Khutbatu-l Arsy Kedua di UNIDA Gontor sebagai Momentum Pembaharuan Niat

8/16/2018 05:35:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Pekan Perkenalan Khutbatu-l 'Arsy telah dilaksanakan di Universitas Darussalam Gontor pada hari Rabu hingga Kamis 8-9 Agustus 2018 lalu. Khutbatu-l 'Arsy kali ini adalah penyelenggaraan yang kedua setelah yang pertama dilaksanakan tahun 2017 lalu. Khutbatu-l 'Arsy tahun ini dilaksanakan dengan prosesi yang sama dengan tahun lalu atau yang biasa diadakan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Apel Tahunan dilaksanakan terlebih dahulu dengan upacara bendera, kemudian dilanjutkan dengan penampilan-penampilan dan diakhiri dengan parade barisan mahasiswa antar program studi. 


Penampilan-penampilan dalam Apel Tahunan mempertunjukkan berbagai atraksi kesenian Indonesia dari mahasiswa UNIDA Gontor. Mahasiswa menampilkan berbagai pertunjukan seni tradisional seperti Kentongan dari Banyumas, Campursari dari Surakarta, Topeng Ireng dari Magelang, dan kombinasi antara Tari Malulo dari Kendari Sulawesi Tenggara dan Poco-Poco dari Malulo yang menjadi Tarian Indonesia Timur. Selain kesenian tradisional, mahasiswa UNIDA Gontor juga menampilkan atraksi ekstrem seperti Pencak Silat, Taekwondo, dan Lempar Pisau dan Kapak (Lempika) oleh Resimen Mahasiswa (Menwa). Terakhir, mahasiswa menampilkan puisi dan sebuah persembahan untuk Dr. Dihyatun Masqon, M.A. Beliau wafat pada hari Rabu, 28 Februari 2018 lalu. Kepergian beliau masih menyisakan duka bagi kami mengingat beliau telah berjasa untuk kemajuan UNIDA dan beliau khas dengan keramahannya kepada semua orang.

Setelah pertunjukan seni, Apel Tahunan berlanjut dengan parade barisan mahasiswa antar program studi. Seluruh mahasiswa ikut serta dalam barisan prodi, termasuk mahasiswa pascasarjana dan peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU), kecuali mahasiswa S1 dari luar negeri. Mereka ada dalam barisan sendiri. Barisan mahasiswa asing berbeda dari tahun lalu. Jika tahun lalu mereka dipersatukan dalam satu barisan "Mahasiswa Luar Negeri", kali ini barisan dibuat berdasarkan negara asal mereka. Ada barisan mahasiswa dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand. Mungkin ini dibuat agar civitas academica UNIDA Gontor mengetahui negara asal mashasiswa. Selebihnya, seluruh mahasiswa ada dalam barisan prodinya masing-masing.

Baca juga: Alhamdulillah, Khutbatul Arsy Perdana di UNIDA Gontor Dilaksanakan


Khutbatu-l 'Arsy memiliki makna penting bagi mahasiswa UNIDA Gontor. Ia merupakan perpeloncoan bagi seluruh mahasiswa. Khutbatu-l 'Arsy adalah untuk mengenalkan universitas serta menguji kesanggupan dan keteguhan niat untuk ibadah thalabul 'ilmi (mencari ilmu) kepada mahasiswa baru serta memperbaharui niat untuk mahasiswa lama. Seakan-akan rektor sebagai kiai dalam universitas bertanya, "Anak-anakku, kalian sudah kami kenalkan UNIDA Gontor dan kegiatannya. Siapkah kalian memperbaharui niat kalian untuk ibadah thalabul 'ilmi dan hidup bermasyarakat di kampus ini??" 

Agenda penting lainnya dalam pekan perkenalan ini adalah Kuliah Umum tentang Kepondokmodernan yang disampaikan oleh Pimpinan Pondok dan Rektor UNIDA Gontor. Kuliah umum memperkenalkan sejarah UNIDA Gontor, sistem, nilai, dan langkah-langkah menuju World Class University. Seluruh pihak ikut serta dalam agenda ini, mulai dari mahasiswa, dosen, staf, dan tenaga kependidikan. Kuliah umum dilaksanakan untuk menyamakan persepsi dalam internal kampus, agar semua memahami sistem dan nilai-nilai kepondokmodernan dalam UNIDA Gontor.
Khutbatu-l 'Arsy adalah pekan perkenalan UNIDA sebagai lembaga Gontor. Cita-cita Gontor adalah menjadi universitas Islam yang bermutu dan berarti. Para pendiri Gontor (KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fannanie, KH. Imam Zarkasyi. Disebut juga dengan Trimurti) telah mencita-citakan Gontor menjadi universitas Islam sejak penyerahan wakaf tahun 1958, bahkan jauh sebelum itu. Meski demikian, apa yang dicapai oleh UNIDA Gontor masih jauh dari apa yang dicita-citakan para pendiri. Para pendiri mewakafkan Pondok waktu itu demi keberlangsungan pendidikan di Pondok Modern. Para pendiri kala itu berkaca dari pengalaman pondok-pondok pesantren tradisional tempat mereka belajar. Dalam kacamata mereka, pondok pesantren tradisional adalah milik kiai. Jika kiai wafat, maka kepemimpinan pondok akan diteruskan oleh keturunannya. 

Dalam Khutbatu-l 'Arsy, KH. Hasan menekankan bahwa kita harus tahu dan mengerti "why" dan "what for". Mengapa dan untuk apa kita hidup, mengapa dan untuk apa kita belajar. Bahkan kita harus memahami mengapa dan untuk apa kita duduk (dalam pertemuan). Kita harus mengerti apa yang kita lakukan, mengapa kita melakukannya, apa tujuan kita melaksanakan sesuatu.

Selanjutnya, di atas pondok hanya Allah, di bawahnya hanya tanah. Gontor tidak di bawah yayasan, organisasi massa (ormas), atau organisasi politik (orpol) manapun. Bahkan yayasan berada di bawah otoritas pimpinan pondok. Gontor berdiri di atas dan untuk semua golongan. Gontor tidak boleh dibawa ke arah ormas atau orpol manapun siapapun yang menjadi kiainya. Pihak manapun tidak berhak mengintervensi Keterbukaan yes, intervensi no!

Islamisasi ilmu pengetahuan adalah core UNIDA Gontor. Islamisasi ilmu pengetahuan lebih dari sekadar integrasi ilmu, islamisasi ilmu "mengislamkan" cara pandang terhadap ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmu pengetahuan hadir karena ada ghazwul fikri hebat yang hadir saat ini. Sekularisme, pragmatisme, liberalisme dan isme-isme menyimpang lainnya telah merambah ke dalam dunia pendidikan tinggi. Dalam proses islamisasi ilmu pengetahuan, seluruh mahasiswa dari prodi wajib mempelajari studi-studi Islam. Inilah yang dilakukan UNIDA Gontor untuk mencapai universitas Islam yang bermutu dan berarti. Siapapun yang memimpin UNIDA nantinya, islamisasi ilmu pengetahuan harus tetap menjadi core.

UNIDA Gontor mandiri dalam sistem, kurikulum, Sumber Daya Manusia (SDM), dan dana. Sistem pesantren menjadikan UNIDA Gontor mandiri serta mendidik kemandirian mahasiswa. Kurikulum UNIDA Gontor terintegrasi dengan mengacu pada Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) dan mengintegrasikannya dengan kajian Islamisasi ilmu pengetahuan. Seluruh program studi (prodi) juga wajib mengikuti akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). UNIDA Gontor juga melatih mahasiswa untuk melaksanakan seluruh kegiatan mereka secara mandiri. Dosen dan tenaga kependidikan turut dilatih mandiri dengan mengajar dan ikut membimbing mahasiswa tanpa menanyakan upah. UNIDA Gontor mandiri dalam pendanaan dengan mengandalkan iuran mahasiswa dan unit-unit usaha, tanpa bergantung dari dana bantuan.

Sebagai mahasiswa santri, kita harus berkomitmen untuk ibadah mencari ilmu. Pendidikan pesantren UNIDA Gontor berorientasi pada pengajaran ayat-ayat Allah, penyucian jiwa (tazkiat an-nafs), dan pendidikan agama Islam serta pengetahuan umum

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui (Al-Baqarah 151).

Terakhir, untuk menuju World Class University, UNIDA Gontor harus berkaca pada kuantitas dan kualitas mahasiswa, lulusan, dosen dan SDM penunjang lainnya. Kita harus berusaha mencapai standar yang telah ditetapkan oleh lembaga-lembaga pemeringkat seperti BAN-PT, ISO dll. Kendatipun, UNIDA Gontor harus bisa mencapai standar ranking yang telah digariskan oleh pondok, merujuk pada Piagam Penyerahan Wakaf tahun 1958, yakni menjadi universitas Islam yang bermutu dan berarti serta menjadi pusat pengkajian ilmu Islam, bahasa Arab, dan ilmu pengetahuan umum dengan berjiwa pondok.


Akhir kata, perlu disampaikan bahwa Khutbatu-l 'Arsy di UNIDA Gontor adalah masa orientasi bagi seluruh civitas academica UNIDA Gontor. Seluruh pihak terlibat dan semuanya melewati masa-masa perpeloncoan ini. Diharapkan semuanya menata niatnya kembali dalam menempuh studi di UNIDA Gontor. 

Tulisan ini adalah buah pikiran saya atas apa yang disampaikan dalam Khutbatu-l 'Arsy lalu, maka sangat mungkin terdapat kesalahan dalam penulisannya. Untuk itu, saya memohon maaf atasnya dan meminta kritik, saran dan koreksi dari semua pihak yang lebih memahami.

0 Comments:

Asian Games 2018: Daerah Bisa Apa?

8/13/2018 10:11:00 am Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 1 Comments


Gaung Asian Games 2018 sudah terdengar membahana di Indonesia. Indonesia kali ini menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Asian Games ke-18 yang dimulai pada tanggal 18 Agustus 2018 (18-8-18). Angka cantik, tho?! Tahun ini, dua kota besar di Indonesia dipercaya untuk menghelat pesta olahraga se-Asia. Kota tersebut adalah Jakarta atau ibukota Indonesia dan Palembang yang merupakan ibukota provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Selain Jakarta dan Palembang, ada dua provinsi lagi sebagai tuan rumah penunjang, yaitu Jawa Barat dan Banten

Penyelenggaraan Asian Games tahun ini adalah penyelenggaraan kedua bagi Indonesia. Sebelumnya, Indonesia telah menyelenggarakan Asian Games saat Indonesia masih dipimpin presiden Sukarno, tepatnya pada tahun 1962. Indonesia menjadi tuan rumah dalam perhelatan keempat sejak tanggal 24 Agustus sampai 4 September 1962. Kurang lebih 1460 atlet dari 17 negara berpartisipasi dalam event olahraga ini. Terdapat 15 cabang olahraga dan satu cabang olahraga eksibisi yang dilombakan dalam Asian Games ini. Menyambut Asian Games 1962, Indonesia pun banyak membangun dan mendirikan infrastruktur megah.  Pemerintah membangun stadion termegah di Indonesia, Gelora Bung Karno (GBK) dan komplek olahraga Senayan beserta fasilitas penunjang seperti Stadion renang, Stadion tenis, dan stadion madya. Tidak hanya itu, pemerintah mendirikan saluran televisi nasional yang kita kenal dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI) untuk menyiarkan pembukaan Asian Games. TVRI memulai siaran pada hari pembukaan Asian Games tanggal 24 Agustus 1962. Jepang menjadi pemenang dalam Asian Games keempat dengan perolehan 73 medali emas, 65 medali perak, dan 23 perunggu (total 161 medali). Sedangkan Indonesia menjadi runner-up dengan perolehan 21 medali emas, 26 perak, dan 30 perunggu (total 77 medali).

Saat ini, Indonesia tengah bersiap-siap menanti Asian Games yang tinggal beberapa hari lagi. Indonesia sudah lama bersolek untuk menyambut tamu-tamu delegasi dari negara-negara Asia. Pemerintah mendirikan Indonesia Asian Games Organizing Commitee (INASGOC) yang bertugas sebagai panitia pelaksana (panpel) yang merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan Asian Games 2018. Sebagai pantia pelaksana, INASGOC melakukan revitalisasi venue acara di empat provinsi tersebut. 
Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pasca renovasi (sumber: Wikimedia Commons)

Pembangunan dan revitalisasi dilaksanakan untuk menyukseskan Asian Games. Pemerintah membangun dan merenovasi sarana-saran yang akan digunakan sebagai lokasi perlombaan Asian Games. Bahkan, pemerintah melakukan revitalisasi jor-joran terhadap beberapa tempat perlombaan Asian Games. Salah satu tempat yang direnovasi adalah stadion Gelora Bung Karno (GBK). GBK dipercantik dengan menjadikannya all-seater (semua tempat duduk dengan kursi tunggal). Pencahayaan di GBK pun ditingkatkan dengan lampu berkapasitas 3500 lux. Selain GBK, venue  yang direnovasi besar-besaran adalah Velodrome di Rawamangun, Jakarta Timur. Velodrome ini dibangun dengan untuk menampung 2000 penonton. Velodrome Rawamangun sudah memenuhi standar internasional sehingga mendapatkan kategori 1 dalam sertifikasi oleh Union Cycliste Internationale (UCI). Bahkan, velodrome dianggap sebagai arena balap sepeda terbaik se-Asia. Ada juga Jakarta Equestrian atau arena pacuan kuda di Pulomas, Jakarta Timur. Arena pacuan kuda ini dibangun agar berstandar internasional. Beberapa fasilitas ditambah seperti kandang kuda, klinik kuda, arena dengan rumput berkualitas, tribun berkapasitas 900 penonton, dan asrama bagi perawat kuda.

Selain pembangunan arena pertandingan, pemerintah juga membangun sarana-prasarana penunjang. Di antara sarana penunjang adalah Light Rapid Transit (LRT). LRT ini akan menghubungkan antara Kelapa Gading dan Rawamangun. Jaraknya pendek saja, hanya 5,8 km. Namun, LRT Jakarta akan menghubungkan tempat penyelenggaraan penting Asian Games. LRT akan menghubungkan Mall Kelapa Gading dengan Velodrome Rawamangun. Hal ini tentu akan mempermudah akses transportasi bagi yang hendak menyaksikan perlombaan balap sepeda.

Lain Jakarta, lain Palembang. Kota terbesar di Sumatera Selatan tersebut punya cara tersendiri untuk menyambut Asian Games. Pemerintah di sana merenovasi Jakabaring Sports Complex yang telah menjadi tempat event-event olahraga kelas internasional. Beberapa lokasi yang dibangun kembali atau direnovasi adalah arena voli pantai, arena kano di Jakabaring, Stadion Gelora Sriwijaya, GOR Raung yang disponsori oleh ConocoPhilips, GOR Dempo dan sebagainya. 

Kereta LRT Palembang (Wikipedia)

Sumsel juga membangun Light Rapid Transit (LRT) Palembang. LRT Palembang memiliki satu jalur dengan panjang 24,5 km. LRT Palembang memiliki 13 stasiun dari Stasiun Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sampai stasiun DJKA. Stasiun ini diharapkan dapat menunjang mobilitas masyarakat Palembang. Di antara stasiun LRT Palembang, terdapat dua stasiun LRT yang terhubung dengan arena Asian Games, yakni stasiun LRT Bumi Sriwijaya dan Jakabaring. Hal ini tentunya sangat mendukung akses bagi peserta, ofisial, dan penonton Asian Games.

Selain pembangunan sarana prasarana, pemerintah Sumsel juga menjaga serta menjamin keamanan Sumsel selama penyelenggaraan Asian Games. Sumsel merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang rawan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla, pemprov Sumsel menetapkan status Siaga Merah. Pemprov Sumsel beserta TNI, Manggala Agni, dan BNPB akan mengintensifkan patroli ke kawasan-kawasan rawan. Ini dilakukan karena bulan Agustus diperkirakan menjadi puncak musim kemarau. Musim kemarau pun rawan kebakaran hutan. Apabila kebakaran hutan terjadi, polusi udara bisa sampai ke Palembang dan mengganggu jalannya Asian Games.

Daerah Bisa Apa?
Asian Games memang hanya dilaksanakan di Jakarta dan Palembang. Mustahil sebuah penyelenggaraan agenda olahraga diadakan di banyak kota di Indonesia. Anggaran  yang diperlukan pun akan bertambah dan dana APBN bisa jebol untuk mempersiapkannya. Selain itu, penyelenggaraan akan tidak efisien karena jaraknya yang berjauhan dan membutuhkan biaya operasional yang besar. Maka, mayoritas even olahraga di dunia termasuk Asian Games diadakan di satu-dua kota.

Kalau Asian Games hanya di Jakarta dan Palembang, apakah daerah-daerah lain tidak perlu terlibat dalam Asian Games? 

Tidak! Acara Asian Games ini adalah hajatan nasional. Semua komponen negara terlibat dalam menyukseskannya. Pemerintah bertanggungjawab atas penyediaan sarana dan prasarana. INASGOC menyiapkan pelaksanaan acara. TNI dan Polri menjamin keamanan acara dan sebagainya hingga tak saya mampu sebutkan satu per satu. Masyarakat pun banyak terlibat, entah sebagai relawan, pelaku usaha, atau meramaikan lewat karya-karya lukisan mural, gapura (pas juga untuk menyambut HUT RI ke-73).

Lalu, bagaimana dengan di daerah? Apa yang bisa dilakukan untuk menyambut Asian Games?

Untuk menyambut Asian Games, ada banyak yang bisa dilakukan oleh masyarakat di luar kota tuan rumah Asian Games. Asian Games merupakan hajatan nasional maka semuanya perlu mendukung kesuksesan Asian Games. Ada beberapa yang bisa dilakukan untuk mendukung lancarnya penyelenggaraan Asian Games tahun ini.

Pertama, kita bisa meramaikan kampung dengan pernak-pernik bertema Asian Games di lingkungan kita. Menyambut Asian Games, kita bisa menghias kampung dengan aneka rupa hiasan berbau Asian Games seperti gapura. Kebetulan, Asian Games akan dibuka tepat sehari setelah HUT RI ke-73. Masyarakat kita terbiasa mendirikan gapura untuk menyambut kemerdekaan RI di pintu masuk kampung-kampung. Sekarang, kita bisa membuat gapura kampung untuk menyambut hari kemerdekaan dan Asian Games sekaligus. Apalagi, Kemenkominfo mengadakan Lomba Gapura yang berhadiah puluha juta rupiah. Pastinya tambah semangat bikin gapuranya.

Kedua, selalu memperbaharui informasi tentang Asian Games. Kita bisa mengakses lewat media sosial dan situs-situs berita yang ada. Asian Games sendiri punya akun media sosial dan situs yang bisa kita jangkau untuk meng-update-berita tentang perlombaannya.

Twitter: @asiangames2018
Instagram: @asiangames2018

Ketiga, mendukung Indonesia di setiap perlombaan Asian Games. Tim Indonesia bertarung di Asian Games tidak hanya untuk meraih medali, tapi juga untuk menjaga nama ibu pertiwi. Mereka telah berlatih keras untuk membanggakan keluarga, daerah, dan negara tentunya. Apalagi bertanding di rumah sendiri, pasti ada rasa bangga sekaligus beban. Mereka tentu tidak ingin menanggung malu karena kalah di kandang sendiri. Kita bisa mendukung Tim Indonesia dengan mendoakan dan menyaksikan setiap pertandingan Asian Games. Bisa juga dengan mengadakan nonton bareng (nobar) pertandingan-pertandingan besar. Dukungan kita untuk Indonesia di piala AFF U-16 lalu berbuah manis denagn hasil juara. Masak semangat kita kendor di Asian Games?! 

Kita juga bisa mendukung setiap putra daerah yang berlaga. Saya yang saat ini tinggal di kota Reog Ponorogo juga baru tahu ada atlet asal Ponorogo yang berlaga di Asian Games 2018. Mereka adalah Galih Bayu Saputra yang masuk di tim voli putra dan Aji Bangkit Pamungkas yang bermain di cabang pencak silat. Mari kita doakan semoga putra daerah kita masing-masing meraih hasil terbaik di Asian Games..
Sumber: Facebook

Terakhir, menjaga keamanan lingkungan agar kondusif. Asian Games kan di Jakarta dan Palembang, koq daerah juga harus ikut menjaga keamanan? Iya, dong! Keamanan lingkungan dan daerah kota adalah tanggung jawab bersama. Apabila terjadi gangguan keamanan seperti tindak kriminal atau terorisme, maka akan mengganggu keamanan negara dan menghambat penyelenggaraan Asian Games. Indonesia akan dianggap rawan kejahatan dan tidak aman sehingga meresahkan para tamu yang bertandang. Lagipula, ancaman keamanan di daerah bisa merembet ke kota-kota penting Asian Games maka akan mengancam penyelenggaraan dan merusak citra Indonesia.

Itulah tadi beberapa langkah kita mendukung kesuksesan Asian Games dari daerah. Asian Games adalah hajatan kita bersama, maka ayo kita dukung bersama!

Sumber gambar header: jogja.tribunnews.com

1 Comments:

Lapangan Banteng, Taman Kota Jakarta yang Kembali Asri

8/06/2018 02:42:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 2 Comments


Lapangan Banteng, Taman Kota Jakarta yang Kembali Asri - Di akhir Juli, nama Lapangan Banteng kembali ramai setelah lama tak terdengar akibat revitalisasi. Lapangan Banteng kembali asri setelah diresmikan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada hari Ahad, 29 Juli lalu. Namun, keindahan Lapangan Banteng pasca revitalisasi agak tercoreng oleh sebagian oknum saat peresmiannya. Sebagaimana seremoni peresmian fasilitias umum (fasum) pada umumnya, gubernur-lah yang meresmikan Lapangan Banteng dan dihadiri oleh jajaran pemerintah provinsi, keluarga perancang, dan warga Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Ph.D menyampaikan pidato sambutannya. Saat beliau menyebutkan siapa yang merancang revitalisasi Lapangan Banteng sebagai bentuk penghormatan, sebagian massa menyorakinya dan menyebut-nyebut Lapangan Banteng adalah hasil karya gubernur sebelumnya. Memang, gubernur sebelumnya, Pak Basuki Tjahaja Purna (Ahok) yang meresmikan, tapi Pak Anies tentu ikut serta dalam pembangunannya setelah beliau terpilih. Mbok ya tolong hargai usaha mereka semua, lah... biar semua bisa menikmati indahnya dengan bahagia.

Saya tidak mau lagi membahas siapa yang membangun dan merancang Lapangan Banteng yang cantik ini. Sekarang, saya mau mengulas sedikit tentang perjalanan saya ke Lapangan Banteng pada Ramadhan lalu. Kebetulan saya mengunjunginya dua kali selama Ramadhan. Kala itu, lapangan hijau yang mengarah ke Pasar Baru, Jakarta Pusat itu masih dalam tahap revitalisasi. Mungkin karena masih dalam perbaikan dan karena banyak yang pulang kerja atau karena orang-orang kelelahan setelah berpuasa, Lapangan Banteng saat itu agak sepi

Lapangan Banteng adalah taman kota di Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Lokasinya sangat strategis karena di antara kawasan perkantoran dan landmark penting. Ia berada di sebelah timur Monas sejauh kira-kira 1 KM dan diapit oleh Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Kementerian Agama, Kementerian Keuangan, dan Hotel Borobudur. Lapangan Banteng juga dekat dengan Kementerian Luar Negeri dan RSPAD Gatot Soebroto. Aksesnya sangat mudah dan gampang dijangkau oleh angkutan umum dan pribadi. Lapangan Banteng kira-kira berukuran 230x250 M dengan posisi agak condong ke timur laut. 

Lapangan Banteng berdiri pada abad XIX oleh Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels. Dahulu, Lapangan Banteng disbut dengan Waterlooplein. Lapangan Banteng merupakan salah satu dari  lapangan utama di Weltevreden (sekarang Sawah Besar), yakni Buffelsveld (Lapangan Merdeka) dan Waterlooplein. Dinamakan Waterlooplein karena di lapangan ini terdapat patung peringatan pertempuran Waterloo di Belgia. Waterlooplein dahulu digunakan sebagai lapangan militer Hindia Belanda. 

Pada zaman penjajahan Jepang, dibangun patung singa di Lapangan Banteng sehingga namanya berganti menjadi Lapangan Singa. Setelah Indonesia Merdeka, Presiden Sukarno mengganti nama Lapangan Singa menjadi Lapangan Banteng sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Presiden Sukarno juga membangun kembali Lapangan Banteng. Pada tahun 1960-an, Presiden mendirikan Monumen Pembebasan Lapangan Barat yang pembangunannya rampung pada tahun 1963. Monumen tersebut menandai kembalinya tanah Papua ke tanah air setalah penyerahan Papua kepada Indonesia pada tahun 1 Mei 1963.

Lapangan Banteng terbagi ke tiga zona. Zona pertama adalah lapangan utama dengan Monumen Pembebasan Irian Barat, kedua adalah taman kota, dan ketiga adalah sarana olahraga.


Zona pertama merupakan zona utama. Di zona inilah Monumen Pembebasan Irian Barat berdiri. Di sebelah utara zona ini terdapat relief sejarah Indonesia sejak kemerdekaan, Konferensi Meja Bundar (KMB), hingga operasi militer dan penyerahan Irian Barat beserta kutipan dari tokoh-tokoh terkait pembebasan Irian Barat, seperti Presiden Sukarno, Laksamana Yos Soedarso, dan Gubernur Irian Barat Zainal Abidin Syah. Berseberangan dengan relief terdapat kolam dan amphiteater berbentuk setengah lingkaran. Tidak hanya amphiteater dan relief, di zona ini juga terdapat jalan taman dan hutan kota. Jalan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai trek lari. 
Salah satu kutipan dalam relief bersejarah dalam zona Monumen Pembebasan Irian Barat
Zona kedua Lapangan Banteng merupakan zona taman kota. Taman kota ini adalah tempat untuk bersantai-santai. Taman kota terdiri atas ruang terbuka hijau (RTH) lengkap dengan taman bermain anak-anak. Semua kalangan dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa bisa menikmati waktu senggang di sini. Anak-anak bisa bermain di arena bermain bersama orang tua, remaja melakukan jogging, berolahraga dan berswafoto. Orang dewasa bisa berolahraga ringan atau berjalan-jalan keliling taman kota. 
Taman bermain anak dalam Lapangan Banteng (sumber:Kompas.com)

Zona ketiga Lapangan Banteng adalah lapangan sepakbola. Lapangan sepakbola dikelilingi oleh trek lari dan  memiliki bebrapa fasilitas seperti tribun, dan kamar kecil bagi penonton. Lapangan sepakbola di Lapangan Banteng dimiliki Asosiasi PSSI yang kemungkinan digunakan untuk keperluan pertandingan-pertandingan antar klub asosiasi. Ketika saya mengunjungi Lapangan Banteng, lapangan sepakbola masih dalam tahap renovasi berupa perbaikan tribun dan pemasangan fasilitas penunjang berupa kamar kecil.

Saat ini, Lapangan Banteng banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Mereka memanfaatkannya dengan cara beragam. Ada yang sekadar duduk-duduk, ada pula yang  berlari, bersepeda, melakukan workout, berfoto-foto, hingga menjajal kemampuan memainkan drone. Pada kunjungan pertama saya ke sana, saya menjumpai satu tim pilot drone mencoba mainannya di kawasan Monumen Pembebasan Irian Barat. Lalu lintas udara dan keindahan objek menjadikannya spot yang pas untuk uji coba drone. Hasil foto dan video dengan drone pun bagus-bagus. Selain sekumpulan pengguna drone, pada Ramadhan lalu saya menjumpai sekelompok remaja yang asyik ngabuburit sambil menyaksikan drone berputar-putar di langit Lapangan Banteng. Ada juga sekelompok remaja sedang latihan bersama, entah workout atau olahraga lain. Pokoknya setiap orang bisa menikmati Lapangan Banteng dengan cara masing-masing.
Lapangan Banteng dilihat dari udara (sumber: Warta Kota)

Saya sendiri menikmati indahnya Lapangan Banteng di sore hari Ramadhan dengan lari sore. Lari sore saya lakukan di zona Monumen Pembebasan Irian Barat atau zona utama. Saya memilih zona utama karena jalannya lebih panjang jadi saya bisa menempuh jarak lebih jauh dan waktu lebih lama dalam berlari. Selain itu, areal belakang amphiteater yang termasuk dalam zona utama terlindungi oleh pepohonan hijau sehingga terasa lebih teduh.
Hasil lari sore saya di Lapangan Banteng

Lapangan Banteng saat ini elok dan rapi. Alangkah lebih indah kalau kita bersama-sama menjaga. Pak Ahok beserta jajarannya telah membangun dan merancang desainnya, kemudian Pak Anies melanjutkan pembangunan dan meresmikannya. Mereka sama-sama telah membangun warisan Bung Karno. Kita sebagai warga seharusnya turut membantu mereka dengan memeliharanya tetap hijau. Lapangan Banteng adalah hak semua warga, dan kewajiban mereka adalah menjaganya.

Beli mangga di Pasar Menteng
Mangga sekilo lima ribu harganya
Ayo sama-sama merawat Lapangan Banteng
Hijau lapangannya, bahagia semuanya

2 Comments:

Gedung Arca Museum Nasional Jakarta, Tempatnya Jejak Sejarah Indonesia

7/13/2018 11:04:00 am Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 1 Comments


Gedung Arca Museum Nasional Jakarta, Tempatnya Jejak Sejarah Indonesia - Museum Nasional atau Museum Gajah merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi sejarah Indonesia. Museum Gajah terletak di Jl. Medan Merdeka Barat No. 12 Jakarta Pusat. Ia bersebelahan dengan kantor Kementerian Pertahanan RI. Museum Gajah berada di kompleks Medan Merdeka, maka ia masih berada dalam kawasan sekitaran Monumen Nasional (Monas).

Langkah mula pendirian Museum Nasional adalah berdirinya perkumpulan ilmiah Belanda yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG) pada 24 April 1778. Kemudian salah seorang pendirinya, JCM Radermacher, menyumbangkan rumahnya di kawasan Kali Besar (kira-kira di sekitar Tambora, Jakbar) untuk tempat penelitian. Sir Thomas Stamford Raffles yang pernah menguasai Jawa kemudian memindahkan koleksi tersebut ke sebuah bangunan di Jl. Majapahit no. 3 (sekarang kompleks Sekretariat Negara) karena bangunan di Kali Besar sudah tidak mampu menampung koleksi-koleksi. Pada tahun 1862, pemerintah Hindia Belanda kembali memindahkan museum ke lokasi saat ini. 

Museum Nasional disebut pula dengan Museum Gajah karena di halaman museum terdapat patung gajah pemberian raja Siam (Thailand) Chulalongkorn (Rama V). Rama V menyerahkannya pada tahun 1871 ketika ia mengunjungi Museum Nasional. Raja Siam terkesan dengan koleksi-koleksi museum hingga berinisiatif untuk memberikan hadiah sebagai bentuk persahabatan antar kedua negara. Maka patung gajah-lah yang menjadi hadiah sekaligus bukti persahabatan antara Siam dan Hindia Belanda (Indonesia).
Patung Gajah pemberian Rama V dari Sian (Thailand)

Akses menuju Museum Nasional sangat terjangkau dan strategis.  Museum Nasional berseberangan tepat dengan halte bus Transjakarta Monas. Museum Nasional juga dilewati oleh bus wisata Jakarta. Jika hendak bepergian dengan Transjakarta, naiklah bis koridor 1 lalu turun di halte Monas. Jika menggunakan KRL Commuter Line, anda harus turun di stasiun Juanda. Sebenarnya, stasiun terdekat adalah stasiun Gambir, tapi KRL hanya melintas stasiun Gambir. Anda bisa turun di stasiun Gambir bagi yang menggunakan kereta api jarak menengah atau jauh. Setelah itu bisa disambung dengan transportasi online.
Patung "Ku Yakin Sampai di Sana" karya Nyoman Nuarta

Memasuki kawasan Museum Nasional, kita disambut taman kecil dengan patung gajah yang ikonik. Tidak hanya patung gajah, di sebelahnya terdapat patung berbentuk seperti pusaran air. Patung tersebut dinamai "Ku Yakin Sampai di Sana" karya Nyoman Nuarta. Patung tersebut terbuat dari perunggu. Makna patung tersebut adalah keyakinan dan tekad kuat ditambah dengan usaha keras akan melahirkan kesuksesan dan tercapainya segala harapan. Patung ini pula yang menginspirasi logo Museum Nasional. 
Gedung Arca (Gedung B) Museum Nasional Jakarta

Museum Nasional terdiri atas dua bangunan. Satu bangunan utama atau gedung A untuk ruang pameran dan satu gedung B yang juga disebut dengan ruang arca. Ruang B disebut dengan ruang arca karena gedung B menyimpan berbagai arca sejak zaman purbakala. 

Pintu masuk Museum Nasional berada di gedung B. Para pengunjung dikenakan tiket masuk seharga Rp 5.000,00 untuk orang dewasa dan Rp 2.000,00 untuk anak-anak. Tiket masuk akan lebih murah jika berombongan; Rp 3.000,00 untuk dewasa dan Rp 1.000,00 untuk anak-anak. Bagi turis asing dikenakan tiket Rp 10.000,00 per orang. Selain membayar tiket masuk, kita juga harus menulis identitas diri di buku tamu dan melewatkan pemeriksaan barang bawaan. Tas dan barang bawaan lain akan diperiksa isinya. Setelah menjalankan semua prosedur, kita diperbolehkan masuk ke dalam museum. Kita juga diberikan buku panduan singkat mengenai museum, mulai dari denah hingga keterangan singkat mengenai beberapa koleksi.
Gedung B atau gedung arca Museum Nasional terdiri dari 4 (empat) lantai. Setiap lantai menyimpan koleksi-koleksi yang disesuaikan dengan tema. Selain menyesuaikan tema, koleksi-koleksi diurutkan dengan urutan zaman, mulai dari zaman prasejarah di lantai satu sampai ke zaman kerajaan-kerajaan Nusantara di tingkat berikutnya.

Lantai satu Gedung Arca Museum Nasional bertemakan Manusia dan Lingkungan. Ruangan ini menyimpan koleksi artefak-artefak manusia purba dan berbagai informasi terkait masa prasejarah. Beberapa fosil tengkorak dipamerkan di ruangan ini. Ada juga diorama kehidupan manusia purba.  Salah satu yang menarik perhatianku adalah replika gua dengan fosil manusia di pojok ruangan. Fosil tersebut diduga merupakan fosil perempuan dengan usia berkisar 16-50 tahun. 



Lantai dua Gedung B (Gedung Arca ) Museum Nasional bertemakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Ruangan Iptek menyajikan berbagai informasi tentang penggunaan teknologi bagi kehidupan manusia. Dalam ruangan ini, dijelaskan bahwa manusia selalu mengembangkan ilmu dan teknologinya seperti dalam bahasa, astronomi, transportasi, arsitektur, makanan dan pengobatan, komunikasi, dan ekonomi. Sebagai contoh, ruangan ini menceritakan tentang perkembangan bahasa dan aksara dari bahasa dari bahasa kuno. Dalam bidang transportasi, museum menceritakan bagaimana manusia mengembangkan transportasi mulai dari perahu dan mobil lawas. Di bagian ini dipamerkan juga perahu dari semacam kayu kelapa berukuran  sangat panjang yang kira-kira digunakan oleh masyarakat pedalaman. Di sini juga ada bendera kapal yang bervariasi dengan artinya.






Lantai 3 (tiga) Gedung B (Gedung Arca) Museum Nasional bertema Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman. Jangan bayangkan organisasi sosial dalam tema ini berarti organisasi masyarakat (ormas) dan organisasi politik (orpol) seperti yang ada sekarang, ya! 
Pertama kali mendengar tema Organisasi Sosial, aku pun membayangkan Museum Nasional akan menceritakan berbagai ormas di Indonesia.  
Bukan! Maksud organisasi sosial di sini adalah sistem sosial masyarakat Indonesia dari berbagai zaman dan daerah. Dalam ruangan ini dijelaskan tentang pola bermasyarakat dan berumah tangga. Lantai 3 museum ini memamerkan berbagai koleksi terkait struktrur sosial dan pemukiman masyarakat Indonesia pada zaman dahulu. Contohnya adalah perkakas rumah tangga dan rumah-rumah adat. Ada pula miniatur kompleks rumah (atau istana/keraton).






Lantai 4 (empat) Gedung B Museum Nasional menyimpan koleksi emas dan keramik. Jalan menuju lantai 4 berbeda dengan akses ke tempat lain, ia tidak dijangkau dengan eskalator seperti lantai-lantai di bawahnya. Kita harus menggunakan lift untuk naik ke lt. 4. Di lantai 4 ini terdapat koleksi benda-benda berbahan keramik seperti guci, cangkir, dan mangkok. Benda-benda tersebut merupakan keramik kuno yang ditemukan di Indonesia dan berasal dari Indonesia serta beberapa negara seperti Thailand, Vietnam dan RRC. 

Selain koleksi keramik, terdapat pula koleksi emas dari Khasanah Wonoboyo peninggalan Kerajaan Medang (Mataram Kuno) pada abad VIII dan IX yang ditemukan di Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah pada tahun 1990. Terdapat pula Khasanah Muteran yang ditemukan di Muteran, Jawa Timur. Di antara kedua koleksi tersebut, Khasanah Wonoboyo-lah temuan yang paling fenomenal.

Ada juga koleksi-koleksi regalia (benda-benda pusaka kerajaan) di lantai 4 Gedung Arca Museum Nasional. Contoh regalia yang dipamerkan dalam Museum Nasional adalah tongkat raja-raja, payung, dan surat perjanjian. Kerajaan-kerajaan tersebut menyerahkan regalianya kepada pihak museum sejak museum dikelola oleh BG atau sejak zaman Hindia Belanda. 

Untuk alasan keamanan, pengunjung dilarang mengambil gambar di kawasan lantai 4 Gedung Arca Museum Nasional. Seluruh koleksi di lantai 4 bernilai sangat mahal sehingga rawan pencurian. Agar tidak memancing tindak kriminal pencurian, pihak Museum Nasional melarang semua pengunjung untuk mengambil foto atau video di ruangan ini.

Berjalan-jalan di Gedung Arca Museum Nasional sangat melelahkan. Untuk melepas lelah dan menyegarkan badan setelah menjelajahi museum, ada cafe yang terletak di lantai 1 (satu) di sebelah pintu masuk. 

Sekian catatan sederhanaku tentang perjalanan di Gedung Arca Museum Nasional. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Museum Nasional dan agenda-agendanya, dapat mengunjungi website Museum Nasional atau mengikuti akun media sosialnya:
Twitter: @museumnasional

Jadwal buka Museum Nasional:

Selasa-Jumat: 08.00-16.00
Sabtu-Ahad: 08.00-17.00
Senin dan libur nasional TUTUP

1 Comments:

Inilah Alasan Mengapa Kita Harus Menulis

2/08/2018 09:20:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 2 Comments

  

  العِلْمُ  صَيْدٌ والكِتَابَةُ قَيْدُهُ # قَيِّدْ صُيُوْدَكَ  بِالحِبَالِ الوَاثِقَةِ
Ilmu adalah hewan buruan dan tulisan adalah pengikatnya, ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.

Kalimat di atas adalah sepenggalan kata mutiara yang disampaikan oleh Imam Syafii' ra. tentang pentingnya menulis. Menulis adalah kebutuhan manusia karena manusia perlu komunikasi untuk berinteraksi dengan sesama. Manusia juga perlu informasi untuk memperkaya pengetahuannya. Tulisan-lah yang menjadi media komunikasi dan penyebaran informasi.

Menulis merupakan usaha merangkaikan huruf-huruf menjadi suatu kata menjadi kalimat hingga menjadi sebuah bacaan yang bermakna. Tulisan-tulisan dapat digunakan bagi kepentingan pribadi seperti menulis di buku harian, atau bermanfaat bagi orang lain, contohnya ceita, puisi, jurnal, dan nota. Menulis membutuhkan ilmu dan kemampuan, ilmu bahasa dan sastra, dan ilmu tentang materi yang akan kita tulis, dan kemampuan untuk menyusun kata menjadi sebuah tulisan. Untuk apa? Semua itu diperlukan untuk memperkuat isi tulisan kita dan memperindah tulisan. Seandainya kita tidak punya ilmu dan skill dalam menulis, mustahil tulisan kita akan menarik.

Menulis memang kedengarannya sulit. Dengan harus menguasai skill dan ilmu tadi, rasanya sulit untuk bisa menulis. Kita kadang-kadang merasa minder dengan tulisan kita sendiri. Takut dibilang jelek, tidak asik dibaca, ngbosenin, gak ada klimaksnya dan lain-lain. Belum lagi kalau sudah kehabisan ide. Mau nulis apa, ya?? Mau tidak mau, kita harus membaca sedemikian banyak tulisan sebagai bahan bacaan. Itulah hambatan-hambatan kita untuk menulis.
Baca juga: Tantangan Seorang Blogger

Tapi, jika terus mencoba, kita bisa merasakan betapa mudah dan asyiknya menulis. Menulis dapat menjadi media sharing kita. Kita bisa berbagi apapun lewat tulisan. Pengalaman sehari-hari, cerita perjalanan, laporan penelitian, semua adalah hasil dari tulisan kita. Kita dapat mengetahui apa yang dilakukan orang-orang yang berpengalaman lewat tulisan. Bagaimana meningkatkan kualitas blog? Tentunya kita tahu dari blogwalking di blog seseorang. Bagaimana berwisata di suatu tempat? Tentunya lewat blog juga.

Baca juga: Mencari Ide dari Blogwalking

Agar menulis terasa mudah, kita harus membuat perencanaan. Perencanaan ini termasuk apa yang harus saya tulis, apa motivasi saya menulis, bagaimana saya menulis dsb. Setelah kita mempunyai motivasi menulis, kita kuatkan komitmen kita untuk menulis. Dengan komitmen kuat, kita bisa konsisten dalam menulis.
Baca juga:  Bagaimana Mengembalikan Semangat Blogging? (Menjawab Tantangan Seorang Blogger)
Kita juga perlu motivasi dalam menulis. Mengapa? Seperti bekerja, menulis juga memerlukan semangat agar kita menulis dengan enjoy. Mood yang terjaga dengan baik akan memudahkan kita menulis dan hasilnya pun akan lebih baik. Jika kita tidak punya motivasi dalam menulis, kita mungkin tidak bisa menulis dengan semangat dan enjoy. Hasilnya pun akan asal-asalan sehingga tidak memuaskan kita. Terserah kalian dari mana menemukan motivasi tersebut. Aku membebaskan kalian untuk mecari motivasi. Bagiku, motivasi terbesar adalah dari diri sendiri.

Apa yang mau kita tulis? TERSERAH. Koq terserah? Lho, serius! Kita bebas untuk menulis apa saja. Cerita, opini, puisi, esai, kalian bebas. Kalau dipaksa, kita akan sulit untuk membuat karya terbaik. Yang penting sebelum itu, kita perlu menyiapkan kerangka (outline) tulisan. Outline dibuat agar tulisan kita lebih sistematis dan terstruktur, pembahasannya tidak ngelantur ke mana-mana, yang penting arahnya ke sana. Pembuatan outline sebenarnya opsional, tidak wajib hukumnya. Ada beberapa penulis yang tidak menggunakan outline karena pembahasannya telah mengalir sendirinya seiring tulisan berjalan.

Dengan perencanaan yang matang dan motivasi kuat, kita akan mampu menulis dan menghasilkan karya tulis yang berkualitas. Tulisan berkualitas akan mendatangkan manfaat bagi para pembacanya. Apabila kita bisa menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas, jadilah kita penulis produktif.


Untuk itu, kita sebaiknya mempunyai tekad untuk menulis. Mengapa kita harus menulis? Inilah beberapa alasannya:

1Menulis adalah media kita berkomunikasi.

Komunikasi menurut Harold Laswell adalah tentang siapa menyampaikan apa kepada siapa, melalui media apa, dan apa efeknya. Itulah definisi komunikasi yang banyak dikutip oleh para penstudi ilmu komunikasi. Komunikasi pada dasarnya adalah tentang penyampaian pesan kepada orang lain melalui berbagai media.

Saat ini, media komunikasi semakin canggih. Banyak alat yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan. Secara sederhana, kita sekarang bisa mengirim pesan kepada seseorang yang jauh lewat WhatsApp, Line, dan berbagai media sosial lainnya. Tulisan pun juga merupakan media komunikasi. Bahkan, tulisan telah lahir sebelum media sosial ada. Jadi, dengan tulisan, kita telah menciptakan ruang komunikasi dengan orang lain.

2. Menulis membuat kita dikenal dunia.

Pramoedya Ananta Toer mengatakan, "Kalau mau mengenal dunia, membacalah! Kalau mau dikenal dunia, maka menulislah!" Tulisan kita merupakan bentuk aktualisasi diri kita. Kita mengenalkan diri kita, pemikiran kita, dan sudut pandang kita lewat tulisan. Tulisan kita adalah cerminan bagaimana pandangan kita mengenai suatu hal. Tapi ini bukan dimaksudkan untuk riya' (ingin dilihat orang).

Masih Pramoedya Ananta Toer, ia mengatakan, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tdak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Boleh jadi seseorang memiliki banyak ilmu, kenyang pengalaman, dan kaya keterampilan. Namun, ia akan disia-siakan masyarakat jika ia tidak menulis.

3. Menulis dapat melatih kemampuan berbahasa.

Jika hidup diibaratkan sebuah sekolah, menulis adalah "ujiannya". Menulis adalah latihan bagaimana mengekspresikan pikiran kita melalui rangkaian kata-kata yang tersusun sistematis. Jika tulisan yang dibuat tidak tersusun sistematis, orang yang membaca tidak akan mengerti maksud dari si penulis. Ini akan menjadi rapor buruk buat si penulis karena tulisannya tidak dimengerti oleh orang lain.

Oleh karena itu, tulisan juga memperlihatkan kemampuan berbahasa kita. Dalam tulisan pasti ada kesalahan dalam struktur kata dan diksi (pemilihan kata). Pembaca kita yang teliti tentu akan megomentari tulisan kita dan mengoreksinya. Hal itu akan membantu kita memperbaiki kesalahan tulisan.

4. Menulis dapat mebuat rileks, menghilangkan  kejenuhan dan stress

Banyak jalan ditempuh orang untuk menghibur diri dan mengusir gabut. Ada yang mendengarkan musik, berolahraga, nonton film favorit, makan, tidur, tilawah Al-Quran dan sebagainya. Macam-macam cara dapat dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan. Semua iu tergantung preferensi masing-masing individu.

Menulis dapat menjadi metode relaksasi. Banyak orang yang menjadikan menulis sebagai pelampiasan emosinya. Dengan menulis, ia mengekspresikan perasaannya dan itu membuatnya tenang. Contohnya, Sabari dalam novel Ayah karya Andrea Hirata cinta mati dengan Marlena, anak seorang pengusaha, yang ditemuinya di sekolah. Saban hari Sabari menggubah puisi-puisi cinta untuk Marlena. Kadang-kadang ia nekat memajangnya di majalah dinding sekolah.

Itulah fungsi menulis sebagai media relaksasi. Menulis membuaat kita seperti meluruhkan beban pikiran. Itulah yang membuat kita lebih rileks.

5. Menambah relasi

Di dunia ini pasti ada orang-orang yang memiliki hobi yang sama dengan kita. Menulis menghubungkan kita dengan orang-orang dengan minat yang sama. Kita bisa gabung dengan komunitas-komunitas, berbagi tulisan, dan saling diskusi. Maka dengan menulis, kita dapat menambah relasi dan kawan baru.

6. Mengisi waktu luang

Ada waktu luang? Biasanya apa yang kalian lakukan saat sedang waktu luang? Ada yang membaca, mendengarkan musik, atau hal lain? Tentunya banyak yang bisa dilakukan, tergantung selera masing-masing. Ada yang suka mengisi waktu luangnya dengan berolahraga, itu juga bisa. Asal tempatnya cukup. Menulis juga bisa menjadi "mainan" untuk mengisi waktu luang. Dengan menulis, kita bisa membuat waktu kita tidak terbuang sia-sia.

7. Berbagi Pengalaman dan Menginspirasi

Kita dapat berbagi pengalaman dengan menulis. Pengalaman mengikuti lomba, mengikuti suatu organisasi atau apapun bisa kita bagikan lewat tulisan. Meskipun bagi kita kurang menarik, mungkin saja pengalaman kita bermanfaat bagi orang. Tulisan-tulisan kita itu sangat dicari oleh orang lain karena tentu ada yang membutuhkan pencerahan dari orang yang telah berpengalaman. Bagi yang sudah berpengalaman, tulisan merupakan alat berbagi pengalamannya kepada orang lain. Dengan itu, kita dapat menginspirasi orang.

8. Ladang penghasilan

Kita tentu sudah tahu dengan para novelis kenamaan Indonesia. Sebut saja Habiburrahman El-Shirazy. Beliau terkenal dengan novelnya Ayat-Ayat Cinta, Dalam Mihrab Cinta, dan masih banyak karya tulis lainnya. Novel-novel karyanya hampir selalu laris di pasaran. Bahkan, beberapa di antaranya sudah diangkat ke layar lebar. Tentunya ini menghasilkan dari segi ekonomis.

Menulis dapat menambah penghasilan bagi siapa yang serius. Tidak hanya penjualan buku, banyak cara untuk menghasilkan uang lewat tulisan. Dalam blog dikenal istilah Pay Per Click (PPC) dari Google AdSense dan layanan lain. Ada juga kompetisi menulis yang memberikan hadiah uang. Banyak cara untuk mendapatkan uang dari menulis.

Itulah tadi beberapa alasan mengapa kita harus menulis. Menulis dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Asal ada kemauan, tentu kita akan terpacu untuk menulis. Ayo kita mulai menulis! Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Sumber gambar: pexels.com



2 Comments:

Selamat Tinggal, Blogdetik!

1/25/2018 01:32:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 6 Comments

Tampilan muka blogdetik
Baru saja aku membuka e-mail yang dikirmkan kepadaku jam setengah satu tadi. E-mail tersebut masuk ke dalam label Promotions di dalam Gmail. Aku sendiri termasuk orang yang jarang membuka e-mail, apalagi dengan label promotion. Ah, apa, sih isinya? Palingan isinya nawarin diskonan atau paketan. Lagian, meskipun sudah di-diskon atau ditawarin paket murah, gimana belinya? Duit juga lagi seret.

Tapi, kali ini ada satu pesan yang menarik. Ada satu pesan yang berbeda dari biasanya, sampai-sampai  aku tertarik membukanya. Ternyata ada pesan masuk dari blogdetik. Jarang-jarang blogdetik mengirimkan email atau hampir tidak pernah sama sekali. Mungkin saja kali ini ada hal penting dari sana sehingga harus dikirimkan via e-mail.

Dengan penasaran aku pun membuka e-mail tersebut. Sempat kebayang kalau blogdetik mau mengadakan giveaway, atau lomba-lomba. Tapi, selama ini blogdetik tidak pernah mengirimkan e-mail untuk itu. Blogdetik selalu menginformasikan agenda-agendanya di websitenya sendiri, bukan via e-mail

(yang punya blogdetik pasti tau hal ini)

Tapi, ternyata surel dari blogdetik ini lebih penting dari agenda. Isi surelnya adalah pesan perpisahan blogdetik kepada para bloggernya. Judul pesannya adalah "Dari Kopdar Pamitan Bogdetik" yang mengawali pesan masuk untuk saya. Kaget juga rasanya. Rasanya baru berkenalan dengan blogdetik dua tahun lalu, tiba-tiba blogdetik mengumumkan pamit undur diri.
Good bye!
Akhirnya, saya pun menuliskan pesan ini. Ditemani cuaca mendung di siang hari Kota Hujan. Aku membuat tulisan ini diiringi lagu "Sampai Jumpa" dari Endak Soekamti, yang semakin menambah suasana perpisahan ini.

Aku sendiri baru mengenal blogdetik pada tahun 2016. Saat itu, aku masih di semester lima. Awalnya sempat bingung mau menulis apa di blogdetik. Tapi, setelah lihat-lihat dan memantau (tanpa seleding) tulisan-tulisan blogger di sana, aku berkesimpulan bahwa tulisan-tulisan di blogdetik terdiri atas dua jenis secara garis besar, yakni opini dan berita. Aku akhirnya memilih berita sebagai niche di blogdetik. 

 Tulisan pertamaku di blogdetik adalah Tantangan Jihad Santri di Era Modern. Tulisan ini untuk menyambut Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober. Tulisan itu berisi tantangan santri dalam menghadapi kemodernan dan menghadapi kondisi-kondisi sosial di Indonesia saat itu. Tahun itu pula bertepatan dengan peringatan 90 Tahun Gontor. Jadi, relevan, lah kalau saya menulis opini tentang Hari Santri Nasional pas dengan 90 tahun Gontor.

Suasana Kopdar Pamitan Blogdetik (sumber detik inet)

Setelah itu, aku melanjutkan tulisan-tulisanku dengan berita-berita. Isinya rata-rata adalah berita kegiatan kampus, khususnya berita prodi HI. Mulai dari berita tentang Fondasi (Forum Nongkrong dan Diskusi antar Penstudi HI) sampai Workshop Penulisan Skripsi. Ada juga berita tentang Festival of Islamic Student Kids (FOIS) antar TPA binaan UNIDA Gontor. 

Semakin lama, aku mulai malas menulis di situ. Alasannya, aku dibisikin seorang teman untuk fokus ke satu blog. "Udah, mending ente fokus aja!" kira-kira begitu katanya. Tambah lagi, aku sudah tidak aktif lagi di tim website prodi bagian berita. Jadi, aku memutuskan untuk fokus ke blog ini saja.
Ternyata, setelah hampir dua tahun ditinggalkan, ternyata blogdetik mengumumkan pengunduran diri pada hari Senin lalu. Acaranya ditutup dengan Kopdar Pamitan pada hari Sabtu lalu. 

Setelah 10 tahun hadir dan tumbuh bersama blogger Indonesia, tiba saatnya blogdetik untuk berhenti dan bertransformasi mengikuti perkembangan masa.
Terimakasih atas semua keseruan, kepercayaan dan kerjasamanya dengan blogdetik. Semoga persahabatan yang terjalin selama ini tak lekang oleh waktu..
Blogdetik pamit…

Itulah pesan terakhir blogdetik dalam e-mailnya. Terima kasih telah 11 tahun membersamai blogger Indonesia mengarungi zaman. Selamat tinggal!

Bogor, 25 Januari 2018

6 Comments: