Khutbatu-l Arsy Kedua di UNIDA Gontor sebagai Momentum Pembaharuan Niat

8/16/2018 05:35:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Pekan Perkenalan Khutbatu-l 'Arsy telah dilaksanakan di Universitas Darussalam Gontor pada hari Rabu hingga Kamis 8-9 Agustus 2018 lalu. Khutbatu-l 'Arsy kali ini adalah penyelenggaraan yang kedua setelah yang pertama dilaksanakan tahun 2017 lalu. Khutbatu-l 'Arsy tahun ini dilaksanakan dengan prosesi yang sama dengan tahun lalu atau yang biasa diadakan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Apel Tahunan dilaksanakan terlebih dahulu dengan upacara bendera, kemudian dilanjutkan dengan penampilan-penampilan dan diakhiri dengan parade barisan mahasiswa antar program studi. 


Penampilan-penampilan dalam Apel Tahunan mempertunjukkan berbagai atraksi kesenian Indonesia dari mahasiswa UNIDA Gontor. Mahasiswa menampilkan berbagai pertunjukan seni tradisional seperti Kentongan dari Banyumas, Campursari dari Surakarta, Topeng Ireng dari Magelang, dan kombinasi antara Tari Malulo dari Kendari Sulawesi Tenggara dan Poco-Poco dari Malulo yang menjadi Tarian Indonesia Timur. Selain kesenian tradisional, mahasiswa UNIDA Gontor juga menampilkan atraksi ekstrem seperti Pencak Silat, Taekwondo, dan Lempar Pisau dan Kapak (Lempika) oleh Resimen Mahasiswa (Menwa). Terakhir, mahasiswa menampilkan puisi dan sebuah persembahan untuk Dr. Dihyatun Masqon, M.A. Beliau wafat pada hari Rabu, 28 Februari 2018 lalu. Kepergian beliau masih menyisakan duka bagi kami mengingat beliau telah berjasa untuk kemajuan UNIDA dan beliau khas dengan keramahannya kepada semua orang.

Setelah pertunjukan seni, Apel Tahunan berlanjut dengan parade barisan mahasiswa antar program studi. Seluruh mahasiswa ikut serta dalam barisan prodi, termasuk mahasiswa pascasarjana dan peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU), kecuali mahasiswa S1 dari luar negeri. Mereka ada dalam barisan sendiri. Barisan mahasiswa asing berbeda dari tahun lalu. Jika tahun lalu mereka dipersatukan dalam satu barisan "Mahasiswa Luar Negeri", kali ini barisan dibuat berdasarkan negara asal mereka. Ada barisan mahasiswa dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand. Mungkin ini dibuat agar civitas academica UNIDA Gontor mengetahui negara asal mashasiswa. Selebihnya, seluruh mahasiswa ada dalam barisan prodinya masing-masing.

Baca juga: Alhamdulillah, Khutbatul Arsy Perdana di UNIDA Gontor Dilaksanakan


Khutbatu-l 'Arsy memiliki makna penting bagi mahasiswa UNIDA Gontor. Ia merupakan perpeloncoan bagi seluruh mahasiswa. Khutbatu-l 'Arsy adalah untuk mengenalkan universitas serta menguji kesanggupan dan keteguhan niat untuk ibadah thalabul 'ilmi (mencari ilmu) kepada mahasiswa baru serta memperbaharui niat untuk mahasiswa lama. Seakan-akan rektor sebagai kiai dalam universitas bertanya, "Anak-anakku, kalian sudah kami kenalkan UNIDA Gontor dan kegiatannya. Siapkah kalian memperbaharui niat kalian untuk ibadah thalabul 'ilmi dan hidup bermasyarakat di kampus ini??" 

Agenda penting lainnya dalam pekan perkenalan ini adalah Kuliah Umum tentang Kepondokmodernan yang disampaikan oleh Pimpinan Pondok dan Rektor UNIDA Gontor. Kuliah umum memperkenalkan sejarah UNIDA Gontor, sistem, nilai, dan langkah-langkah menuju World Class University. Seluruh pihak ikut serta dalam agenda ini, mulai dari mahasiswa, dosen, staf, dan tenaga kependidikan. Kuliah umum dilaksanakan untuk menyamakan persepsi dalam internal kampus, agar semua memahami sistem dan nilai-nilai kepondokmodernan dalam UNIDA Gontor.
Khutbatu-l 'Arsy adalah pekan perkenalan UNIDA sebagai lembaga Gontor. Cita-cita Gontor adalah menjadi universitas Islam yang bermutu dan berarti. Para pendiri Gontor (KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fannanie, KH. Imam Zarkasyi. Disebut juga dengan Trimurti) telah mencita-citakan Gontor menjadi universitas Islam sejak penyerahan wakaf tahun 1958, bahkan jauh sebelum itu. Meski demikian, apa yang dicapai oleh UNIDA Gontor masih jauh dari apa yang dicita-citakan para pendiri. Para pendiri mewakafkan Pondok waktu itu demi keberlangsungan pendidikan di Pondok Modern. Para pendiri kala itu berkaca dari pengalaman pondok-pondok pesantren tradisional tempat mereka belajar. Dalam kacamata mereka, pondok pesantren tradisional adalah milik kiai. Jika kiai wafat, maka kepemimpinan pondok akan diteruskan oleh keturunannya. 

Dalam Khutbatu-l 'Arsy, KH. Hasan menekankan bahwa kita harus tahu dan mengerti "why" dan "what for". Mengapa dan untuk apa kita hidup, mengapa dan untuk apa kita belajar. Bahkan kita harus memahami mengapa dan untuk apa kita duduk (dalam pertemuan). Kita harus mengerti apa yang kita lakukan, mengapa kita melakukannya, apa tujuan kita melaksanakan sesuatu.

Selanjutnya, di atas pondok hanya Allah, di bawahnya hanya tanah. Gontor tidak di bawah yayasan, organisasi massa (ormas), atau organisasi politik (orpol) manapun. Bahkan yayasan berada di bawah otoritas pimpinan pondok. Gontor berdiri di atas dan untuk semua golongan. Gontor tidak boleh dibawa ke arah ormas atau orpol manapun siapapun yang menjadi kiainya. Pihak manapun tidak berhak mengintervensi Keterbukaan yes, intervensi no!

Islamisasi ilmu pengetahuan adalah core UNIDA Gontor. Islamisasi ilmu pengetahuan lebih dari sekadar integrasi ilmu, islamisasi ilmu "mengislamkan" cara pandang terhadap ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmu pengetahuan hadir karena ada ghazwul fikri hebat yang hadir saat ini. Sekularisme, pragmatisme, liberalisme dan isme-isme menyimpang lainnya telah merambah ke dalam dunia pendidikan tinggi. Dalam proses islamisasi ilmu pengetahuan, seluruh mahasiswa dari prodi wajib mempelajari studi-studi Islam. Inilah yang dilakukan UNIDA Gontor untuk mencapai universitas Islam yang bermutu dan berarti. Siapapun yang memimpin UNIDA nantinya, islamisasi ilmu pengetahuan harus tetap menjadi core.

UNIDA Gontor mandiri dalam sistem, kurikulum, Sumber Daya Manusia (SDM), dan dana. Sistem pesantren menjadikan UNIDA Gontor mandiri serta mendidik kemandirian mahasiswa. Kurikulum UNIDA Gontor terintegrasi dengan mengacu pada Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) dan mengintegrasikannya dengan kajian Islamisasi ilmu pengetahuan. Seluruh program studi (prodi) juga wajib mengikuti akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). UNIDA Gontor juga melatih mahasiswa untuk melaksanakan seluruh kegiatan mereka secara mandiri. Dosen dan tenaga kependidikan turut dilatih mandiri dengan mengajar dan ikut membimbing mahasiswa tanpa menanyakan upah. UNIDA Gontor mandiri dalam pendanaan dengan mengandalkan iuran mahasiswa dan unit-unit usaha, tanpa bergantung dari dana bantuan.

Sebagai mahasiswa santri, kita harus berkomitmen untuk ibadah mencari ilmu. Pendidikan pesantren UNIDA Gontor berorientasi pada pengajaran ayat-ayat Allah, penyucian jiwa (tazkiat an-nafs), dan pendidikan agama Islam serta pengetahuan umum

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui (Al-Baqarah 151).

Terakhir, untuk menuju World Class University, UNIDA Gontor harus berkaca pada kuantitas dan kualitas mahasiswa, lulusan, dosen dan SDM penunjang lainnya. Kita harus berusaha mencapai standar yang telah ditetapkan oleh lembaga-lembaga pemeringkat seperti BAN-PT, ISO dll. Kendatipun, UNIDA Gontor harus bisa mencapai standar ranking yang telah digariskan oleh pondok, merujuk pada Piagam Penyerahan Wakaf tahun 1958, yakni menjadi universitas Islam yang bermutu dan berarti serta menjadi pusat pengkajian ilmu Islam, bahasa Arab, dan ilmu pengetahuan umum dengan berjiwa pondok.


Akhir kata, perlu disampaikan bahwa Khutbatu-l 'Arsy di UNIDA Gontor adalah masa orientasi bagi seluruh civitas academica UNIDA Gontor. Seluruh pihak terlibat dan semuanya melewati masa-masa perpeloncoan ini. Diharapkan semuanya menata niatnya kembali dalam menempuh studi di UNIDA Gontor. 

Tulisan ini adalah buah pikiran saya atas apa yang disampaikan dalam Khutbatu-l 'Arsy lalu, maka sangat mungkin terdapat kesalahan dalam penulisannya. Untuk itu, saya memohon maaf atasnya dan meminta kritik, saran dan koreksi dari semua pihak yang lebih memahami.

0 Comments:

Asian Games 2018: Daerah Bisa Apa?

8/13/2018 10:11:00 am Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 1 Comments


Gaung Asian Games 2018 sudah terdengar membahana di Indonesia. Indonesia kali ini menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Asian Games ke-18 yang dimulai pada tanggal 18 Agustus 2018 (18-8-18). Angka cantik, tho?! Tahun ini, dua kota besar di Indonesia dipercaya untuk menghelat pesta olahraga se-Asia. Kota tersebut adalah Jakarta atau ibukota Indonesia dan Palembang yang merupakan ibukota provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Selain Jakarta dan Palembang, ada dua provinsi lagi sebagai tuan rumah penunjang, yaitu Jawa Barat dan Banten

Penyelenggaraan Asian Games tahun ini adalah penyelenggaraan kedua bagi Indonesia. Sebelumnya, Indonesia telah menyelenggarakan Asian Games saat Indonesia masih dipimpin presiden Sukarno, tepatnya pada tahun 1962. Indonesia menjadi tuan rumah dalam perhelatan keempat sejak tanggal 24 Agustus sampai 4 September 1962. Kurang lebih 1460 atlet dari 17 negara berpartisipasi dalam event olahraga ini. Terdapat 15 cabang olahraga dan satu cabang olahraga eksibisi yang dilombakan dalam Asian Games ini. Menyambut Asian Games 1962, Indonesia pun banyak membangun dan mendirikan infrastruktur megah.  Pemerintah membangun stadion termegah di Indonesia, Gelora Bung Karno (GBK) dan komplek olahraga Senayan beserta fasilitas penunjang seperti Stadion renang, Stadion tenis, dan stadion madya. Tidak hanya itu, pemerintah mendirikan saluran televisi nasional yang kita kenal dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI) untuk menyiarkan pembukaan Asian Games. TVRI memulai siaran pada hari pembukaan Asian Games tanggal 24 Agustus 1962. Jepang menjadi pemenang dalam Asian Games keempat dengan perolehan 73 medali emas, 65 medali perak, dan 23 perunggu (total 161 medali). Sedangkan Indonesia menjadi runner-up dengan perolehan 21 medali emas, 26 perak, dan 30 perunggu (total 77 medali).

Saat ini, Indonesia tengah bersiap-siap menanti Asian Games yang tinggal beberapa hari lagi. Indonesia sudah lama bersolek untuk menyambut tamu-tamu delegasi dari negara-negara Asia. Pemerintah mendirikan Indonesia Asian Games Organizing Commitee (INASGOC) yang bertugas sebagai panitia pelaksana (panpel) yang merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan Asian Games 2018. Sebagai pantia pelaksana, INASGOC melakukan revitalisasi venue acara di empat provinsi tersebut. 
Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pasca renovasi (sumber: Wikimedia Commons)

Pembangunan dan revitalisasi dilaksanakan untuk menyukseskan Asian Games. Pemerintah membangun dan merenovasi sarana-saran yang akan digunakan sebagai lokasi perlombaan Asian Games. Bahkan, pemerintah melakukan revitalisasi jor-joran terhadap beberapa tempat perlombaan Asian Games. Salah satu tempat yang direnovasi adalah stadion Gelora Bung Karno (GBK). GBK dipercantik dengan menjadikannya all-seater (semua tempat duduk dengan kursi tunggal). Pencahayaan di GBK pun ditingkatkan dengan lampu berkapasitas 3500 lux. Selain GBK, venue  yang direnovasi besar-besaran adalah Velodrome di Rawamangun, Jakarta Timur. Velodrome ini dibangun dengan untuk menampung 2000 penonton. Velodrome Rawamangun sudah memenuhi standar internasional sehingga mendapatkan kategori 1 dalam sertifikasi oleh Union Cycliste Internationale (UCI). Bahkan, velodrome dianggap sebagai arena balap sepeda terbaik se-Asia. Ada juga Jakarta Equestrian atau arena pacuan kuda di Pulomas, Jakarta Timur. Arena pacuan kuda ini dibangun agar berstandar internasional. Beberapa fasilitas ditambah seperti kandang kuda, klinik kuda, arena dengan rumput berkualitas, tribun berkapasitas 900 penonton, dan asrama bagi perawat kuda.

Selain pembangunan arena pertandingan, pemerintah juga membangun sarana-prasarana penunjang. Di antara sarana penunjang adalah Light Rapid Transit (LRT). LRT ini akan menghubungkan antara Kelapa Gading dan Rawamangun. Jaraknya pendek saja, hanya 5,8 km. Namun, LRT Jakarta akan menghubungkan tempat penyelenggaraan penting Asian Games. LRT akan menghubungkan Mall Kelapa Gading dengan Velodrome Rawamangun. Hal ini tentu akan mempermudah akses transportasi bagi yang hendak menyaksikan perlombaan balap sepeda.

Lain Jakarta, lain Palembang. Kota terbesar di Sumatera Selatan tersebut punya cara tersendiri untuk menyambut Asian Games. Pemerintah di sana merenovasi Jakabaring Sports Complex yang telah menjadi tempat event-event olahraga kelas internasional. Beberapa lokasi yang dibangun kembali atau direnovasi adalah arena voli pantai, arena kano di Jakabaring, Stadion Gelora Sriwijaya, GOR Raung yang disponsori oleh ConocoPhilips, GOR Dempo dan sebagainya. 

Kereta LRT Palembang (Wikipedia)

Sumsel juga membangun Light Rapid Transit (LRT) Palembang. LRT Palembang memiliki satu jalur dengan panjang 24,5 km. LRT Palembang memiliki 13 stasiun dari Stasiun Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sampai stasiun DJKA. Stasiun ini diharapkan dapat menunjang mobilitas masyarakat Palembang. Di antara stasiun LRT Palembang, terdapat dua stasiun LRT yang terhubung dengan arena Asian Games, yakni stasiun LRT Bumi Sriwijaya dan Jakabaring. Hal ini tentunya sangat mendukung akses bagi peserta, ofisial, dan penonton Asian Games.

Selain pembangunan sarana prasarana, pemerintah Sumsel juga menjaga serta menjamin keamanan Sumsel selama penyelenggaraan Asian Games. Sumsel merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang rawan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla, pemprov Sumsel menetapkan status Siaga Merah. Pemprov Sumsel beserta TNI, Manggala Agni, dan BNPB akan mengintensifkan patroli ke kawasan-kawasan rawan. Ini dilakukan karena bulan Agustus diperkirakan menjadi puncak musim kemarau. Musim kemarau pun rawan kebakaran hutan. Apabila kebakaran hutan terjadi, polusi udara bisa sampai ke Palembang dan mengganggu jalannya Asian Games.

Daerah Bisa Apa?
Asian Games memang hanya dilaksanakan di Jakarta dan Palembang. Mustahil sebuah penyelenggaraan agenda olahraga diadakan di banyak kota di Indonesia. Anggaran  yang diperlukan pun akan bertambah dan dana APBN bisa jebol untuk mempersiapkannya. Selain itu, penyelenggaraan akan tidak efisien karena jaraknya yang berjauhan dan membutuhkan biaya operasional yang besar. Maka, mayoritas even olahraga di dunia termasuk Asian Games diadakan di satu-dua kota.

Kalau Asian Games hanya di Jakarta dan Palembang, apakah daerah-daerah lain tidak perlu terlibat dalam Asian Games? 

Tidak! Acara Asian Games ini adalah hajatan nasional. Semua komponen negara terlibat dalam menyukseskannya. Pemerintah bertanggungjawab atas penyediaan sarana dan prasarana. INASGOC menyiapkan pelaksanaan acara. TNI dan Polri menjamin keamanan acara dan sebagainya hingga tak saya mampu sebutkan satu per satu. Masyarakat pun banyak terlibat, entah sebagai relawan, pelaku usaha, atau meramaikan lewat karya-karya lukisan mural, gapura (pas juga untuk menyambut HUT RI ke-73).

Lalu, bagaimana dengan di daerah? Apa yang bisa dilakukan untuk menyambut Asian Games?

Untuk menyambut Asian Games, ada banyak yang bisa dilakukan oleh masyarakat di luar kota tuan rumah Asian Games. Asian Games merupakan hajatan nasional maka semuanya perlu mendukung kesuksesan Asian Games. Ada beberapa yang bisa dilakukan untuk mendukung lancarnya penyelenggaraan Asian Games tahun ini.

Pertama, kita bisa meramaikan kampung dengan pernak-pernik bertema Asian Games di lingkungan kita. Menyambut Asian Games, kita bisa menghias kampung dengan aneka rupa hiasan berbau Asian Games seperti gapura. Kebetulan, Asian Games akan dibuka tepat sehari setelah HUT RI ke-73. Masyarakat kita terbiasa mendirikan gapura untuk menyambut kemerdekaan RI di pintu masuk kampung-kampung. Sekarang, kita bisa membuat gapura kampung untuk menyambut hari kemerdekaan dan Asian Games sekaligus. Apalagi, Kemenkominfo mengadakan Lomba Gapura yang berhadiah puluha juta rupiah. Pastinya tambah semangat bikin gapuranya.

Kedua, selalu memperbaharui informasi tentang Asian Games. Kita bisa mengakses lewat media sosial dan situs-situs berita yang ada. Asian Games sendiri punya akun media sosial dan situs yang bisa kita jangkau untuk meng-update-berita tentang perlombaannya.

Twitter: @asiangames2018
Instagram: @asiangames2018

Ketiga, mendukung Indonesia di setiap perlombaan Asian Games. Tim Indonesia bertarung di Asian Games tidak hanya untuk meraih medali, tapi juga untuk menjaga nama ibu pertiwi. Mereka telah berlatih keras untuk membanggakan keluarga, daerah, dan negara tentunya. Apalagi bertanding di rumah sendiri, pasti ada rasa bangga sekaligus beban. Mereka tentu tidak ingin menanggung malu karena kalah di kandang sendiri. Kita bisa mendukung Tim Indonesia dengan mendoakan dan menyaksikan setiap pertandingan Asian Games. Bisa juga dengan mengadakan nonton bareng (nobar) pertandingan-pertandingan besar. Dukungan kita untuk Indonesia di piala AFF U-16 lalu berbuah manis denagn hasil juara. Masak semangat kita kendor di Asian Games?! 

Kita juga bisa mendukung setiap putra daerah yang berlaga. Saya yang saat ini tinggal di kota Reog Ponorogo juga baru tahu ada atlet asal Ponorogo yang berlaga di Asian Games 2018. Mereka adalah Galih Bayu Saputra yang masuk di tim voli putra dan Aji Bangkit Pamungkas yang bermain di cabang pencak silat. Mari kita doakan semoga putra daerah kita masing-masing meraih hasil terbaik di Asian Games..
Sumber: Facebook

Terakhir, menjaga keamanan lingkungan agar kondusif. Asian Games kan di Jakarta dan Palembang, koq daerah juga harus ikut menjaga keamanan? Iya, dong! Keamanan lingkungan dan daerah kota adalah tanggung jawab bersama. Apabila terjadi gangguan keamanan seperti tindak kriminal atau terorisme, maka akan mengganggu keamanan negara dan menghambat penyelenggaraan Asian Games. Indonesia akan dianggap rawan kejahatan dan tidak aman sehingga meresahkan para tamu yang bertandang. Lagipula, ancaman keamanan di daerah bisa merembet ke kota-kota penting Asian Games maka akan mengancam penyelenggaraan dan merusak citra Indonesia.

Itulah tadi beberapa langkah kita mendukung kesuksesan Asian Games dari daerah. Asian Games adalah hajatan kita bersama, maka ayo kita dukung bersama!

Sumber gambar header: jogja.tribunnews.com

1 Comments:

Lapangan Banteng, Taman Kota Jakarta yang Kembali Asri

8/06/2018 02:42:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 2 Comments


Lapangan Banteng, Taman Kota Jakarta yang Kembali Asri - Di akhir Juli, nama Lapangan Banteng kembali ramai setelah lama tak terdengar akibat revitalisasi. Lapangan Banteng kembali asri setelah diresmikan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada hari Ahad, 29 Juli lalu. Namun, keindahan Lapangan Banteng pasca revitalisasi agak tercoreng oleh sebagian oknum saat peresmiannya. Sebagaimana seremoni peresmian fasilitias umum (fasum) pada umumnya, gubernur-lah yang meresmikan Lapangan Banteng dan dihadiri oleh jajaran pemerintah provinsi, keluarga perancang, dan warga Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Ph.D menyampaikan pidato sambutannya. Saat beliau menyebutkan siapa yang merancang revitalisasi Lapangan Banteng sebagai bentuk penghormatan, sebagian massa menyorakinya dan menyebut-nyebut Lapangan Banteng adalah hasil karya gubernur sebelumnya. Memang, gubernur sebelumnya, Pak Basuki Tjahaja Purna (Ahok) yang meresmikan, tapi Pak Anies tentu ikut serta dalam pembangunannya setelah beliau terpilih. Mbok ya tolong hargai usaha mereka semua, lah... biar semua bisa menikmati indahnya dengan bahagia.

Saya tidak mau lagi membahas siapa yang membangun dan merancang Lapangan Banteng yang cantik ini. Sekarang, saya mau mengulas sedikit tentang perjalanan saya ke Lapangan Banteng pada Ramadhan lalu. Kebetulan saya mengunjunginya dua kali selama Ramadhan. Kala itu, lapangan hijau yang mengarah ke Pasar Baru, Jakarta Pusat itu masih dalam tahap revitalisasi. Mungkin karena masih dalam perbaikan dan karena banyak yang pulang kerja atau karena orang-orang kelelahan setelah berpuasa, Lapangan Banteng saat itu agak sepi

Lapangan Banteng adalah taman kota di Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Lokasinya sangat strategis karena di antara kawasan perkantoran dan landmark penting. Ia berada di sebelah timur Monas sejauh kira-kira 1 KM dan diapit oleh Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Kementerian Agama, Kementerian Keuangan, dan Hotel Borobudur. Lapangan Banteng juga dekat dengan Kementerian Luar Negeri dan RSPAD Gatot Soebroto. Aksesnya sangat mudah dan gampang dijangkau oleh angkutan umum dan pribadi. Lapangan Banteng kira-kira berukuran 230x250 M dengan posisi agak condong ke timur laut. 

Lapangan Banteng berdiri pada abad XIX oleh Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels. Dahulu, Lapangan Banteng disbut dengan Waterlooplein. Lapangan Banteng merupakan salah satu dari  lapangan utama di Weltevreden (sekarang Sawah Besar), yakni Buffelsveld (Lapangan Merdeka) dan Waterlooplein. Dinamakan Waterlooplein karena di lapangan ini terdapat patung peringatan pertempuran Waterloo di Belgia. Waterlooplein dahulu digunakan sebagai lapangan militer Hindia Belanda. 

Pada zaman penjajahan Jepang, dibangun patung singa di Lapangan Banteng sehingga namanya berganti menjadi Lapangan Singa. Setelah Indonesia Merdeka, Presiden Sukarno mengganti nama Lapangan Singa menjadi Lapangan Banteng sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Presiden Sukarno juga membangun kembali Lapangan Banteng. Pada tahun 1960-an, Presiden mendirikan Monumen Pembebasan Lapangan Barat yang pembangunannya rampung pada tahun 1963. Monumen tersebut menandai kembalinya tanah Papua ke tanah air setalah penyerahan Papua kepada Indonesia pada tahun 1 Mei 1963.

Lapangan Banteng terbagi ke tiga zona. Zona pertama adalah lapangan utama dengan Monumen Pembebasan Irian Barat, kedua adalah taman kota, dan ketiga adalah sarana olahraga.


Zona pertama merupakan zona utama. Di zona inilah Monumen Pembebasan Irian Barat berdiri. Di sebelah utara zona ini terdapat relief sejarah Indonesia sejak kemerdekaan, Konferensi Meja Bundar (KMB), hingga operasi militer dan penyerahan Irian Barat beserta kutipan dari tokoh-tokoh terkait pembebasan Irian Barat, seperti Presiden Sukarno, Laksamana Yos Soedarso, dan Gubernur Irian Barat Zainal Abidin Syah. Berseberangan dengan relief terdapat kolam dan amphiteater berbentuk setengah lingkaran. Tidak hanya amphiteater dan relief, di zona ini juga terdapat jalan taman dan hutan kota. Jalan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai trek lari. 
Salah satu kutipan dalam relief bersejarah dalam zona Monumen Pembebasan Irian Barat
Zona kedua Lapangan Banteng merupakan zona taman kota. Taman kota ini adalah tempat untuk bersantai-santai. Taman kota terdiri atas ruang terbuka hijau (RTH) lengkap dengan taman bermain anak-anak. Semua kalangan dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa bisa menikmati waktu senggang di sini. Anak-anak bisa bermain di arena bermain bersama orang tua, remaja melakukan jogging, berolahraga dan berswafoto. Orang dewasa bisa berolahraga ringan atau berjalan-jalan keliling taman kota. 
Taman bermain anak dalam Lapangan Banteng (sumber:Kompas.com)

Zona ketiga Lapangan Banteng adalah lapangan sepakbola. Lapangan sepakbola dikelilingi oleh trek lari dan  memiliki bebrapa fasilitas seperti tribun, dan kamar kecil bagi penonton. Lapangan sepakbola di Lapangan Banteng dimiliki Asosiasi PSSI yang kemungkinan digunakan untuk keperluan pertandingan-pertandingan antar klub asosiasi. Ketika saya mengunjungi Lapangan Banteng, lapangan sepakbola masih dalam tahap renovasi berupa perbaikan tribun dan pemasangan fasilitas penunjang berupa kamar kecil.

Saat ini, Lapangan Banteng banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Mereka memanfaatkannya dengan cara beragam. Ada yang sekadar duduk-duduk, ada pula yang  berlari, bersepeda, melakukan workout, berfoto-foto, hingga menjajal kemampuan memainkan drone. Pada kunjungan pertama saya ke sana, saya menjumpai satu tim pilot drone mencoba mainannya di kawasan Monumen Pembebasan Irian Barat. Lalu lintas udara dan keindahan objek menjadikannya spot yang pas untuk uji coba drone. Hasil foto dan video dengan drone pun bagus-bagus. Selain sekumpulan pengguna drone, pada Ramadhan lalu saya menjumpai sekelompok remaja yang asyik ngabuburit sambil menyaksikan drone berputar-putar di langit Lapangan Banteng. Ada juga sekelompok remaja sedang latihan bersama, entah workout atau olahraga lain. Pokoknya setiap orang bisa menikmati Lapangan Banteng dengan cara masing-masing.
Lapangan Banteng dilihat dari udara (sumber: Warta Kota)

Saya sendiri menikmati indahnya Lapangan Banteng di sore hari Ramadhan dengan lari sore. Lari sore saya lakukan di zona Monumen Pembebasan Irian Barat atau zona utama. Saya memilih zona utama karena jalannya lebih panjang jadi saya bisa menempuh jarak lebih jauh dan waktu lebih lama dalam berlari. Selain itu, areal belakang amphiteater yang termasuk dalam zona utama terlindungi oleh pepohonan hijau sehingga terasa lebih teduh.
Hasil lari sore saya di Lapangan Banteng

Lapangan Banteng saat ini elok dan rapi. Alangkah lebih indah kalau kita bersama-sama menjaga. Pak Ahok beserta jajarannya telah membangun dan merancang desainnya, kemudian Pak Anies melanjutkan pembangunan dan meresmikannya. Mereka sama-sama telah membangun warisan Bung Karno. Kita sebagai warga seharusnya turut membantu mereka dengan memeliharanya tetap hijau. Lapangan Banteng adalah hak semua warga, dan kewajiban mereka adalah menjaganya.

Beli mangga di Pasar Menteng
Mangga sekilo lima ribu harganya
Ayo sama-sama merawat Lapangan Banteng
Hijau lapangannya, bahagia semuanya

2 Comments: