Refleksi untuk Tahun Baru 1439

9/21/2017 05:44:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments

Saat ini, kita sudah memasuki tahun baru Hijriyah 1439. Tahun baru Hijriah menandakan kehidupan baru dalam dunia Islam. Yah, memanng tak terasa, baru tahun lalu kita melewati tahun 1438 dengan segala memori dan fenomena. Sekarang, telah tiba saatnya untuk membuka lembaran baru di tahun yang baru ini.

Penanggalan tahun baru Hijriyah ini bermula di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Akar masalah penanggalan Hijriah di masa itu adalah surat gubernur Basrah Abu Musa Al-'Asyari membalas surat kepada Khalifah Umar ra. Abu Musa membuka surat tersebut dengan "Menjawab surat dari tuan yang tidak bertanggal". Hal ini tentu membuat khalifah bingung. Beliau baru menyadari bahwa penanggalan penting. Beliau pun mengajak para sahabat untuk bermusyawarah. Mereka bermusyawarah untuk menentukan awal penanggalan kalender Islam. Dalam musyawarah ada yang mengusulkan penanggalan Islam dimulai dari waktu diutusnya Rasulullah saw. Ada juga yang mebgusulkan agar dimulai dari kelahiran Rasulullah, dan ada juga yang mengatakan agar disesuaikan dengan kalender Masehi. Para sahabat puns sepakat tanggal Hijriah ditetapkan dari awal hijrah Rasulullah saw. ke Madinah. Para sahabat bersandar pada firman Allah swt. dalam surat At-taubah ayat 108 yang berbunyi:
لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه
Artinya: Sungguh, masjid yang dibangun atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya.
Kata hari pertama di sini diartikan juga berarti hari pertama kebangkitan Islam, yang mana Rasulullah dapat beribadah dengan tenang, dan mampu mendirikan masjid Quba. Demikianlah yang dijelaskan oleh Abu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari.

Tahun baru berarti kita sudah berganti dari masa lampau ke masa depan. tahun baru Hijriah tidak hanya berarti pergantian masa, namun juga perubahan kondisi kepada yang lebih baik. Hijrah dari yang dulu malas-malasan shalat menjadi lebih rajin salat. Dari bermaksiat menuju taat kepada ALlah. Semua itulah yang merupakan esensi dari hijrah.

Dalam masyarakat Muslim khususnya di Indonesia, tahun lalu adalah tahun penuh peristiwa. Tahun lalu, umat Islam Indonesia mengalami berbagai macam kejadian baik yang semuanya menguji keimanan kita. Agama Islam pernah dinistakan oleh Gubernur DKI non-aktif, Ahok yang membuat umat Islam berang. Sebagai reaksinya, umat Islam melakukan Aksi Bela Islam berjilid-jilid. Mulai dari aksi 13 Oktober (kalau tidak salah), 411, 212, hingga berbagai aksi dilakukan. Pelaku di Jakarta, aksinya bisa sampai ke daerah bahkan ke luar negeri. Semua dengan satu tujuan: adili Ahok. Ahok pun diadili setelah mendapatkan berbagai tekanan. Setelah diadili, muncullah Ahok-Ahok lainnya yang sama-sama menghina agama Islam. Saya tak perlu menyebutkannnya satu per satu. Selain panjang, tentu akan banyak yang berdebat.

Dari berbagai aksi inilah, umat Islam mulai menghimpun kekuatan. Dari bidang ekonomi, umat islam mulai membangun dan mengembangkan unit-unit usaha dari umat, oleh umat, dan untuk umat seperti membangun 212 Mart dan berbagai unit usaha lainnya. Dalam bidang keislaman, umat mulai banyak mengadakan kajian-kajian demi meningkatkan keimanan dan keilmuan Islam, meskipun beberapa di antaranya dibubarkan dengan berbagai dalih. Dalam media, banyak media-media umat Islam berjamuran dan lahir pula Muslim Cyber Army (MCA). Di bidang politik, umat Islam mulai menyerukanuntuk memilih pemimpin muslim. Seruan ini berkaca pada kasus penistaan agama oleh Ahok tentunya.  Seruan ini, selain sebagai implementasi ajaran Islam, juga untuk mencapai keadilan.

Belum lagi kasus First Travel. Penipuan yang dilakukan oleh kedua pendirinya itu telah merugikan ratusan ribu jamaah. Dengan promo murah, mereka mempromosikan jasa umrah murah. Dengan itu, mereka akan menambah pemasukan. Setelah itu, ke manakah uang-uang yang diserahkan? Tidak ada yang tahu. Tapi, jika dilihat secara kasat mata, kita bisa menilai bahwa uang jamaah digunakan untuk bisnis lain. Seharusnya, dana tersebut digunakan untuk kepentingan umrah, bukan yang lain.

Itu semua cerita kita di tahun lalu. Tahun ini, kita akan banyak menghadapi berbagai tantangan dan ujian kembali. Umat Islam akan menghadapi lagi tahun politik. Musuh-musuh Islam tak lagi bersembunyi, mereka mulai berani menampakkan diri di depan umum. Belum lagi banyak masalah yang ada di dalam masyarakat, seperti narkoba, kenakalan remaja, dan problem lainnya. Sebagai masyarakat Muslim, tentunya kita tidak bisa berlepas dari problem-problem tersebut

Tahun baru Hijriah hendaknya kita jadikan momentum untuk memperbaharui diri. Kita harus sama-sama menyadari bahwa Islam harus tetap kita jaga sebagai pedoman hidup. Apapun keadaannya, kita harus istiqomah dalam berislam. Tidak hanya dalam ibadah, kita harus selalu menjadikan Islam sebagai prinsip dalam kehidupan kita. Sejak bangun sampai kita tidur lagi, Islam akan selalu menjadi identitas kita.

Di tahun ini, semoga kita selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Semoga kita mampu hijrah kepada yang lebih baik dari tahun lalu. Sebagai masyarakat Muslim, semoga kita dapat memperkuat barisan dan menegakkan kebenaran. Amin

Rohingya Memanggilmu, Aksi Nyata Mahasiswa UNIDA Gontor untuk Membela Rohingya

9/15/2017 01:51:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments



Kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Rakhine, timur laut Myanmar kepada etnis minoritas Rohingya telah menjadi sorotan dunia. Setelah beberapa tahun vakum, akhir-akhir ini kasus ini mencuat kembali. Kejahatan yang dilakukan oleh militer beserta oknum ekstremis Buddha (saya sebut oknum karena saya yakin tak semua umat Buddha sepakat dengannya) telah mengobok-obok emosi masyarakat dunia. Ada yang mengecam keras, ada yang mencibir sana-sini, bahkan ada yang mengancam akan mengusir duta besar atau diplomat Myanmar dari negaranya. Masyarakat Indonesia sendiri melakukan berbagai gerakan untuk membela kaum Rohingya. Mulai dari doa bersama, demonstrasi di jalan, hingga menyumbangkan bantuan-bantuan.

Sebagai mahasiswa muslim, kami, mahasiswa UNIDA Gontor, tidak akan mau menutup mata akan hal ini. Kami turut melakukan aksi solidaritas untuk Rohingya selama satu hari penuh yakni pada hari Rabu, 6 September 2017. Acara bertajuk "Rohingya Memanggilmu" ini berlangsung dalam tiga rangkaian agenda, yakni: gerakan shalat Subuh berjamaaah dan doa bersama, Kajian Sejarah dan aksi teatrikal, dan penggalangan dana.

Agenda ini dimulai dengan agenda Gerakan Subuh berjamaah di Masjid Jami' UNIDA Gontor . Tidak hanya sholat subuh berjamaah, mendoakan muslimin Rohingya juga dilakukan setiap sholat berjamaah di masjid. Doa bersama bisa dilakukan dalam bentuk doa Qunut Nazilah dan doa setalah shalat. Doa merupakan inti dari ibadah dan juga senjata orang-orang yang beriman. Keyakinan inilah yang menguatkan kita untuk selalu mendoakan masyarakat Rohingya yang tertindas.

