Bangkitlah, Blogger Indonesia (Hari Blogger Nasional 2017)

10/27/2017 05:45:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 1 Comments


Tanggal 27 Oktober adalah hari besar yang dirayakan oleh para Blogger. Tanggal ini ditetapkan sebagi Hari Blogger Nasional. Kira-kira sejak tahun 2007, Hari Blogger Nasional diperingati oleh para kaum blogger Indonesia. Saya sendiri hari ini setelah bangun tidur mendapat pesan di grup WhatsApp blogger ucapan Selamat hari Blogger Nasional. Sebagai orang yang belajar mengembangkan blog, saya pun mencoba turut meramaikan. Tulisan ini pun menjadi amal usaha saya meramaikan Hari Blogger Nasional.

Riwayatnya begini, pada tanggal 27 Oktober 2007, Menteri Komunikasi dan Informatika saat itu, Muhammad Nuh, mencanangkan sebuah agenda yang mewadahi kepentingan seluruh kaum blogger. Sejak itulah tanggal 27 Oktober diperingati sebagai Hari Blogger Nasional. Setiap tahunnya, selalu ada berbagai perayaan dan pesta blogger. Lumrahnya, para blogger akan mengadakan kopi darat (kopdar) Paling tidak, selalu ada gaungnya di media sosial seperti di Facebook dan Twitter. Saya pada tahun-tahun itu belum mengenal tentang dunia Blogger. Maklum, saya sendiri masih berusia belia dan belum melek internet apalagi blog.

Namun, seiring berkembangya waktu, hari Blogger Nasional menurun pamornya. Hari Blogger zaman dahulu kala masih selalu mengadakan kopdar dan meng-update entri terkait Hari Blogger Nasional. Tentunya media sosial zaman baheula belum setenar sekarang. Namun, tren Hari Blogger Nasional menurun saat ini. Karena media sosial sekarang sudah bisa viral, orang-orang mulai meninggalkan trending lama.  Sekarang, tinggal upload di Facebook, Instagram dll, kita sudah turut meramaikan. 


Meskipun tak lagi diramaikan, perayaan Hari  Blogger Nasional tetap akan diingat oleh para blogger. Meskipun tak lagi dirayakan, hari ini adalahsejarah bagi para blogger. Satu hal yang penting dari hari ini adalah esensi dan substansinya hari blogger, tidak sekedar ritual dan seremonial belaka (ngomong opo kuwi?). Bukan sekedar merayakan, namun juga menjaga diri untuk tetap istiqomah ngeblog.

Hari Blogger Nasional bukan hanya ritual belaka, tapi ia adalah motivasi untuk meningkatkan diri. Karena saat ini, blogger bukan hanya sekadar curahat hati, tapi juga ladang usaha dan sarana berbagi. Dengan blogging, kita bisa membagikan pengalaman yang telah kita rasakan, tempat yag telah kita jelajahi, resep masakan yang telah kita coba, atau berbagi perasaan hati lewat tulisan-tulisan indah. Tentunya, kita akan membuat orang lain tahu apa yang sebelumnya belum mereka ketahui dari kita. Nantinya, blog akan menjadi nilai komersial yang menguntungkan.

Selamat Hari Blogger Nasional! Semoga ia menjadi pemicu semangat kita meningkatkan kualitas blog kita. Saya pun masih dan akan selalu belajar dan berusaha meningkatkan blog saya. Karena yang terbaik bisa selalu ditingkatkan. "Even the best can be improved". Bangkitlah blogger, Indonesia!

1 Comments:

Bukit Kapur Arosbaya, Destinasi Wisata Alternatif di Madura

10/24/2017 01:33:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Pulau Madura adalah salah satu pulau dalam wilayah Provinsi Jawa Timur. Madura berpengaruh dalam perekonomian Indonesia karena terkenal dengan industri garam. Pulau ini pun mendapat julukan "Pulau Garam." Madura punya kultur yang kuat dan tersohor di masyarakat Indonesia. Tradisi Karapan Sapi merupakan salah satu yang terkenal di antara budaya yang terkenal di sini. Bahkan, Madura punya arena karapan sapi sendiri seperti stadion sepakbola. Berbicara sepakbola, Madura juga punya klub Madura United yang mampu menjadi klub papan atas Go-Jek Traveloka Liga 1. Tak lupa, Madura juga punya kuliner yang khas. Sate Madura adalah kuliner andalan dan sudah menyebar ke mana-mana. Selain itu, kuliner yang baru-baru ini dikenal luas, yakni bebek goreng khas Madura. Jika kita berjalan-jalan ke Bangkalan, kita akan menjumpai berbagai warung bebek goran berdiri. Salah satu yang terkenal adalah Warung Bebek Sinjay
Baca Juga: Menikmati Bebek Goreng Khas Madura di Warung Bebek Sinjay
Kali ini, saya akan berbagi sedikit pengalaman tentang salah satu wisata yang terbilang unik karena memang sangat jarang. Masih dari Madura, kali ini pengalaman saya tentang Bukit Kapur Arosbaya di Bangkalan. Mengapa saya katakan unik? Bukit kapur hanya dapat ditemukan di daerah-daerah tertentu di Indonesia.

