Toleransi dalam Keberagaman: Belajar dari Tanah Papua

11/10/2017 01:22:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Tak bisa kita pungkiri, keberagaman adalah kodrat alam yang telah Allah ciptakan kepada kita. Keragaman membuat manusia lebih mengenal sesamanya. Keragaman telah membuat manusia memahami alam. Yang terpenting, keragaman mewarnai kehidupan manusia dan membuat kehidupan manusia tidak membosankan. Bayangkan jika makhluk di dunia tidak diciptakan beragam! Hidup akan terasa membosankan. 

Keberagaman adalah modal berharga dalam sebuah masyarakat. Masyarakat merupakan sekumpulan orang-orang dari berbagai latar belakang. Dari berbagai latar belakang, mereka hidup  dan membangun kehidupan sosial bersama. Masyarakat dengan berbagai warna akan menciptakan masyarakat majemuk. Dengan kemajemukan, masyarakat akan hidup lebih berwarna. 

Bagaimana masyarakat dapat hidup berwarna? Begini contohnya, masyarakat majemuk terdiri dari individu yang beragam. Ada penduduk asli, ada juga pandatang. Orang-orang pendatang kemungkinan besar datang dari berbagai wilayah. Mereka akan bersama-sama membangun daerah mereka. Mereka akan berusaha untuk membuat lingkungan nyaman dengan membersihkannya dan membangun fasilitas-fasilitas penunjang. Selain itu, mereka juga membangun berbagai kesepakatan untuk saling menjaga lingkungan agar mereka hidup kondusif.

Ada beberapa keuntungan dalam hidup dengan keberagaman. Kita mampu lebih terbuka dalam menanggapi berbagai hal. Ini tentunya terjadi karena kita terbiasa hidup bersama orang yang berbeda latar belakang. Kita juga akan lebih toleran dengan keadaan orang di luar kita. Karena kita hidup beragam, kita pun mampu merespons masalah dengan berbagai perspektif, setidaknya dengan perspektif pihak yang terlibat dalam masalah tersebut. COntohnya, orang Bali pantang memakan daging sapi karena sapi adalah hewan suci menurut agama Hindu. Sedangkan, orang Islam tidak memakan daging babi karena diharamkan. Maka, ketika ada jamuan makan bersama, mereka mencari makanan pengganti kedua daging tersebut seperti ayam, ikan, dan kambing.

Kadang-kadang, keberagaman menjadi potensi konflik. Konflik lahir dalam sebuah masyarakat majemuk karena ketidakmampuan seseorang memahami perilaku orang lain. Ibarat kayu, jika semakin digesekkan akan menimbulkan percikan api yang ketika membesar akan menyulut api dan membakar apa yang di sekelilingnya. Begitupun dengan masyarakat, gesekan-gesekan di antara mereka akan membesar dan menyulut konflik. Contohnya begini, orang Surabaya memecahkan kata "Jancok" sebagai kata sapaan akrab, namun lain halnya dengan orang luar Surabaya, kata "Jancok" diartikan sebagai makian. Apabila kedua orang tersebut saling menyapa kemudian keluar kata Jancok dari si orang Surabaya, ditakutkan mereka akan bertengkar karena perbedaan penafsiran tersebut.

Bagaimanapun, keberagaman adalah kodrat yang tak bisa kita hindari. Keberagaman akan selalu ada sepanjang hayat manusia. Kita tidak akan bisa menjauhi orang-orang yang berbeda keadaan dengan kita. Mau tidak mau kita pasti bertemu dengan mereka. Kita pasti menjumpai hal asing saat kita berhadapan dengannya. 

Bagaimana menghadapi keberagaman? Ya, hadapi saja! Aku serius, nih! Kalau kalian merasa asing dengan seseorang yang baru kalian ketahui, cobalah dekati dulu. Pahami juga karakter dan kebiasaannya. Bersikaplah toleran terhadap kebiasaan atau pendapatnya yang mungkin berbeda dengan kita. Di sinilah kita dapat ilmu dan pengalaman baru

Sewaktu kecil dulu, saya pernah bertetangga dengan keluarga dari Papua. Yang saya ingat di antara keluarga itu adalah anak perempuannya yang bernama Chika. Setiap sore sepulang sekolah, kami selalu bermain di depan rumahnya. Kadang petak umpet, kadang kejar-kejaran, yang paling sering adalah main perahu-perahuan dari daun dan dilalirkan di selokan. Keluarganya memelihara seekor anjing. Anjing itu bertubuh pendek dan berbulu coklat.  Kata Chika, anjing itu adalah seekor kanguru yang disuntik obat sampai tubunya mengecil dan menjadi seekor anjing. Aku waktu itu percaya-pecaya saja karena pengetahuanku soal anjing kurang dan belum ada Google di masa itu. Aku pun sering bermain dengan anjingnya tanpa menemui masalah meskipun saat pulang aku harus membersihkan bekasnya dengan air dan campuran tanah.

Ada lagi, tetangga kakekku adalah keluarga keturunan Tionghoa yang sudah berumur lansia. Aku biasa memanggil mereka Opa Om dan Oma Tante. Lagi-lagi waktu aku kecil, setiap mudik ke Surabaya (aku tinggal di Bogor dan mudik ke rumah kakek-nenek Surabaya setiap hari raya Idul Fitri), aku sering main ke rumah mereka. Setiap pagi, aku selalu menyaksikan Opa Om memberi makan burung-burung peliharannya. "Kasih makan, kasih minum!" kata Opa Om. 

Beberapa tahun berselang, kakek pindah ke Malang dan mereka pun pindah rumah ke daerah lain di Surabaya. Keluarga kami masih sering mengunjungi rumah Opa Om. Pernah aku menginap di rumahnya karena orang tuaku akan mengikuti reuni sekolah mereka. Ketika waktu shalat tiba, Oma Tante selalu menyuruhku shalat di masjid dekat rumahnya. Oma Tante juga menyediakan sarung untuk shalat karena waktu itu aku masih terbiasa bercelana pendek. Karena hubungan baik kami kepada mereka, kami selalu merencanakan untuk bertandang ke rumah mereka setiap mudik lebaran.

Saat ini pun, saya selalu bersikap toleran terhadap siapapun itu. Setiap menghadiri pertemuan, saya mencoba enjoy bersama orang-orang baru yang mungkin berbeda keyakinan denganku. Akhirnya, aku merasa tidak ada masalah dengan mereka. Malahan, pas aku menjawab pertanyaan, "Dari kampus mana?" mereka tampak tertarik mendengarkan penjelasan tentang kampusku karena menurut mereka, ada yang berbeda dengan kampus lain. Aku pun juga terkesan dengan bagaimana kampus mereka dan kegiatannya serta bagaimana keseharian atau tentang adat istiadat.

Sungguh menarik bila kita mampu berbagi dengan orang lain apalagi dengan orang yang berbeda. Kita akan mengenal banyak orang dari berbagai latar belakang, kita dapat mengenal adat serta kebudayaannya, dan yang terpenting, kita bisa belajar bertoleransi dengan orang lain. Dari mana kita belajar it semua? Kita belajar itu dari keberagaman. Keberagaman adalah pelajaran yang belum tentu kita dapatkan di bangku kuliah.

Keberagaman akan terus menciptakan hal-hal baru yang belum pernah tercipta sebelumnya. Keberagaman akan membuat sesuat yang unik hingga menarik minat orang yang menyaksikannya. Masyarakat yang hidup beragam akan menciptakan cerita baru dalam lembaran kehidupan sosial.

Salah satu yang hal unik karena kebaragaman adalah inovasi baru akan lahir dalam masyarakat. Masyarakat majemuk akan menciptakan berbagai inovasi berbekal pengalaman yang ada di daerah asal masing-masing.

Ada dua peristiwa menarik yang pernah ada dari keberagaman. Saya mengambil peristiwa ini dari tanah Papua. Dengan agama dan etnis beragam, mereka bisa rukun dan membangun masyarakat dan memakmurkan daerah.
Masyarakat Asmat Gelar Buka Puasa Bersama- independen.id

Tradisi yang lahir berkat toleransi dan keberagaman adalah buka puasa bersama masyarakat kabupaten Asmat. Buka bersama masyarakat Asmat ini berlangsung pada tanggal 10 Juni 2016 di kota Agats, ibukota kab. Asmat. Bukber ini ditujukan untuk menjaga toleransi dan menghormati umat Islam yang sedang berpuasa. Padahal, jumlah umat Islam di Kab. Asmat hanya 8.998 jiwa, sekitar 8% dari total penduduk Asmat. Pemerintah Asmat membagikan 5000 kupon gratis pada buka puasa ini, dan ditukrakan dengan makanan dan minuman.

Baca juga: Hormati Umat Muslim, Warga Asmat Gelar Buka Puasa Bersama - independen.id

Umat Islam di Indonesia pun selalu berusaha untuk bersikap toleran dengan sesamanya khususnya dengan non-Muslim. Di sana, mereka saling bahu membahu menjaga kerukunan di tanah ujung timur. Mereka saling mengunjungi setiap ada perayaan hari besar seperti Idul Fitri, Natal, dan perayaan lainnya. Tak jarang pula didapati rumah-rumah ibadah yang saling berdampingan. Setiap satu jamaah masjid contohnya, mengadakan shalat di masjid, pihak gereja menyediakan lahan parkir, begitu pula sebaliknya. Masjid dan gereja di sana bukan hanya simbol keagamaan dan tempat ibadah, namun juga menjadi lambang keberagaman dan sarana sosial. Tak heran jika Papua mendapatkan predikat tertinggi dalam kerukunan umat beragama.

Baca juga: Wujud Toleransi Umat Beragama Jadikan Papua Tanah Damai - cendananews.com

Selain agama, keberagaman di Papua juga tercermin dalam aspek sosial budaya. Masyarakat Papua tidak hanya penduduk asli Papua, ada juga masyarakat pendatang yang berasal dari suku bangsa lain seperti Jawa, Makassar dan sebagainya. Mereka saling membantu meningkatkan kehidupan di Papua. Dari situ, banyak hal baru tercipta.

Salah satu kegiatan yang lahir berkat keragaman adalah Hari Perayaan Pahlawan Pongtiku yang digelar masyarakat Toraja di Jayapura pada 4 September 2016. Hari Perayaan Pahlawan Pongtiku diadakan untuk membakar kembali semangat juang Pongtiku, pahlawan asal Tana Toraja. Acara ini sendiri diisi dengan perlombaan olahraga, seni, donor darah, dan gerak jalan. Acara ini berjalan lancar karena Ikatan Keluarga Toraja sebagai asosiasi masyarakat Toraja di Papua berperan aktif dalam pembangunan Papua, sebagaimana yang dijelaskan oleh Asisten II Setda Kota Jayapura Nurjainudin Konu.

Baca Juga: Masyarakat Toraja di Papua Gelar Perayaan Hari Pahlawan Pongtiku - kabarpapua.co

Keberagaman dan toleransi adalah dua hal yang tak bisa terpisahkan. Keduanya seling berkaitan satu sama lain. Karena keberagaman, kita belajar bertoleransi. Rasa toleransi ada karena terbiasa dengan keberagaman.

Kita harus tetap menjaga keberagaman dan toleransi. Namun, dalam toleransi antara umat beragama, kita mesti mengerti batasan-batasan dalam toleransi. Toleransi dalam beragama berarti kita tidak mengganggu orang lain dalam menjalankan ibadah, tidak pula turut berbaur dalam perayaan mereka. Kita mungkin bisa membantu memfasilitasi, namun tidak perlu ikut mengenakan atribut mereka atau ikut merayakan. Merayakan perayaan itu berarti kita mengakui kepercayaan mereka.

Baca juga: Bagaimana Islam Memahami Toleransi?

Itulah yang dapat kita pelajari bersama tentang toleransi dalam keberagaman. Keberagaman dalam masyarakat adalah sebuah kodrat yang ada dalam kehidupan sosial. Bagaimana menyikapinya? Kita harus mencoba bertoleransi dalam kebaragaman tersebut. Dengan itu, kita akan menjadi terbuka dan menyelesaikan masalah dengan mudah karena memahaminya secara menyeluruh. Semoga kita semua dapat merayakan keberagaman.


0 Comments:

Cerita Perjalanan dari Kursi Kereta (Tentang Tenggang Rasa dan Prioritas kepada Orang Lain)

11/03/2017 04:46:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ  كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ( الحشر9
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (Al-Hasyr; 9).

Ayat ini menerangkan kisah kaum Anshor yang menyambut kaum Muhajirin yang berhijrah ke Madinah (daulu bernama Yatsrib) untuk menjaga akidah mereka. Ayat itu menggambarkan bagaimana kaum Anshar tetap megutamakan kebutuhan orang-orang Muhajirin daripada mementingkan kebutuhan mereka sendiri. Kaum Ansar selalu berbagi tempat, makanan sampai harta rampasan dengan orang Muhajirin dan mereka tak punya rasa iri dengki satu sama lain. Ayat ini menjadi dalil dalam kaidah ushul fiqh: 
Mendahulukan kepentingan orang lain di luar ibadah adalah dianjurkan.

Ayat ini mengajarkan kita pula untuk mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri sekalipun kita membutuhkannya. Mungkin terdengar sulit, namun kalau kita bisa mengapa tidak?

Kita selalu mempunyai hajat yang harus kita penuhi. Selalu setiap hari, ada saja yang kita butuhkan, dari sandang pangan sampai keperluan lain. Bahkan ada beberapa kebutuhan mendesak yang kalau tidak dipenuhi sekarang, kemungkinan lebih buruk akan terjadi. Akan tetapi, tidak ada salahnya kalau kita memprioritaskan kepentingan orang lain.

Pengalaman mengajarkan kita untuk belajar. Itulah kalimat bijak yang harus selalu disampaikan untuk kita. Semoga dengan pengalaman yang saya bagikan ini membuat kita terus belajar.

Ada suatu kisah menarik dalam perjalanan saya dua pekan lalu. Saat itu, saya menggunakan kereta api Jayakarta Premium dari Madiun ke Jatinegara. Sejak menggunakan Traveloka, saya sering bepergian naik kereta api. Selain lebih nyaman, kereta dari kampus ke rumah tersedia hampir setiap waktu meskipun harus ke Madiun terlebih dahulu. Tidak seperti bis yang hanya tersedia siang hari. Setiap memesan tiket kereta, kita bisa memilih bangku yang ada. Saya biasa memilih bangku di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan di luar kereta.

Sesuai dengan jadwal tertera di tiket, kereta akan berangkat pukul 17.30. Sudah sekitar setengah jam saya menunggu di stasiun. Jarak dari kampus di daerah Ponorogo ke Madiun yang  jauh mengharuskan saya untuk memersiapkan keberangkatan sejak awal. Setengah jam berlalu, kereta yang mengantarkan saya pulang pun tiba. Saya pun bergegas untuk masuk gerbong.

Selama mencari tempat duduk, saya selalu memegang tiket agar kursi yang saya duduki cocok dengan nomor di tiket. Setelah mendapatkan nomor yang pas, lega rasanya setelah lama menunggu dan mencari-cari tiket. Saya pun segera menaruh barang-barang dan bersiap untuk duduk. Namun, sesuatu hal yang mengejutkan pun terjadi!

Belum saya menduduki kursi, ternyata sudah ada seorang wanita muda menduduki kursi saya. Di sebelahnya, wanita paruh baya duduk. Ternyata mereka telah menduduki tempatku sebelum aku datang. Ingin aku mengusir keduanya atau memanggil petugas. Bagaimana tidak? Sudah berangkat jauh-jauh dari Ponorogo ke Madiun selama sejam, menanti kereta setengah jam, taunya kursi sudah diduduki! Aku juga mengumpat manajemen Kereta Api. Katanya sudah diatur, koq masih ada yang duduk seenaknya sendiri.

Namun, aku mencoba menenangkan diri dan mengendalikan emosi. Aku sadar, ini adalah transportasi umum yang mana semua punya hak masing-masing. Kereta api bukan milikku sendiri yang aku bisa mengatur-atur kereta. Sejenak, aku kemudian menanyakan si wanita paruh baya yang kebetulan duduk di sebelah koridor.
Pak, maaf.. Ini nomor berapa?

"Bu, maaf, ini kursi 5A?" tanyaku sambil melihat nomor gerbong.

"Ini anak saya, mas!" Wanita tersebut menjawab sambil menunjuk perempun muda di sebelahnya. 

Koq, gak nyambung?! aku membatin. Aku nanya apa, jawabnya apa

Sekali lagi aku bertanya.

"Bu, maaf ini kursi 5A?" tanyaku sekali lagi, penasaran.

"Maaf, bu! Saya sudah pesan tiket di kursi sini!" Aku menambahkan sembari menunjukkan tiket.

"Ini anak saya, mas. Saya dapat tiket di sana tapi anak saya di sini. Saya tukar tempat gak papa ya... Maaf lho, mas!" Ibu itu menjelaskan dengan senyumnya sambil menunjuk tempat di belakangku yang diikuti senyum anaknya di sebelahnya.

Aku pun menoleh ke belakang. Ternyata memang ada kursi kosong di sebelahnya. Aku lemparkan senyum kepada ibu itu dan segera meletakkan tas lalu duduk di tempat itu.

Aku awalnya tak percaya kalau wanita muda itu anaknya si ibu. Wanita muda itu kira-kira berusia 20 tahunan dan tidak berjilbab. Ibu tadi berusia sekitar 40-50 tahunan dan mengenakan jilbab. Ah, mana mungkin mereka ibu-anak? Lagian, yang satu jilbaban dan satunya enggak?! Namun, aku diam-diam memperhatikan keduanya setelah berjam-jam di kereta. Ternyata mereka menunjukkan bahwa keduanya adalah keluarga yang bahagia. Mereka berdua berbagi makanan, saling bergantian menyandarkan kakinya, sampai si anak tidur bersandar di pundak ibunya. Setelah itu aku baru percaya kalau mereka berdua adalah ibu-anak.

Dari perjalanan ini aku mendapatkan dua pelajaran. Pertama, kasih ibu tidak mengenal zaman. Sebesar dan setua apapun kita, ibu masih selalu mencurahkan kasih sayangnya kepada kita. Kedua, kita sebaiknya memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kita kecuali kalau benar-benar mendesak. 

Seandainya saya tidak mengalah kepada si ibu, keselamatan anaknya mungkin tidak terjamin. Transportasi umum seperti kereta api belum tentu terjamin keamanannya. Mungkin saja barang keluarga tersebut tercuri atau yang lebih parah lagi, keluarga itu diganggu oleh penumpang lain.

Kalau kita bisa memprioritaskan orang lain, akan ada kebahagiaan tersendiri bagi kita dan orang lain. Hati kita tenagn karena mampu berbagi dengan orang lain, orang yang kita berikan itu pun akan senang karena merasa dihormati dan diberikan kesempatan. Rasa tenggang rasa kita pun menambah dan kita mampu menghormati orang lain. Akhirnya, rasa saling menghormati pun terbangun di antara kita.





0 Comments:

Melawan Hoax, Menebarkan Inspirasi

11/01/2017 06:43:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Kita semua saat ini tidak bisa dari media sosial (medsos). Patform medsos yang paling sering saya gunakan adalah Facebook dan Instagram. Saya merasa lebih sreg dengan kedua platform tersebut karena lebih “berwarna” dengan ada foto, video, dan tulisan caption yang bisa dibuat sepanjang apapun sampai sepanjang makalah (meski saya kadang jengkel membaca caption instagram teman yang terlalu panjang). Sebagai pengamat medsos (lebih tepatnya stalker), saya berkali-kali mengamati berbagai fenomena di sana mulai dari yang biasa saja sampai yang aneh atau emosional. Apapun saat ini diekspresikan di media sosial. Ada banyak meme-meme yang jadi tombo bosan saya di medsos dan saya download untuk keperluan perang meme di grup WhatsApp😂. Kita belajar macam-macam juga bisa dari medsos. Ada diskusi juga di sana, baik yang masalah hal kecil seperti belanja online, modifikasi motor, hewan peliharaan, klub favorit sampai hal-hal berat seperti isu politik, sosial, masalah kenaikan harga, masalah konflik Rohingya dan sebagainya.
Medi sosial benar-benar telah membuka mata kita. Membuka mata untuk tahu apa yang terjadi di luar jarak pandang kita. Kita pun tak perlu lagi mengeluarkan uang lagi untuk membeli surat kabar dan majalah untuk melek informasi. Sekarang, saat kita bangun tidur, kita sudah bisa membuka smartphone kita dan membaca kabar berita di website. Jangankan di website, berbagai media sudah tersedia berbagai berita, baik itu artikel maupun pranala ke berita itu. 

Media sosial benar-benar telah membuka mata kita. Membuka mata untuk tahu apa yang terjadi di luar jarak pandang kita. Kita pun tak perlu lagi mengeluarkan uang lagi untuk membeli surat kabar dan majalah untuk melek informasi. Sekarang, saat kita bangun tidur, kita sudah bisa membuka smartphone kita dan membaca kabar berita di website. Jangankan website, berbagai media massa mempunyai halaman medsos untuk menarik pelanggan dan memudahkan pembacanya mendapatkan berita.

Medsos pun menjadi tempat diskusi bagi siapapun. Siapa saja berhak membuka topik, mengajukan pendapat dan menyanggahnya, dan mengajukan kritik dan saran. Siapapun dia, apapun pekerjaannya, bagaimana strata sosialnya, semua berhak untuk berekspresi. Dari anak-anak, remaja alay, remaja masjid, tukang becak, ibu-ibu sampai mahasiswa dan akademisi mampu mengeluarkan statemen mereka masing-masing tentang suatu hal. Banyak perkara yang diekspresikan dalam medsos, mulai dari curhat, sharing pengalaman pribadi sampai membicarakan isu-isu kontemporer. Ibu rumah tangga saat ini pun lantang mengkritik pemerintahan Joko Widodo hingga dipidana gara-gara ujaran kebencian. Akhirnya, muncul statement, "Ibu-ibu 2017 lebih kritis dari mahasiswa 2017 karena mereka  adalah mantan aktivis 1998." Jelas ini menyindir kita yang masih duduk di bangku kuliah.

Konten media sosial pun beragam. Mulai dari curhatan remaja alay, sharing pengalaman, tutorial, sampai membahas politik. Kalau dulu, menulis  berita atau opini tentang politik, ekonomi, hukum dsb. hanya bisa melalui media massa seperti koran dan majalah. Penulis harus bersaing dengan ribuan penulis lainnya agar tulisannya dimuat. Dalam sehari, kira-kira hanya satu atau dua tulisan yang dapat dimuat di media massa. Sekarang, apapun bisa dituliskan dan dibagikan. Postingan di medsos tak memandang siapa dan bagaimana yang membagikannya. 

Pengguna media sosial di Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Pengguna media sosial di Indonesia mencapai 106 juta orang dan 85% dari penggunanya mengakses media sosial melalui perangkat seluler. Pengguna media sosial didominasi oleh generasi milenial (lahir kira-kira 1980-1990an) dan generasi X (kira-kira yang lahir pada 1990-2000an, ditandai dengan generasi yang telah melek internet, ). Platform yang paling banyak digunakan adalah Fecebook, Instagram dan YouTube. Jumlah yang besar, bukan?

Selalu ada yang dibicarakan di media sosial hari ini (Ini adalah trending topic di Twitter 27 Oktober 2017)

Besarnya pengguna medsos di Indonesia mempengaruhi medsos itu sendiri. Orang Indonesia secara umum banyak bersikap reaktif terhadap suatu isu. Maka, mereka dengan cepat mengomentari dan membagikan posting yang mengubah  emosi mereka. Selalu ada yang ditanggapi dan dikomentari sehingga menjadi viral. Terakhir, berita kematian Choirul Huda, kiper Persela, kebakaran pabrik mercon di Tangerang, gol solo run Terens Puhiri vs Mitra Kukar, dan foto kasih sayang anak terhadap orang tuanya di kereta viral di media sosial. 
Foto yang menggambarkan cinta kasih keluarga yang viral di medsos beberapa hari lalu. Sumber: Restoris A. Fathia 

Saking banyaknya postingan di media sosial, kita kadang tidak mencari validitas isinya. Benarkah kiriman tersebut? Apakah ia berasal dari sumber terpercaya? Kalau benar, mari kita sebarkan. Kalau tidak, sebaiknya kita waspadai! Seharusnya, kita melacak kebenaran berita tersebut. Jika tidak benar, itulah yang dinamakan hoax.

Fenomena Hoax di Media Sosial

Kita sudah sering menjumpai istilah hoax. Banyak di antara kita yang menanggapi sebuah berita, "Ah, hoax tuh!" tapi mungkin belum banyak yang tahu apa itu hoax. Saya akan menjelaskannya di bawah ini.

Hoax adalah berita bohong. Menurut Hoax menurut Oxford berarti "malicious deception" yang artinya "kebohongan yang dibuat untuk tujuan jahat. Hoax merupakan penyelewangan berita dari konteks aslinya untuk tujuan tertentu. Biasanya untuk meraih keuntungan dari kunjungan orang ke situsnya. Agar terlihat menarik, pencipta berita hoax akan mencatut sumber-sumber yang katanya valid dari pemerintah atau dari lembaga manapun, agar mengundang kesan terpercaya.
Berita hoax di Indonesia sudah tak terkira jumlahnya. CNN Indonesia melansi data dari Kemenkominfo bahwa telah beredar lebih dari 800.000 situs hoax dan ujaran kebencian selama 2016. Itu saja baru situsnya, lho! Bayangkan, berapa jumlah berita dan artikel hoax yang sudah muncul?! 

Hoax ada berbagai macam. Macam-macam hoax adalah  hoax proper, yaitu berita yang benar-benar bohong yang memang dibuat sengaja untuk menipu orang. Kedua, berita dengan judul dan isi tidak sesuai. Judulnya heboh dan bikin penasaran, tapi isinya berbeda. Pasti banyak berita yang demikian.
Foto Ahok yang sempat viral di masa tahanannya. Katanya, penjara ada kolam renang. Padahal, ini foto tahun 2014

Ketiga, Berita benar dalam konteks menyesatkan. Dalam kasus ini, kebanyakan penyebar menggunakan berita atau sumber lama namun diangkat kembali di media. Salah satu hoax model ini yang beredar adalah foto Ahok sedang berenang. Foto tersebut disebarkan oleh akun @icm212 pada 3 Agustus lalu dan viral di jagat Twitter. Tertulis dalam unggahan tersebut "Penjara model baru.. ada kolam renang alamnya." Foto itu memang benar Ahok lagi berenang. Namun, foto tersebut adalah foto tahun 2014 saat beliau masih menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta. Saat itu, Ahok bersama keluarga berwisata ke pantai pribadinya di Manggar, Belitung Timur. Foto tersebut menimbulkan polemik di kalangan warganet.

Untuk apa hoax dibuat? Ada berbagai motif di balik berita hoax. Pertama, mengejar keuntungan materil. Sekali klik, pengedar berita hoax bisa mendapatkan uang melalui Pay per Click (PPC) dan iklan dalam website tersebut. Najwa Sihab dalam Mata Najwa pernah mewawancarai seorang publisher berita hoax. Dalam sebulan, penghasilan berita hoax telah mencapai Rp 300-500 juta per bulan. Dalam setahun, berarti ada penghasilan sampai Rp 5 miliar yang dia dapatkan dari situ.
Baca juga: Penyalahgunaan Informasi/Berita Hoax di Media Sosial - mti.binus.ac.id

Kedua, mengejar kepentingan golongannya. Hoax bukan hanya untuk materi, tapi juga untuk mengajak masyarakat untuk percaya satu hal kemudian bersikap untuk itu. Misalnya begini, si A anti terhadap pemerintah sekarang. Untuk mendukung keyakinannya, ia mencari berita-berita yang kredibel kemudian ia pelintir agar menimbulkan kesan seperti opininya. Atau, dia mendapatkan foto seseorang kemudian dia buat berita sesukanya tanpa melihat kebenaran berita tersebut. Contohnya seperti foto Ahok yang pernah saya jelaskan di atas. Mungkin karena sangat benci Ahok pake banget, dia membuat hoax tentang Ahok berenang ria selama masa tahanan. 

Ada juga yang buat cari sensasi. Biasanya penyebar akan membuat berita tentang korban bencana, peristiwa alam dsb. Untuk meyakinkan kalau peristiwa alam akan terjadi, si pencipta hoax akan mencatumkan nama lembaga terkait dalam infonya agar banyak pembaca yang mempercayai kejadian tersebut. Padahal, belum tentu lembaga tersebut mengeluarkan keputusan. Salah satu yang pernah menggegerkan adalah berita tentang gemuruh langit di Aceh. Pesan ini tersebar sejak saya masih menggunakan BlackBerry Messenger medio 2014. Parahnya, pesan ini membawa-bawa ulama.

Dengan dalih kebebasan pers, hoax pun merajalela di warganet. Hoax disebarkan oleh mereka yang tidak paham fakta, tidak tahu kode etik tapi asal mempublikasikan. Pers yang hakiki adalah pers yang bertanggungjawab, bukan serampangan. Kalau apa yang dibuat tidak terbukti, pidana bisa mengancam seperti Saracen. Jika untuk kritik, harus disertai dengan data dan solusi. Tanpa bukti, itu bukan kritik tapi fitnah dan lagi-lagi hoax.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Ringan Tangan Menyebarkan Hoax - kompasiana.com
Hoax di medsos sudah merajalela. Hampir setiap hari kita dijejali dengan kabar-kabar bohong di medsos manapun, baik di medsos biasa maupun di media chatting. Karena kebencian terhadap suatu golongan, berita bohong pun dibuat untuk menjatuhkan lawannya. Padahal, Islam sendiri sudah memperingatkan kita untuk menjauhinya karena sama saja dengan membicarakan orang lain. Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat Abu Hurairah ra.: 
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Artinya: “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”
Hadits di atas menjelaskan bahwa kita tidak boleh membicarakan keburukan orang lain dalam di belakangnya (tidak hadir dengan kita), baik keburukan tersebut benar adanya atau malah tidak benar. Benar tidaknya keburukan tersebut, sama saja kita dilarang karena orang yang digosipin itu pastinya membeci hal tersebut. Lha wong ghibah aja gak boleh, apalagi menyebarkan keburukan orang di media sosial!
Gosip aja gak boleh, apa lagi menyebar aib orang di medsos (Sumber gambar: Tom Mc Ifle)

Pemerintah pun sudah punya payun hukum untuk menanggulangi hoax dengan UU ITE. Akan tetapi, undang-undang ternyata belum dirasa cukup. Literasi media adalah langkah tepat untuk melawan persebaran berita hoax. Kita terbiasa mencari berita daring secara cepat, dengan membaca halaman pertama atau paragraf pertama berita. Padahal, kita harus membaca secara utuh. Setelah membaca, kita langsung membagikannya. Inilah yang membuat hoax cepat tersebar.
Pemerintah punya UU ITE untuk menanggulangi hoax (Sumber: elsam.or.id)

Di mana-mana, hoax telah meresahkan masyarakat kita. Berkali-kali pemangku kebijakan mengeluarkan klarifikasi atas berita hoax. Huh, gak capek klarifikasi terus? Jika tidak cermat, masyarakat akan terbawa isu hoax. Akibatnya, mereka disesatkan dengan berita-berita bohong. Mereka akan gampang curiga sama orang atau kelompok lain, menyerang mereka secara fisik dan mental, sampai kekerasan berdalih SARA muncul lagi. Hoax pun mempermalukan satu golongan. Saya kesal kalau melihat berita hoax yang disebarkan oleh umat Muslim sendiri. Lagi-lagi, foto Ahok berenang yang saya jadikan contoh. Akun penyebar membawa nama 212, aksi massa terbesar yang pernah dilakukan umat Islam di Indonesia. Otomatis, hoax akan menimbulkan reaksi negatif terhadap kita. "Orang Islam sama aja! Mereka juga bikin hoax."

Stop Hoax!
Sudah tau kan apa itu hoax dan dampaknya? Hoax benar-benar telah menyesatkan dan merugikan masyarakat. Jadi, masih percaya hoax?

Kalau tadi sudah dijelaskan ma huwa hoax, sekarang kita akan berbicara bagaimana menangkalnya. Adapun cara menangkal hoax sebagaimana dilansir rappler.com adalah:
  1. Rutinlah membaca berita dari media yang well-established dan dihormati.
  2. Orang yang paling rentan hoax adalah orang yang jarang mengonsumsi berita.
  3. Kalau suatu berita kedengarannya tidak mungkin, bacalah dengan lebih teliti karena seringkali itu karena memang itu tidak mungkin.
  4. Jangan share artikel/foto/pesan berantai tanpa membaca sepenuhnya dan yakin akan kebenarannya.

Sebenarnya tidak sulit untuk melawan hoax. Perilaku kita-lah yang menyulitkan kita menangkal hoax. Kalau sudah fanatik dengan sesuatu, kita pasti akan mencari bukti yang memperkuat pendapat kita tanpa mengecek kebenarannya walau belum tentu informasi tersebut benar. Ibarat orang kelaparan, apa saja dimakan tanpa tahu halal-haramnya. Makanya, berhati-hatilah dalam membaca media! Kalau benar dan terpercaya, silakan bagikan! Kalau tidak, lebih baik kita simpan sendiri saja dan tidak usah dibagikan.

Cari dan Tulislah yang Bermanfaat

Mengapa kita terlalu sering terjebak hoax? Kalau masih ada yang terpercaya, kenapa harus pilih yang hoax? Toh, masih banyak berita-berita yang benar dan terpercaya! 

Di internet masih banyak situs-situs yang menyebarkan berita positif. Media sosial pun demikian, masih banyak orang yang mau berbagi pengalaman dan tips-tips positif. Keasliannya tentu bisa kita jamin karena yang menyebarkannya pernah menjalani pengalaman atau mengunjungi suatu tempat.

Jika ingin membagikan informasi yang benar-benar valid, sebaiknya kita memahami sumber informasi tersebut. Agar memahami isinya, lebih baik membaca 2 sumber berita terperaya. Kita lebih baik pula mengetahui kredibilitas narasumber berita, apakah memang ahli di bidangya, atau hanya orang biasa yang ikut-ikutan trend?!
Daripada menyebar hoax, mending berbagi yang bermanfaat!

Tidak hanya menjadi pembaca, kita juga bisa menjadi publisher informasi. Kita juga bisa berbagi pengalaman, berbagi hasil kunjungan ke tempat wisata menarik, dan hasil karya kita di media sosial. Facebook, Instagram, serta berbagai platform dapat kita gunakan sebagai media berbagi. Mau lebih profesional? Blog bisa jadi medianya. Kita dapat berbagi pengalaman via blogging. Selain berbagi pengalaman, kita dapat menjalin relasi sesama blogging.

Banyak rekan-rekan blogger berbagi pengalaman dengan blognya. Ada travel blogger yang membagikan pengalaman berwisata. Beauty blogger tak mau kalah, mereka berbagi tips-tips seputar kecantikan. Ada pula blogger yang berbagi tips dan tutorial blogging. Ada juga blogger yang membagikan pengalaman hidup, hingga review produk, film, game dan lain-lain. Mereka saling berbagi dan bertukar pengalaman dengan pembacanya dan sesama blogger. Mereka punya cara dan niche masing-masing yang berbeda, tapi punya satu tujuan, yaitu berbagi.

Dari sini kita dapat berkesimpulan bahwa semua informasi di media sosial tak dapat dibendung karena ia dibagikan oleh banyak orang tanpa memandang siapa dan bagaimana yang menyebarkannya. Karena informasi berlimpah, kita terkadang tidak mampu menyaring berita yang sahih dari yang bohong. Berita hoax pun ikut tersebar dan selalu tersebar selama orang memilih untuk membaca sesuai yang dia inginkan tanpa klarifikasi. Akibatnya, banyak orang terhasut berita hoax dan saling curiga satu sama lain hingga menimbulkan intoleransi dan kekerasan. Semestinya kita mengklarifikasi sumber berita sebelum menyebarkannya. Lebih baik lagi jika kita yang mempublikasikan sebuah informasi yang benar lagi berguna. Informasi tersebut, selain dapat dipertanggungjawabkan, juga dapat menginspirasi orang lain.


0 Comments: