Memahami Kemerdekaan

8/17/2017 04:29:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments

Hari ini, 17 Agustus 1945, Indonesia merayakan kemerdekaannya. Setelah lama merasakan pahit getirnya penjajahan, akhirnya Indonesia menikmati kemerdekaannya. Proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Presiden Sukarno menjadi tonggak awal Indonesia menyatakan diri sebagai negara berdaulat. Undang-undang Dasar 1945 yang diterbitkan kemudian hari semakin memperkuat identitas Indonesia sebagai negara berdaulat. Di pembukaan UUD 1945 baris pertama, tertulis, "Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan." Kemudian dilanjutkan dengan paragraf kedua yang berbunyi, "Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adildan makmur." 

Sebelum kita lebih jauh berbicara tentang bagaimana Indonesia merdeka, ada baiknya kita memahami apa itu kemerdekaan. Kemerdekaan atau menurut bahas populernya adalah kebebasan. Apa sih yang dimaksud dengan merdeka? Siapakah orang-orang merdeka? Bagaimana kemerdekaan itu ada?
Merdeka adalah bebas, bebas dari gangguan, bebas dari jajahan, dan bebas untuk melakukan sesuatu atau meninggalkannya. 

Pada hakikatnya, merdeka adalah bebas dari berbagai halangan dan gangguan. Gangguan ini dapat digolongkan ke dalam dua hal: Gangguan internal dan gangguan eksternal. Gangguan internal datang dari diri sendiri, sedangkan gangguan eksternal datang dari pihak lain.

Gangguan internal adalah gangguan atau halangan yang timbul dari diri kita sendiri. Sebagai manusia, kita pasti mempunyai perasaan dan keinginan. Di antara rasa tersebut adalah rasa takut dan rasa ingin memiliki. Meskipun padanannya kurang tepat secara bahasa (seharusnya lawan kata takut adalah berani, dan ingin adalah enggan), tapi keadaan inilah yang ada dari naluri manusia. Ingin kaya, taku miskin. Ingin sukses takut gagal dan lain sebagainya. Dua perasaan ini tentunya manusiawi yang kita tidak bisa lepas dari keduanya. Namun, jika kita selalu menuruti kedua hal ini, kita tidak akan bebas melakukan apapun. Mengapa begitu? Karena kita akan merasa tidak nyaman saat kita akan berbuat, lagi-lagi karena ingin sesuatu atau takut sesuatu. Ingin bekerja, takut capek. Ingin hujan-hujanan, takut sakit.

Gangguan eksternal adalah gangguan yang datang dari pihak luar. Gangguan bisa datang dari lingkungan rumah dan masyarakat. Mereka lah yang menganggu kebebasan kita untuk melakukan sesuatu. Bisa jadi karena tuntutan adat atau takut menganggu lingkungan. Tentunya, kebebasan kita akan sedikit dibatasi oleh lingkungan. Sesungguhnya, kebebasan manusia terbatasi oleh kebebasan orang lain.
[DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA 72] Salam Inspirator! Perjuangan bangsa kita saat ini bukan lagi dengan peperangan, bukan lagi dengan mengangkat senjata. Tapi perjuangan kita saat ini adalah dengan berprestasi. Berprestasi di bidang pendidikan, ataupun di bidang-bidang lainya. Sehingga dengan prestasi ini kita bisa membawa harum nama Indonesia. Masa depan sebuah bangsa ada pada pundak para pemudanya! Bahwa kita adalah bagian dari pemuda generasi millenial. Bangsa ini adalah tanggung jawab kita, amanat kita. Perjuangan kita akan lebih sulit, karena kita berjuang melawan bangsa sendiri. . "Perjalananku lebih mudah, karna melawan Penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karna melawan BANGSAMU sendiri." - Ir. Soekarno - Mari jadikanlah HUT RI yang ke-72 ini momentum untuk kebangkitan Indonesia. Kebangkitan bidang pendidikan, ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain. Terlebih untuk kebangkitan moral, pola pikir, sikap, prilaku, tata budaya, dan hal-hal lainya yang menuju kepada kepribadian individu masyarakat Indonesia. . Demi pribadi, agama, dan bangsa yang lebih maju. . 🇮🇩🇮🇩 DIRGAHAYU KE-72 INDONESIAKU . Menginspirasi untuk Kerja Bersama Dari UNIDA GONTOR untuk INDONESIA #UNIDAforIndonesia #UNIDAforRI INDPIRADA DEMA UNIDA 2017 Let's Inspire The World!
A post shared by Student Council - DEMA UNIDA (@sc_unidagontor) on
Lalu, bagaimana kemerdekaan yang hakiki?

Kemerdekaan berarti bebas dari segala macam ancaman. Merdeka berarti bebas untuk melakukan apapun tanpa rasa takut. Kita bebas karena tidak ada hal apapun yang mengintervensi kita. Kebebasan diri ini muncul saat kita merasa tidak ada penjajah atau pengganggu yang menghalangi kita. Segala halangan terhadap kebebasan adalah penjajahan. Penjajahan adalah pelanggaran terhadap kemanusiaan maka ia harus musnah.

Sumber dari segala kebebasan adalah tauhid, mengesakan Allah swt. Dengan percaya kepada Allah, kita akan merasa tenang tidak lagi merasa takut sesuatu. Keimanan kita kepada Allah memberikan kebebasan dari segala penghambaan selain Allah. Segala sesuatu bentuk penghambaan kepada selain Allah adalah perbudakan yang tidak menjadikan kita manusia yang bebas seutuhnya. Ketauhidan kita akan memerdekakan kita dari penghambaan selain Allah karena ia termasuk juga penjajahan.
Penghambaan kepada Allah memberikan kita kemerdekaan, kebebasan untuk berpikir dan melakukan segala sesuatu tanpa rasa takut. Kemerdekaan untuk berposisi sebagai apa yang kita inginkan.
Islam adalah agama yang memberikan kebebasan kepada segala ummatnya untuk berkarya di dalam bingkai tauhid dan syariah. Selama Islam memperluas wilayah, tidak ada kata penjajahan. Yang ada hanyalah istilah pembebasan (futuhat). Pembebasan dari penyembahan kepada makhluk kepada penyembahan Sang Khalik. Pembebasan dari perbudakan menuju kemerdekaan.

Semoga kita dapat memahami hakikat kemerdekaan. Dengan memahami kemerdekaan yang sesungguhnya, kita dapat melangsungkan hidup sebagai muslim yang bebas dan menjalankan kegiatan dengan bebas dan bertanggungjawab.

(Tulisan sederhana ini disadur dari ceramah Dr. Kholid Muslih, M.A. dengan tema yang sama pada hari Rabu, 16 Agustus 2017 ba'da maghrib di Masjid Jami' UNIDA Gontor dengan perubahan dan penambahan dari penulis. Semoga tetap menjaga substansi dari apa yang beliau sampaikan)

Sumber gambar: rakyatjakarta.com