Bukit kapur sebenrnya adalah areal pertambangan batu kapur. Batu kapur atau batu gamping berasal dari sisa-sisa organisme laut dan ditemukan di daerah perairan dangkal. Daerah penghasil batu kapur di Indonesia adalah Sumatera Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Di Jawa Timur, tambang batu kapur terdapat di kawasan Mataraman (Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung dll) dan Madura. Tambang batu kapur akan meninggalkan bekas berupa gua-gua. Gua-gua inlah yang menjadikannya tempat wisata yang unik. Karena bukit kapur demikian jarang ada di perkotaan, ia maenjadi objek wisata yang menarik bagi kaum urban yang pensaran dengan keunikan bukit kapur.

Bukit kapur Arosbaya terletak di kecamatan Arosbaya, Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Bukit kapur Arosbaya terletak di sekitar Pasarean Aermata, salah satu objek wisata religi yang ikonik di Madura. Bukit kapur Arosbaya kira-kira berjarak 19 kilometer dari kota Bangkalan, Madura.  Awalnya, lokasi ini hanyalah tambang batu kapur biasa. Tak banyak yang menyadari bahwa lekukan-lekukan indah yang terbentuk dari pertambangan menjadi daya tarik wisatawan. Barulah beberapa tahun belakangan ini, memanfaatkan bukit kapur Arosbaya sebagai ladang usaha wisata di samping lokasi pertambangan.

Untuk mencapai bukit kapur Arosbaya, kita dapat menggunakan kendaraan pribadi. Dari kota Bangkalan, kita dapat menempuh perjalanan selama 30-45 menit. Dari Warung Bebek Sinjay, kami menggunakan mobil dari Bangkalan  dengan mobil pribadi melewati Bancaran kemudian lurus terus ke Lajing dan Tengket hingga kami menjumpai pertigaan menuju Air Mata Ibu. Sepanjang perjalanan, banyak masjid megah berdiri. Memang, selain pulau garam, Madura dikenal juga sebagai pulau seribu masjid. Kabupaten Bangkalan juga dijuluki kota Dzikir dan Shalawat. Setelah belok kanan, kami melanjutkan perjalanan sekitar 12 km menuju Air Mata Ibu. Setelah tiba di Air MAta Ibu, akmi perjalanan dilanjutkan melalui gang sempit. Bagi pengendara mobil, jalan ini masih bisa dilewati. Namun, jika menggunakan bis atau berombongan, kita harus berjalan kaki dari Air Mata Ibu.

Ada hal menarik di sini. Warga sekitar tidak familier dengan nama Bukit Kapur Arosbaya. Mereka menyebutnya dengan bedel. Selain itu, ada yang tidak tahu lokasi Arosbaya. Ketika saya bertanya kepada salah seorang warga di Bancaran, dia malah menunjukkan jalan ke arah kota Bangkalan. Padahal, kami saat itu sudah menemukan lokasinya di Google Map.

Di sini kita masih  menjumpai bertumpuk-tumpuk batu kapur yang sudah ditambang dan siap dipasarkan. Warna batu kapur di sini agak kecoklatan, berbeda dengan batu kapur biasanya yang berwarna putih. Tidak ada aktivitas penambangan kapur ketika kami  ke sana; sepertinya para penambang sedang berlibur.
Berwisata di Bukit Kapur Arosbaya lebih baik ketika cuaca cerah
Untuk masuk ke sana, kita harus membayar karcis Rp 5000,00 per orang. Wisata ini terbuka 24 jam setiap hari. Menurut warga setempat, tidak masalah kalau kita berwisata di sini malam hari. Tapi, siapa juga yang mau berwisata malam di sini? Bukannya wisata, kita jadi ikut uji nyali. Ketika kami berkunjung ke sana pada sore hari, banyak wisatawan yang berkunjung baik individu, keluarga, atau rombongan. Selain tidak terlalu panas, cahaya matahari akan menyinari sela-sela batu kapur sehingga membuat warna batu agak keemasan.

Bukit kapur Arosbaya menjadi objek yang pas untuk fotografi. Banyak wisatawan yang mengabadikan momen di tempat ini dengan kamera. Mereka kemudian mengunggahnya di berbagai platform media sosial, seperti Facebook, Instagram, Twitter dan sebagainya. Tempat ini juga biasa dijadikan objek doto prewedding menurut situs pulaumadura.com. Maka tak heran ketika kami ke sini, banyak pengunjung mengeluarkan smartphone dan menenteng kamera ke mana-mana. Bagi kalian yang gandrung dengan fotografi, tidak ada salahnya untuk mengasah skill fotografi di tempat ini. Objeknya yang unik cocok dijadikan objek fotografi.

Begitulah sedikit catatan perjalanan kami ke Arosbaya. Bukit kapur Arosbaya menyimpan keindahan tersendiri di antara objek wisata di Indonesia. Arosbaya saat ini menjadi primadona wisata baru di Indonesia. Arosbaya saat ini menambah daftar rekomendasi objek wisata di pulau garam ini.

Sumber gambar: Jelajahi Indonesia

Ngumpul Bareng, Buat Apa?

10/17/2017 04:38:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments



Manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Untuk mencapai kebutahannya, manusia selalu bergantung satu sama lain. Untuk makan, kita pasti memerlukan bahan-bahan. Kita berbelanja bahan masakan dari seorang tukang sayur. Kalau tidak bisa memasak, ibu kita yang memasakkan untuk kita. Yang penting, segala kebutuhan kita tidak bisa lepas dari campur tangan orang lain. Jangankan untuk hidup, mati saja diantarkan orang lain sampai ke liang lahat!

Dalam berkehidupan, manusia selalu menciptakan berinteraksi antar sesama. Interaksi ini dapat berupa obrloan ,kontak fisik dan sebagainya hingga terbentuk sebuah komunikasi. Komunikasi akan berjalan efektif jika ada pesan yang diterima antara penerima dan pembari pesan. Pesan-pesan tersebut tentunya adalah pesan yang bermanfaat seperti membujuk, menghibur, mengajarkan dan lain-lain. Dari sebuah komunikasi, timbullah persamaan persepsi antara dua orang insan. Dua orang yang memiliki ketertarikan yang sama akan menciptakan suatu kumpulan atau komunitas. Mereka tentu akan membuat berbagai kesepakatan tentang norma yang mengatur hubungan mereka. Setelah ada kesepakatan, Kemudian mereka memperkenalkan identitas dan ketertertarikan mereka dengan harapan agar orang lain mau bergabung dengan mereka.
United Army, komunitas pecinta klub Manchester United di Indonesia ( Sumber: FB United Army)

Setelah anggota komunitas bertambah, mereka membuat perjanjian untuk berkomitmen dalam menghidupkan komunitas tersebut. Setelah mengadakan perjanjian, barulah kelompok itu mengadakan berbagai agenda untuk menguatkan kekompakan komunitas dan menjaga eksistensi mereka. Tak heran kita banyak menjumpai ribuan komunitas bertebaran dengan acara-acara menarik. Ada fans bola misal United Army, Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC), sampai fans klub lokal semisal Aremania yang semuanya selalu punya ritual nonton bareng (nobar) hampir setiap pekan. Ada lagi komunitas pecinta hewan seperti Komunitas Pecinta Kucing Jakarta (KPKJ), Komunitas Pecinta Anjing, sampai Komunitas Reptil Bandung, salah satu klub pecinta reptil di Indonesia (pecinta semut ada, gak?). Selain itu, ada juga klub-klub hobi seperti Warung Blogger, id-foldingbike dan lain-lain.

Hobi pun bisa membentuk sebuah komunitas

Selain komunitas, ada juga organisasi-organisasi yang biasanya lebih formal, seperti OSIS, OPPM, DEMA, HMJ dan sebagainya (sebenarnya komunitas juga organisasi karena mereka pasti juga punya struktur dan agenda rutin. Tapi, dalam tulisan ini, saya akan membedakannya karena organisasi terkesan lebih formal dibandingkan komunitas).

Dari seluruh kegiatan yang ada, semua komunitas pasti punya satu agenda rutin. Apa itu? Yap, kumpul bareng. Apapun namanya, Family Gathering, Meeting, atau nama lain, agenda ini pasti selalu ada di setiap perkumpulan. Dalam pertemuan, komunitas akan selalu membahas program yang akan mereka laksanakan, kendala-kendala, dan atribut komunitas. Kemudian, mereka akan menyepakati berbagai keputusan yang nantinya harus dilaksanakan. 
Pastinya banyak pembahasan di saat kumpul

Kadang-kadang, mereka menyelipkan curhatan, uneg-uneg pribadi masing-masing dalam setiap pembicaraan dengan harapan timbul solusi setelah kumpul. Selain itu, ada juga yang memberikan humor dan banyolan sehingga suasana semakin cair di tengah keseriusan kumpul. Pertemuan, selain memperkuat kinerja komunitas, juga mengaduk emosi anggotanya. Begitulah adanya yang terjadi selama pertemuan, pertemuan selalu bisa mengikat anggotanya dengan segala yang ada di dalamnya.

Saat ini, kecanggihan teknologi merambah ke seluruh lini kehidupan. Teknologi canggih akan mempermudah hampir seluruh pekerjaan. Dengan adanya komputer, kita akan menulis lebih mudah. Dengan telepon, kita akan saling berhubung dengan teman lebih cepat dan mudah. Ditambah lagi dengan kehadiran smartphone yang mengkombinasikan antara fitur komputer dan fungsi telepon memanjakan kita dengan fasilitasnya. Tak hanya menelpon teman, dengan smartphone, kita bisa mengadakan rapat daring lewat aplikasi videoconference. Atau, jika melibatkan banyak orang, bisa juga dengan memanfaatkan grup WhatsApp untuk membuat semacam rapat online. Pokoknya, semua tugas kita akan semakin mudah dengan smartphone termasuk untuk keperluan kelompok atau komunitas.

Ada kelebihan dari komunikasi kelompok via smartphone. Pesan akan disampaikan lebih cepat dibandingkan kalau harus mengadakan pertemuan dahulu. Untuk mengadakan sebuah pertemuan, kita harus menentukan waktu, tempat dll. Tapi, hanya dengan berkirim pesan, kita yang di rumah pun tahu apa yang dibahas di grup. Kelebihan lain adalah, semua yang tergabung dalam grup komunitas akan tahu kabar, entah dia aktif berorganisasi atau tidak. 

Namun, kemudahan teknologi tersebut memiliki beberapa kekurangan. Kedekatan emosional kurang terasa saat kita hanya mengandalkan grup Whatsapp. Kita hanya tahu apa yang sedang dibahas orang melalui pesan yang tertulis di sana tanpa tahu maksud dari si pengirim pesan. Kita seering menjumpai orang yang bertengkar gara-gara percakapan di grup online. Si pengirim mungkin ingin bercanda, tapi ternyata banyak yang menanggapinya serius.

Sebenarnya tidak masalah antara rapat online dan rapat biasa. Keduanya punya plus-minus. Bagi yang mau mengejar efisiensi, bisa mengadakan rapat online. Kalau ingin lebih solid dan kompak, disarankan mengadakan rapat atau meeting lebih disarankan. Memang lebih baik kita mengadakan meeting. Mengapa?
Pertemuan menjadikan organisasi lebih kompak
Pertama, Rapat akan membuat hubungan antar kelompok lebih intim. Eits, tunggu dulu! Jangan artikan hubungan intim dengan yang enggak-enggak! Hubungan intim berarti juga akrab, dekat, dan rapat (cek saja di KBBI!). Dengan kumpul, hubungan antar anggota akan semakin erat karena mereka saling bertatap muka dan salng berinteraksi secara langsung.
Karena sering ngumpul, kita saling kenal
Kedua, Masing-masing anggota akan mengenal karakter temannya satu sama lain. Saat berkumpul, kita akan mengenal setiap anggota komunitas atau organisasi kita. Mulai dari nama, alamat rumah, wajah, ciri fisik, sampai karakternya. Hal ini mungkin akan susah dicapai dengan obrolan di grup.
"Gimana, setuju?.... Setuju" 

Ketiga, Ada persamaan persepsi. Karena mereka saling bertemu, mereka akan membahas apa saja di forum itu juga. Meskipun ada perbedaan pendapat, perbedaan tersebut akan diungkapkan di dalam forum. Setelah forum, mereka akan sepakat dan berkomitmen untuk menjalankan program-program yang mereka rancang.
Gak cuma ngumpul, kami juga melakukan banyak hal yang bikin happy

Terakhir, Tidak hanya rapat, komunitas akan mengadakan hal-hal lainnya. Biasanya, komunitas atau organisasi akan mengadakan kegiatan lain di luar meeting yang mempererat kekompakan mereka. Acara yang paling lumrah adalah fun games. Kalau pengalamanku sih, biasanya kami mengadakan meeting di cafe. Setelah meeting, kami melanjutkannya dengan futsalan atau nonton. Bisa juga kebalikannya, futsalan dulu, baru kumpul.
Bahkan sampai groufie
Begitulah yang bisa saya bahas tentang kumpul-berkumpul. Bagaimanapun bentuk komunitas atau organisasinya, yang penting tujuannya adalah mewadahi minat orang-orang. Kapan pun dan bagaimanapun model pertemuannya, tidak ada masalah selama bertujuan untuk mempererat komunitas tersebut. Semoga kita mampu memperkuat komunitas kita masing-masing. Terakhir, makan gak makan, yang penting kumpul.

Meluruskan Pemikiran, Bukan Mengadukannya

10/05/2017 10:18:00 am Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments

"Rambut boleh sama hitam, pendapat orang berlainan"

 Perbedaan adalah salah satu sunnatullah yang pasti ada. Perbedaan tidak bisa dinafikkan dari kehidupan kita. tak ada seseorang pun yang sama persis dengan orang lain meskipun dengan saudara kandungnya sendiri. Apabila perbedaan ini tidak ada, maka hidup ini akan sangat membosankan dan stagnan tanpa dinamika karena manusia hanya merasakan hal yang itu-itu saja. Perbedaan pasti terjadi di semua bidang kehidupan. Jelas, wajahmu berbeda dengan wajahku. Kamu ganteng, saya lebih ganteng (maaf narsis dikit). Kita diciptakan laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Kita juga akan berbeda pendapat mengenai satu hal. Anda setuju, belum tentu saya setuju.

 Pendapat pun jelas berbeda. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kita belum tentu sepakat terhadap satu pendapat. Anda setuju, saya belum tentu. Kalau pun setuju, pasti kita punya pendapat berlainan. Anda mengatakan harusnya begini, namun saya mengatakan seharusnya begitu. Sebagai contoh, kita sepakat bahwa merokok tidak pantas. Tapi, apakah kita akan sepakat akan hukumnya? Anda mungkin mengatakan itu makruh, namun saya akan mengatakan itu haram. Kemudian, bagaimana mengatasi masalah rokok? Anda mungkin mengatakan merokoklah di luar kamar. Namun, saya akan mengatakan tidak boleh ada yang merokok secara mutlak. Begitulah perbedaan yang akhirnya melahirkan dialektika.

Perbedaan pandapat menimbulkan perang pemikiran. Perang pemikiran akan selalu terjadi karena pemikiran seseorang tentang suatu hal akan selalu tak sama. Begitulah perang pemikiran yang harusnya selalu dinamis. Perbedaan pendapat dan perang pemikiran akan timbul saat diskusi dan debat.

Dalam berdiskusi, pasti akan ada perbedaan pendapat di antara kita. Anda mungkin tidak setuju dengan kawan diskusi anda lebih-lebih lawan debat anda. Perbedaan pendapat itu mungkin kepada hal-hal kecil sampai hal yang lebih besar, mulai dari pendapat sampai cara berpikir. Saya sendiri kadang berbeda pendapat dengan teman sekelas tentang berbagai masalah, seperti peran mahasiswa semester 7 dalam HMP dan sebagainya.

Perbedaan pendapat dalam berdiskusi adalah hal wajar. Kita tentunya ingin menyatakan ketidaksetujuan kita. Bagaimana caranya?


Kita harus bisa menyanggah pendapat orang secara santun dan beretika. Di samping logika, etika berdiskusi juga penting karena etika menunjukkan jati diri. Jika anda tidak sepakat dengan ide seseorang, ungkapkan dengan sanggahan dan kritik! Jika ada hal yang perlu diluruskan, kita harus meluruskannya. Bukankah kebenaran harus disuarakan? Ya, tapi dengan pendapat.

Perbedaan pendapat tidak bisa disuarakan dengan laporan dan aduan. Sangat sia-sia jika perbedaan pemikiran dibalas dengan laporan. Aduan anda adalah perbuatan tidak jantan. Pendapat harus dibalas pendapat, bukan dengan laporan. Itu sama seperti anak kecil yang mengadu ke orang tuanya karena diejek temannya. Selain itu, pemikiran adalah ranah yang tidak akan bisa dilaporkan. Pemikiran sudah terpatri dalam diri seseorang dan sulit dilepaskan darinya dengan jalan apapun. PKI memang sudah bubar, namun komunisme sulit dienyahkan kecuali dengan berbagai kritikan terhadapnya.

Satu lagi, di dalam forum diskusi atau debat, dia boleh jadi lawan kita. Tapi, di luar forum, dia adalah teman kita. Begitulah adanya ketika kita menghadapi perbedaan pemikiran. Tanpa perang pemikiran, dunia akan statis tanpa dinamika kehidupan.