Alhamdulillah, Khutbatul 'Arsy Perdana di UNIDA Gontor Dilaksanakan

8/31/2017 06:53:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Untuk pertama kalinya, Pekan Perkenalan Khutbatul 'Arsy di UNIDA Gontor dilaksanakan. Pekan perkenalan dimulai dengan Apel Tahunan yang berlangsung pada 15 Agustus 2017 di Depan Gedung Utama UNIDA Gontor. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Kuliah Umum tentang Kepondokmodernan Gontor. Kuliah umum diisi oleh KH. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., rektor UNIDA Gontor, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A, Dr. KH. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A, dan Dr. H. Dihyatun Masqon, M.A.

Bagi yang belum tahu apa itu Khutbatul 'Arsy, saya jelaskan secara singkat di sini. Khutbatul 'Arsy adalah masa perkenalan yang diadakan oleh Pondok Modern Gontor. Khutbatul 'Arsy secara harfiah berasal dari bahasa Arab, Khutbah dan 'Arsy, khutbah artinya pidato dan arsy artinya singgasana. Maksudnya, khutbatul arsy merupakan pidato yang disampaikan oleh raja di atas singgasana kepada para rakyatnya. Sang Raja menyampaikan norma-norma dan aturan hidup dalam kerajaan tersebut kepada rakyatnya setiap tahun. Jika dianalogikan, Khutbatul 'Arsy merupakan pidato yang disampaikan pimpinan pondok kepada santri-santrinya mengenai nilai dan filsafat hidup pondok setiap tahun. Tidak hanya pidato, Khutbatul 'Arsy juga merupakan sebuah kontrak, pengikatan kesepakatan dengan siswa baru dan perpanjangan kesepakatan dengan siswa lama untuk taat kepada norma dan sunnah pondok. Semakin zaman berkembang, agenda Khutbatul 'Arsy semakin bertambah, seperti lomba perkemahan antar pondok pesantren, Porseni, Panggung Gembira dsb. Pondok-pondok cabang akhirnya juga harus melaksanakannya kemudian diikuti oleh pondok pesantren alumni Gontor. Kemudian, UNIDA Gontor pun melaksanakannya.

Masa persiapann Khutbatul 'Arsy ada sekitar sebulan terhitung dari pertengahan Juli lalu. Persiapan termasuk latihan LKBB, gladi apel tahunan dan sebagainya. Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) pun sudah memiliki konsep matang, tinggal melatihnya.

Waktu itu kami berharap agar mahasiswa mampu memaksimalkan potensi mereka dalam acara itu yang ditunjukkan dalam kepanitiaan, penampilan, dan Latihan Keterampilan Baris-berbaris (LKBB). UKM-UKM yang ada mampu menampilkan apa yang mereka latih selama ini. Mahasiswa dari berbagai daerah mampu mempertontonkan sajian menarik bagi para hadirin, panitia mampu all-out dalam menyiapkan acara yang melibatkan semua elemen kampus. Mahasiswa lainnya mampu menunjukkan diri serta menunjukkan sense of belonging akan program studinya dengan LKBB antar prodi yang dilombakan dan diberikan hadiah bagi pemenang.

Penampilan-penampilan yang sudah kami persiapkan waktu itu antara lain: Pencak Silat, Taekwondo, Panahan, dan tari Malulo dari Sulawesi Tenggara. Penampilan-penampilan tadi ditampilkan oleh mahasiswa anggota UKM Persatuan SIlat Mahasiswa Darussalam (Persimada) dan UNIDA Taekwondo CLub (UTC) yang baru berdiri tahun lalu. Mereka mahasiswa harus menampilkan aksi-aksi memukau di lapangan, bahkan Taekwondo yang baru berdiri sekalipun. Adapun penampilan tari Malulo adalah kesenian khas Sulawesi Tenggara yang ditampilkan oleh mahasiswa asal Indonesia Timur. Mereka sudah terbiasa menampilkan Tari Malulo di acara-acara penting UNIDA Gontor. Khutbatul 'Arsy inilah tantangan baru mereka karena mereka harus tampil di arena lebih luas dari panggung dan tamu yang luar biasa.

Namun, memasuki akhir Juli, tepatnya setelah Gladi Kotor II, hawa Khutbatul 'Arsy mulai hilang. Panitia mulai vakum dari persiapan. Mahasiswa tidak ada lagi yang mau mengikuti latihan baris berbaris. Apalagi Paskibra, mereka tidak mau latihan kalau teman-teman mahasiswa tidak berlatih. Hanya penampilan-penampilan yang berlatih intensif. Persimada berlatih siang dan malam di depan Gedung Utama Lama, sebelah timur lapangan bola. Taekwondo biasa berlatih di lobby Gedung Utama Baru. Yang lainnya? Nihil. Teman saya, Meichio Lesmana, yang menjadi ketua panitia, sampai curhat ke Ust. Hifni Nasif, ketua pelaksana KA. "Ustad, gimana, nih? prodi-prodi masih ada kuliah siang. Gimana kita mau latihan?" curhatnya kepada Ust. Hifni. Memang, beberapa program studi masih mengadakan kuliah di siang hari yang merupakan jadwal latihan LKBB. Padahal, Khutbatul 'Arsy merupakan agenda besar kampus yang seharusnya menjadi prioritas dari agenda lain. Panitia pun pernah membubarkan perfotoan Kartu Tanda Anggota (KTA) perpustakaan di siang hari karena mengganggu jadwal latihan LKBB.

Lima hari menjelang Apel Tahunan, saya mengikuti juga rapat koordinasi bersama rektor UNIDA Gontor dan jajaran fungsionaris. Beberapa hal yang disepakati adalah:
  1.  Undangan kepada dosen harus segera disebarkan.
  2. Dosen luar biasa harus segera diberitahukan
  3. Rentetan acara apel tahunan dan kuliah umum harus fix
  4. Mahasiswa tidak boleh terlambat mengikuti acara ini.
  5. Publikasi harus gencar (banner, umbul-umbul dll)
Ada satu lagi hal penting waktu itu. Bapak rektor request penampilan lagi, Campursari, Topeng Ireng dan Sajojo. Lagi-lagi panitia harus putar otak menyiapkan semuanya.

Setelah rapat tersebut, semua pihak menggenjot persiapan. Peserta latihan semakin intensif berlatih dan mereka menggelar gladi setiap malam. Panitia juga semakin mempersiapkan dengan ngebut. Ada yang mencetak buku pintar, mengantarkan undangan, menyiapkan lapangan upacara, memasang baleho, dan menyiapkan konsumsi latihan serta pekerja lapangan. Kami pun sampai begadang untuk menyiapkan semuanya. Semua kami lakukan demi kesuksesan acara.

Waktu apel tahunan pun tiba. Saya yang waktu itu kurang tidur harus menyiapkan acara. Tidak banyak yang saya lakukan di hari H, hanya membagikan buku pintar kepada tamu undangan. Untungnya, bagian konsumsi turut membantu. Pekerjaan saya pun agak ringan.




Tepat pukul 06.55, Apel tahunan dimulai. Pimpinan Pondok beserta jajaran Rektor dan wakilnya menempati kursi VVIP. Tamu undangan sudah berada di tempatnya. Tatkala komandan upacara menyiapkan, "Siap, grak!" para hadirin pun khidmat mengikuti dan barisan mahasiswa mengikuti upacara dengan khidmat pula.

Semua rangkaian Apel Tahunan pun berjalan dengan lancar. Meskipun terjadi insiden bendera, dengan sigap Paskibra memperbaikinya. Penampilan tampil prima. Marching Band Gema Nada Darussalam (MBGND) yang sengaja didatangkan dari Gontor pun tampil luar biasa hari itu. Reog Ponorogo pun turut tampil mantap. Pencak Silat beraksi dengan berani. Penampilan lainnya pun tampil sempurna, bahkan Campursari dan Topeng Ireng sekalipun yang baru berlatih sekitar empat hari. Mereka menujukkan bahwa UNIDA Gontor ini penuh warna. Mereka datang dari penjuru negeri untuk menuntut belajar ilmu-ilmu Islam. Keragaman inilah yang menciptakan kebhinekaan yang hakiki, di mana semua etnis berkumpul dan bersatu dalam satu bingkai, bingkai agama Islam dan kepesantrenan.
 LKBB mahasiswa berjalan lancar. Para mahasiswa berbaris rapi, tegas, mantap, dan militan. Mereka berjalan layaknya parade barisan dalam upacara Hari Jadi TNI. Rasanya, saya sendiri tidak mampu membandingkan keduanya karena keduanya sama-sama hebat. Mereka menunjukkan keseriusan mahasiswa UNIDA Gontor dalam menyambut acara ini. Keseriusan inilah yang semoga mampu mengiringi keseriusan mahasiswa dalam acara-acara kampus setahun berikutnya.

Kuliah Umum berlanjut setelah Apel Tahunan, KH. Hasan Abdullah Sahal mengisi Kuliah Umum Babak I. Beliau menyampaikan tentang nilai-nilai pondok yang harus tetap dijaga oleh selurh komponen UNIDA Gontor. Pemahamannya pun harus lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Rektor UNIDA Gontor, Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A pun ikut menyampaikan pidatonya. Beliau sampai terharu menyaksikan Apel Tahunan kali ini yang sangat luar biasa meskipun persiapannya mendadak. Beliau berpesan untuk selalu menjaga prinsip dalam segala sesuatu dengan tetap menjaga formalitas.  “Akademis oke non akademis juga oke, buktinya terlihat penampilan hari ini prima” ujar beliau dalam sambutannya.

Semoga agenda ini menjadi tolok ukur keseriusan mahasiswa UNIDA Gontor dalam menjalankan kesehariannya. Khutbatul 'Arsy semoga  dapat menyegarkan kembali pemahaman kita tentang nilai-nilai Islam dan kepesantrenan yang harus kita jaga. Sebagai mahasiswa santri, selayaknya kita menjadikan pesantren tidak hanya ladang menuntut ilmu, namun juga lapangan jihad dan norma kehidupan kini dan nanti. Amin.