DEMA juga mengadakan penggalangan dana selama empat hari. Penggalangan dana dimulai sejak Rabu hingga Sabtu, 9 September 2017. DEMA menggalang dana dengan membuka stand  di Gedung Utama yang merupakan gedung perkuliahan dan perkantoran di UNIDA Gontor. Di tengah-tengah penggalangan dana, DEMA juga menayangkan beberapa video tentang sejarah dan konflik Rohingya. Dengan stand di tempat strategis dan penayangan video, diharapkan mampu menarik pengunjung, membuat suasana semakin ramai, dan menambah daya tarik semua yang berkunjung untuk mendonasikan uangnya untuk Rohingya.

Malam harinya merupakan puncak acara ini. DEMA mengadakan kajian sejarah penindasan Rohingya di Auditorium Gedung Utama UNIDA Gontor. Kajian sejarah Rohingya diisi oleh Al-Ustadz Khoirul Umam, M.Ec., dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan rasa kepedulian mahasiswa terhadap kekerasan terhadap Muslimin Rohingya dan memupuk rasa kekeluargaan mahasiswa. Acara dimulai dengan teatrikalisasi puisi oleh Tim Ilustrasi (TI), kelompok teater UNIDA Gontor. Mereka menggambarkan bagaimana umat Islam di sana menerima berbagai cobaan berupa kekerasan fisik, diskriminasi, dan pengusiran. Teman-teman TI juga sukses memperagakan bagaimana umat Budha di sana memperlakukan orang Rohingya tanpa hati. Di akhir penampilannya, TI mengajak kita, seluruh mahasiswa UNIDA Gontor, untuk bersatu, peduli terhadap etnis Rohingya, dan mendukung serta mendoakan mereka.
Ust. Khoirul Umam mengisi kajian sejarah konflik Rohingya
Setelah penampilan, Ust. Umam memulai kajian. Beliau mampu membakar semangat para audiens dengan pidatonya yang berapi-api. Lewat pidatonya tersebut, beliau mewasiatkan kami untuk meningkatkan ketaqwaan dan kepedulian kita terhadap sesama.

Ust. Umam mengawali pidatonya. Beliau berkata, "Cerita ini bukanlah cerita tahun ini atau tahun lalu. Tapi, ini adalah cerita lama, bertahun-tahun lalu." Kekerasan terhadap Rohingya memang sudah menjadi cerita lama. Saat ini, dengan adanya media massa ditambah dengan media sosial dan media online, apapun akan tersiar dengan cepat, mempengaruhi opini publik, dan mengaduk emosi para konsumennya. Saat ini, miris rasanya kita menyaksikan keadaan saudara kita Muslim Rohingya. Bayangkan ketika media massa masih terbatas, bagaimana orang tua kita tahu nasib orang-orang Rohingya sana?


Selanjutnya beliau menjelaskan tentang kemodernan. Sejarah kemodernan dimulai sejak abad pencerahan (renaissance). Kemodernan dimulai dengan berpisahnya doktrin gereja dari peradaban Barat. Namun, menurut beliau, kemodernan inilah titik awal dari penjajahan. Kita lihat, setelah masa ini, banyak negara-negara Barat yang menjajah negara-negara di Asia dan Afrika termasuk Indonesia. Maka, cerita kemodernan adalah cerita penjajahan. Penjajahan inilah yang menimbulkan berbagai konflik dan peperangan. Padahal, Islam melarang peperangan kecuali untuk membela diri jika diperangi.

Tak lupa, beliau justru memuji nilai-nilai spiritual agama Budha. Agama Budha menurut ustadz Umam adalah agama yang berkembang pesat selain Islam. Mengapa? Orang-orang Barat penuh dengan materialisme dan rasionalisme. Akibatnya, mereka hampa akan nilai spiritual. Orang-orang Barat pun memilih untuk berpindah keyakinan ke agama Buddha karena mereka mencari spiritualitas yang selama ini mereka abaikan. Menjadi seorang Buddha pun menurut beliau sama dengan mejadi orang yang tenang. 

Tidak hanya agama Buddha secara umum, beliau juga memuji nilai spiritual Myanmar. Agama Buddha yang telah mengakar turut mempengaruhi ideologi negara tersebut meskipun Myanmar bukan negara agama Buddha. Di saat Barat berkoar-koar dengan indeks GDP, Myanmar dengan bangga mempromosikan indeks kebahagiaan versi mereka. Tentunya indeks kebahagiaan didasarkan pada nilai-nilai agama Buddha. Jadi, dengan nilai-nilai spiritualitas yang ada dalam agama Buddha, mana mungkin umat Buddha akan melakukan penindasan?

Kekerasan terhadap umat Muslim Rohingya dilakukan dengan dalih kewarganegaraan. Orang-orang Rohingya aslinya adalah bangsa keturunan Bangladesh. Mereka dianggap imigran ilegal selama penjajahan Inggris. Myanmar (yang sebelumnya bernama Burma) tidak pernah lepas dari pemberontakan dan kudeta. Kaum Rohingya pun pernah melakukan perlawanan terhadap pmerintahan pendudukan Inggris waktu itu sehingga mereka melarikan diri ke Pakistan. Karena pernah melawan pemerintah dan kabur, pemerintah Myanmar menganggap Rohingya sebagai etnis asing. Orang-orang Rohingya banyak dicopot dari kepegawaian.

Saat ini, kira-kira lebih dari 1000 orang terbunuh. Bahkan, jumlahnya bisa lebih dari itu. Di luar itu, 300000 orang mengungsi di Cox's Bazaar, perbatasan Myanmar-Bangaldesh. Mereka hidup dalam kondisi memprihatinkan. Akses untuk pengungsi sangatlah minim. 

Beliau pun menutup kajian dengan kalimat penutup yang mengetuk hati seluruh hadirin untuk peduli nasib Muslimin Rohingya. “Rohingya adalah cermin, cermin dimana tingkat kepedulian kita. Kalau kepedulian kita berupa tindakan, gerakan-gerakan yang nyata, maka ditanggapi itulah iman yang kuat , kalau tidak bisa dengan tindakan minimal dengan lisan, kita omongkan kalau sekarang dengan bentuk tulisan. Maka tulislah, kalaupun nulis tidak berani, ngomong tidak berani minimal hati kita perduli dan apa kata Rosulullah itu adalah selemah lemahnya iman. Kalau sama sekali tidak perduli, terketuk saja tidak, semua orang menangis peduli saja tidak apakah kita masih disebut mu’min? Apakah kita masih dikategorikan orang-orang yang beriman? Karena hati itu ad’aful Iman berarti dibawahnya kita tidak ada keimanan naudzubillah!” Seru beliau menggebu-gebu menutup kajian ini.

Setelah acara ini, penggalangan dana untuk Rohingya masih berlanjut hingga Sabtu, 9 September 2017 bertepatan dengan Ujian Tengah Semester. Alhamdulillah, dana yang terhimpun hingga hari terakhir mencapai Rp. 18.524.400,00. Dana ini akan kami sumbangkan melalui rekening Aksi Cepat Tanggap (ACT). ACT sendiri telah bekerjasama dengan UNIDA Gontor dalam berbagai program kemasyarakatan salah satunya pengadaan hewan Qurban dalam hari raya Idul Adha.


Semoga dengan gerakan ini, hati kita semua terketuk untuk peduli terhadap masyarakat Rohingya. Sebagai sesama muslim, seharusnya kita tidak mengacuhkan mereka. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat.....dst." (Diriwayatkan oleh  Muslim No. 2699, At Tirmidzi No. 1425, Abu Daud No. 1455, 4946, Ibnu Majah No. 225, Ahmad No. 7427, Al Baihaqi No. 1695, 11250, Ibnu ‘Asakir No. 696, Al Baghawi No. 130, Ibnu Hibban No. 84). Jika kita membantu urusan Mukmin meskipun sedikit, In sya Allah, Allah akan memudahkan urusan kita di akhirat kelak.