pasti ada solusinya jika kita mau berdoa dan berusaha.
Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 87:
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّـهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّـهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ ﴿٨٧﴾
Artinya: Wahai anakku, pergilah, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (Yusuf:87).
Maka, sebagai hamba Allah, kita sepantasnya tidak berputus asa ketika menghadapi masalah. Tetaplah yakin bahwa kita akan mendapatkan solusinya. Kita harus selalu berusaha sampai mendapatkan solusinya. Kita juga berdoa agar Allah memberikan solusinya. Tetaplah berusaha, kawan!




[1] Kereta rel listrik untuk daerah Jabodetabek.

1 Comments:

Menikmati Wisata Historis di Lawang Sewu Semarang

3/18/2017 10:46:00 am Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments

Lawang Sewu adalah salah satu objek wisata di kota Semarang, Jawa Tengah. Ia terletak di kawasan Tugu Muda jl. Pemuda. Di sekitarnya berdiri berbagai bangungan megah seperti  gedung Pandanaran (kantor pemkot Semarang) Wisma Perdamaian (kantor pemprov Jateng), Museum Mandala Bhakti, dan Universitas Dian Nuswantoro. Dahulu, Lawang Sewu merupakan kantor perusahaan kereta api swasta Hindia belanda Het Hoofdkantoor Nederlandsch-Indiseche Spoorweg Maatschappij (NIS).

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Lawang Sewu merupakan kantor pusat perusahaan kereta api swasta milik Hindia Belanda. Perusahaan ini melayani rute Semarang-Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta). Gedung ini dirancang oleh arsitek Belanda Prof Jacob F. Klinkhamer dan B. J Quendag. Pembangunan gedung ini dimulai pada tanggal 27 Februari 1904 dan selesai pada bulan Juli 1907. Gedung ini dipergunakan sebagai markas NIS. Di zaman penjajahan Jepang. Lawang Sewu dijadikan kantor Riuku Sokyuku (Jawatan Transportasi Jepang) sejak 1942-1945. Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Lawang Sewu menjadi kantor DKRI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia). Di masa agresi militer Belanda tahun 1946, Lawang Sewu digunakan sebagai markas militer Belanda. Setelah agresi militer, Lawang Sewu digunakan oleh Kodam IV Diponegoro sampai 1994. Kemudian, gedung ini diserahkan kepada Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka, sekarang menjadi PT KAI). Hingga saat ini, Lawang Sewu menjadi cagar wisata di bawah pengelolaan PT KAI.

Setelah dikelola PT KAI, Lawang Sewu berbenah dengan mengalami berbagi pemugaran. Renovasi dimulai pada 2009. Selama renovasi, Lawang Sewu ditutup untuk umum. Renovasi pun rampung pada tahun pada akhir Juni 2011. Lawang Sewu dibuka kembali pada tanggal 5 Juli 2011 oleh ibu Ani Yudhoyono. Pembukaan Lawang Sewu dilanjutkan dengan Pameran Kriya Unggulan Nusantara yang menampilkan produk unggulan daerah-daerah. Menurut kabar yang beredar, selain untuk memepercantik kembali Lawang Sewu yang lama usang, renovasi juga bertujuan menghilangkan nuansa mistis nan horor di gedung ini. Percaya atau tidak?

Lawang Sewu memiliki tiga lantai. Di samping gedung terdapat beberapa gedung kecil untuk gudang, ruang merokok dll. Selain itu, terdapat pula replika lokomotif kereta api peninggalan Hindia Belanda dengan ukuran yang sedikit diperkecil dibandingkan dengan barang aslinya. Gedung ini juga dilengkapi dengan fasilitas musholla, area merokok, toko souvenir, dan perpustakaan.

Untuk masuk Lawang Sewu, kita dikenakan tiket yang terhitung standar. Untuk orang dewasa, kita perlu membayar Rp 10.000,00. Sedangkan anak-anak dan pelajar harus membayar Rp 5.000,00. Setelah kita membayar tiket, lagi-lagi kita harus melewati penjaga yang memeriksa karcis kita.

Setelah lepas dari gerbang pemeriksaan, kita disambuat oleh lapangan luas yang dinaungi oleh pohon mangga. Tempat ini terasa adem karena pohon mangga besar yang menutupi sebagian wilayah pekarangan. Di sini, banyak pengunjung yang memanfaatkan tempat ini untuk foto bareng atau mengambil gambar gedung. Memang, tempat ini sangat cocok untuk melepas lelah setelah berkeliling. Selain luas, tempat ini sangat sejuk.

Di bawah pohon mangga, kita dapat menyaksikan kumpulan musisi yang duduk di kursi menyanyikan lagu-lagu keroncong. Mayoritas pemain musik adalah bapak-bapak dengan usia 40-50an tahun. Mereka menyambut pengunjung dengan sangat ramah juga tak jarang mengajak pengunjung untuk bernyanyi  dan berfoto bersama. Sebenarnya, kita bisa memberikan sedikit uang untuk mereka di kotak kecil di depan mereka. Namun, sayang sekali, saya tak sempat untuk memberikan. Semoga bisa bertemu lagi di kesempatan lain ya, pak!

Berbelok sedikit ke kanan, kita akan masuk ke ruang informasi tentang renovasi gedung ini. Berbagai material yang digunakan selama renovasi dipamerkan dalam ruangan ini. Pasir, batu kapur, dan semen dan batuan-batuan lain dimasukkan dalam akuarium. Kata seorang teman, memamerkan pasir, batu dll ada gunanya. Lagian, di depan rumah sendiri banyak pasir, kerikil, tanah dll. Eit, tunggu dulu! Tidak hanya gundukan pasir, dokumentasi foto-foto renovasi juga dipajang di sini. Tidak melulu soal renovasi, ada juga peralatan kereta api zaman dahulu dipamerkan di ruangan ini seperti tuas lokomotif.

Memasuki bangunan utama, kita berjumpa dengan bangunan dengan banyak pintu. Itulah mengapa gedung ini dinamakan Lawang Sewu. Dinamakan demikian saking banyaknya pintu yang ada. Sebenarnya, jumlah pintu di sini sebanyak 429 buah dengan daun pintu lebih dari 1200 pintu. Mau yang lebih banyak pintunya? Naiklah ke lantai 2! Kita akan menemukan banyak sekali pintu yang tak berdaun pintu. Tempat ini sangat cocok untuk berfoto narsis karena tepatnya yang unik, memiliki banyak daun pintu. Gak cuma di lorongnya, segala penjuru di Lawang Sewu instagrammable, bro! Mau ambil foto di manapun hasilnya tentu memuaskan. Arsitektur Eropa klasiknya yang membuat Lawang Sewu unik dan cocok untuk objek fotografi. Dijamin, teman-teman fotografer tidak akan kecewa mengambil gambar di sini.
Suasana teras Lawang Sewu. Cocok untuk fotografi

Ruang informasi seputar renovasi Lawang Sewu

Tuas lokomotif yang dipamerkan dalam ruang informasi renovasi

Ruangan informasi tentang renovasi Lawang Sewu

Saya serasa menjadi masinis lokomotif ini

Teras Lawang Sewu difoto dari salah satu lorong terbuka

Lelah berjalan-jalan, saatnya belanja souvenir! Lapak souvenir terletak di gedung utama lantai 1. Cinderamata yang dijajakan di sini adalah gantungan kunci, hiasan kulkas, dan kaos. Saya sendiri membeli dua gantungan kunci logam masing-masing Rp 25.000,00. Teman saya, Adi Mustofa, sampai memborong gantungan kunci karet seharga kira-kira Rp 10.000,00- 15.000,00.

Oh, ya! Saya punya beberapa info tentang kunjungan ke Lawang Sewu. Lawang Sewu buka setiap hari dari jam 07.00-21.00. Tidak sulit untuk mencari tempat ini. Ia persis di depan Tugu Muda, ikon kota Semarang. Namun, hal tersulit bagi saya dalam perjalanan ke Lawang Sewu adalah mencari lokasi parkir. Lawang Sewu tidak memiliki lahan parkir yang memadai. Apabila hendak parkir, kalian harus memarkirkan kendaraan di Museum Mandala Bhakti yang terletak di sisi lain bundara Tugu Muda. Kami bahkan tersesat hingga ke Simpang Lima untuk mencari Museum Mandala Bhakti. Setelah parkir di Mandala Bhakti, tantangan lainnya adalah menyeberangi bundaran Tugu Muda apalagi di sore hari. Lalu lintas di kawasan ini sangat padat mengingat waktu sore adalah waktu pulang kerja. Kalian harus menunggu lama untuk menyebarang di jalan kosong atau menunggu lampu merah dari berbagai arah. Terakhir, di sekitar Lawang Sewu banyak pedagang kaki lima mangkal sampai di Jl. Inspeksi yang bersebelahan tepat dengannya. Jadi, jika kalian lapar setelah berkeliling Lawang Sewu, kalian dapat menikmati jajanan di sini.

Lawang Sewu merupakan salah satu dari sekian banyak cagar budaya di Indonesia. Sudah selayaknya kita sebagai bangsa Indonesia menikmati wisata sejarah. Menikmati wisata sejarah adalah wujud kita mempelajari sejarah negeri ini. Tidak hanya mengunjunginya, warisan sejarah ini juga harus kita jaga bersama agar anak cucu kita kelak dapat menikmatinya.

Mungkin cukup sekian catatan perjalanan saya di Lawang Sewu. Tulisan ini adalah murni dari apa yang saya dapatkan selama wisata di Lawang Sewu. Jalan-jalan saya tidak terlalu panjang karena saya tak akan mampu berkompromi dengan sang waktu. Masih banyak yang harus dikunjungi di sini. Selamat menikmati perjalanan di Lawang Sewu! Semoga perjalanan kalian selanjutnya berkesan!

Bahan pendukung:
Lawang Sewu Semarang - Seputarsemarang.com

0 Comments:

Menikmati Musiknya Hidup Kamu dengan LangitMusik

3/14/2017 07:03:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments

Dalam keseharian, sering kita menjadikan musik penghibur kita. alunan nada indah dan liriknya yang mengandung makna yang dalam membuat kita tak bisa lepas dari musik. Lagu-lagu dengan berbagai genre pun telah banyak beredar di pasaran musik.

Berbagai musisi pun telah menyajikan berbagai lagu-lagu untuk menyapa dan menghibur para penggemar setia. Selain dengan meluncurkan lagu-lagu, mereka juga mengadakan konser dan ikut dalam berbagai agenda. Tak lain tujuannya adalah untuk mengenalkan lagu mereka kepada semua orang.

Musik yang kita nikmati pun sudah semakin beragam. Kita sekarang tergiur dengan musik-musik yang cocok dengan suasana hati kita. Ada musik yang membuat kita semangat seperti hip-hop dan R&B. Musik yang demikian dapat memacu kita untuk bekerja lebih semangat. Kalau kita sedang mengerjakan tugas kuliah sambil mendengarkan musik, kita seperti tak mau berhenti mengerjakannya walaupun sudah larut malam (Ini pengalaman saya, hehehehe...)

Selain membuat semangat, ada pula musik yang membuat kita rileks. Dianjurkan untuk menemani momen istirahat anda dengan musik-musik yang menenangkan. Musik akan menstimulus diri kita sehingga akan beristirahat dengan tenang. Jika kita mendengarkan musik favorit saat istirahat, rehat kita serasa lebih mantap.

Berbicara soal lagu favorit, ada beberapa lagu yang merupakan kesukaan saya. Lagu-lagu tersebut saya putar hampir setiap hari namun tak terasa bosan untuk memutarnya. Saya menyukai lagu-lagu ini karena musiknya yang indah dan ada pesan dalam yang terkandung dalam liriknya. Salah satunya adalah Andai Kau Datang Kembali. Lagu ini awalnya dinyanyikan oleh Koes Plus pada 1970-an. Kemudian, lagu ini di-cover oleh musisi-musisi ternama, mulai dari Ruth Sahanaya sampai yang terakhir adalah Noah. Dilihat dari liriknya, lagu ini mengggambarkan pertemuan kembali antara dua orang kekasih. Namun, artinya lebih dari itu. Menurut Yok Koeswoyo, personil Koes Plus, maksud lagu ini adalah bagaimana seseorang hamba diminta pertanggungjawaban oleh Allah Sang Pencipta atas perbuatannya di dunia. Biar afdhol dan tidak ada hoax di antara kita, saya tunjukkan video penjelasan beliau.


Sebenarnya, masih banyak lagu-lagu kesukaan saya. Akan sangat panjang kalau saya deskripsikan satu-persatu dan kalian juga akan bosan membaca tulisan ini. Kalau mau tahu lagu favorit saya laebih banyak, silakan chat pribadi saja, ya....

Selain menghibur diri, mendengarkan musik adalah bentuk apresiasi kita terhadap para musisi. Seluruh musisi telah mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk memberikan lagu berkualitas untuk para penggemarnya. Ada kepuasan tersendiri saat mereka berhasil menciptakan lagu dan membuat fans puas dengan karya mereka.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menghargai karya mereka? Tentunya dengan menikmati musik mereka. banyak bertebaran situs-situs penyedia lagu gratisan. Tapi, hati-hati! Biasanya situs seperti ini menyediakan lagu-lagu gratis namun tak bisa dijamin orisinalitasnya. Kalau mau musik yang dijamin kualitasnya, kita harus merogoh kocek agak dalam untuk membelinya lewat CD atau beli online di internet.
Yah, harus kelur duit! Padahal aku nge-fans banget lho sama si dia! Aku pengen banget nikmatin lagunya tiap hari. Ada gak sih yang ngasih lagu ori berkualitas tapi gak harus bayar?
Tenang aja, gan! Sekarang kita bisa menikmati musik gak pake mahal. Tak usah lagi beli kaset dan CD atau menonton konser penyanyi kesayangan kita! Sekarang sudah banyak, koq situs atau aplikasi yang menyediakan layanan musik gratis tapi resmi. Salah satunya LangitMusik.

LangitMusik adalah aplikasi penyedia layanan musik hasil kerjasama Telkomsel dan PT. MelOn Indonesia. Aplikasi LangitMusik memiliki pengguna kurang lebih 6 juta. Langitmusik memberikan layanan streaming musik dan bisa disetel secara luring (luar jaringan, offline) dengan mengunduhnya. Satu lagi, LangitMusik aplikasi buatan anak negeri, lho! Jadi, makin bangga menggunakan LangitMusik.

LangitMusik bisa diunduh melalui Google Play Store dan App Store. LangitMusik saat ini berada dalam versi 4.0.3. Untuk pengguna Android, LangitMusik tersedia untuk Android versi 4.4 ke atas. Untuk mendengarkan lagu dengan streaming, LangitMusik bebas kuota untuk pelanggan Telkomsel dan di jaringan Telkomsel. 
Inilah tampilan awal LangitMusik
Beginilah tampilan saat musik kesayangan diputar. Sudah ada liriknya, lho...

Tampilan LangitMusik sangat ramah dan futuristik. Begitu kita membukanya, kita disambut dengan pilihan lagu dan playlist. Ada dua menu yang bisa kita pilih, For You dan Browse. Menu For You kira-kira berisi lagu-lagu yang direkomendasikan untuk kita. Kalau Browse, isinya lagu-lagu baru (New Release) dan daftar putar yang bisa kita pilih. Ada pula pilihan menu lain di sidebar, seperti TagStation, Trending, My Music dll.

LangitMusik menawarkan para pelanggannya akun premium. Fasilitas yang akan kita dapatkan kalau memiliki akun premium adalah kita bisa mengunduh lagu-lagu untuk diputar secara offline. Lagu-lagu yang telah diunduh dapat kita putar meskipun data dinonaktifkan. Untuk mendapatkan akun premium ini, kita perlu membayar Rp 6600,00 untuk akses premium selama 7 hari dan Rp 22.000,00/30 hari.

Apa aja, sih fiturnya?

LangitMusik mempunyai nenerapa fitur andalan. Di antaranya:
  1. Trending. LangitMusik memiliki fitur trending. Dengan fitur ini, kita bisa mendengarkan lagu-lagu yang nge-tren di provinsi manapun di Indonesia. Mau tahu lagu yang lagi trend di Jawa Timur? Cukup sentuh lingkaran yang di peta dan lagu-lagu yang lagi trend akan muncul.
  2.  Playlist. Inilah fitur favorit saya. dengan fitur ini, kita bisa mendengarkan lagu-lagu yang sesuai dengan mood kita. Ingin istirahat sejenak selepas kuliah? Coba pilih playlist Take A Nap!
  3. My Music. Dengan fitur ini, kita bisa melacak musik yang baru saja kita putar dan lagu yang paling sering diputar. Kita juga bisa membuat playlist sendiri di sini.
  4. Tag Station. Satu lagi fitur yang bisa kita gunakan. Fitur ini hampir sama dengan playlist yang disediakan di awal menu. Perbedaannya adalah lagu-lagu di dalamnya “tersembunyi” sehingga kita harus klik playlist yang kita mau.
  5.  Notifications. Dalam fitur ini, kita tahu info-info terbaru seputar aplikasi ini dan dunia musik.
  6. Follow. Fitur ini tersedia agar kita mendengarkan artis atau playlist favorit kita dengan mudah.

LangitMusik mempunyai beberapa kelebihan. Di antaranya:
  1.   LangitMusik merupakan aplikasi asli Indonesia. MelOn Indonesia selaku developer aplikasi ini adalah member dari Telkom.Dari segi kualitas, Langitmusik tidak kalah dengan aplikasi pemutar musik lainnya
  2. LangitMusik menyajikan semua lagu secara cuma-cuma. Tidak usah membayar dengan pulsa jika ingin lagu kesayangan secara streaming.
  3.  Semua lagu sudah tersedia liriknya. Jadi, tak perlu lagi menggeser layar untuk bernyanyi menikmati musik.
  4.   Banyak playlist tersedia. Tinggal pilih, nih! Mau menikmati lagu artis favorit atau yang sesuai mood? semua ada di sini.

Namun, tak ada gading yang tak retak. LangitMusik pun memiliki beberapa kekurangan. Dua kekurangan terbesar menurut saya adalah:
  1. Tidak tersedia fitur pemutar lagu di notification bar ponsel kita. Hal ini kan menyulitkan kita kalau layar ponsel terkunci atau ponsel dalam posisi home screen. Kita harus membuka aplikasi ini kalau mau mengganti lagu.
  2. Akun LangitMusik hanya bagi pengguna Telkomsel. Selain pengguna Telkomsel, mohon maaf, ya! Karena aplikasi ini hasil kerjasama MelOn dengan Telkomsel, maka aplikasi ini hanya mampu digunakan dengan Telkomsel.

Mungkin cukup di sini penjelasan saya tentang LangitMusik. Jadi, tunggu apa lagi? Segera pasang langitmusik di hapemu dan nikmati jutaan musik resmi tanpa batas!

Untuk mengunduh aplikasi LangitMusik, silakan unduh di sini!



0 Comments:

Riaubook.com, Media Informasi dari Riau untuk Dunia

3/02/2017 05:40:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments

source: www.riaubook.com

Tahun 2016 lalu, saya bersama teman-teman HI UNIDA Gontor bertandang ke Riau untuk menghadiri Pertemuan Sela Nasional Mahasiswa hubungan Internasional se-Indonesia (PSNMHII) di Universitas Riau. Agenda itu juga merupakan perjalanan pertama saya ke Negeri Lancang Kuning.  Saya selalu menerima sambutan ramah dari panitia dan warga Pekanbaru selama berada di sana. Tak hanya mengunjungi Pekanbaru, saya juga mengunjungi Kampar dan Siak serta bertemu bupati kedua kabupaten tersebut. Selama perjalanan, saya menikmati betul kebudayaan Melayu yang tersaji, mulai dari makanan, tarian, hingga tempat wisata.
Bersama teman-teman HI UNIDA di depan Istana Siak

Saya ingin sekali berkunjung kembali ke Riau. Terasa sangat kurang acara PSNMHII selama seminggu. Saya merasa belum puas karena masih banyak tempat yang belum saya singgahi. Masjid Agung An-Nur, Stadion Utama Riau, dan Mal SKA termasuk dari tempat-tempat yang belum saya singgahi.

Saya juga ingin berjumpa  kembali dengan bupati Kampar Bapak Jefry Noer di perkebunan miliknya. Beliau saat itu memaparkan program bertani cabai di rumah. Hmm, bisa jadi contoh buat masyarakat Indonesia untuk mengelola perkebunan di rumah sendiri.

Untuk mengobati rasa rindu saya kepada Riau, saya pun membuka berita-berita internet tentang Riau. Salah satu yang menyorot perhatian saya adalah www.riaubook.com. Media online ini merupakan media online lokal asli Riau. Media ini selalu menginformasikan apa saja yang terjadi di Riau. Dengan tagar "Pustaka Riau untuk Dunia", riaubook.com menjadi pustaka, sumber informasi, dan pengetahuan bagi rakyat Riau hingga dunia. Tak hanya tentang Riau, riaubook.com juga menyajikan berita nasional dan internasional. riaubook.com menyampaikan berita dari berbagai bidang, seperti politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, olahraga.

Berita di dalam riaubook.com menurut saya informatif dan ringan. Meskipun berita bertopik politik, riaupos.com mampu menyajikannya dan mengemasnya secara apik sehingga pembaca lebih mudah mencerna informasi. Ada juga berita-berita ringan seperti agenda Riau, wisata dan gaya hidup. Kabar agenda Riau tentunya dapar menjadi sarana untuk promosi wisata Riau kepada masyarakat. Salah satu berita tentang agenda kebudayaan Riau adalah Mari Bergoyang Slow, Bono Jazz Bakal Manggung di GOR Tribuana Pekanbaru 5 Maret 

 Judul berita yang disajikan spektakuler  seperti “Indonesia kini Unggul Dibanding Malaysia, Ini Barometernya.”  Dalam media online saat ini, judul berita seperti ini identik dengan berita hoax. Namun, riaubook.com  mampu menyulap pembaca dengan judul yang "wah" berpadu dengan data akurat di dalam berita sehingga jauh dari hoax. Tentunya saya mengapresiasi hal ini sebagai langkah memerangi hoax.

Saya berharap di ulang tahun riaubook.com yang kedua. Semoga riaubook.com sebagai media aspirasi rakyat Riau mampu menyuarakan kebenaran di saat perang media semakin panas. Saya optimis riaubook.com selalu terdepan dalam menyampaikan informasi terkait Riau bagi masyarakat Indonesia. Riaubook.com juga menjadi media promosi kebudayaan Riau kepada dunia.  Selamat ulang tahun riaubook.com! Mudah-mudahan semakin maju dan sukses!




0 Comments: