Jelajah Sore ke Ujung Jawa dengan KA Lokal Merak

10/12/2020 12:44:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Catatan: Perjalanan ini dilakukan pada tanggal 5 Maret 2020. Waktu itu, pandemi COVID-19 belum menyerang negara kita. Maka Anda akan banyak mendapati gambar-gambar yang belum menunjukkan patuh protokol kesehatan. Bagi Anda yang hendak bepergian, tetap patuhi protokol kesehatan dengan mengenakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan menjaga jarak aman. Jangan lupa! Jaga kesehatan diri dan keluarga selama masa pandemi ini. Stay safe and stay healthy!

Setelah menghabiskan waktu di Museum Multatuli, saya segera keluar dari museum untuk kembali ke stasiun Rangkasbitung. Waktu di jam hampir menunjukkan pukul 12 siang dan azan Dzuhur sudah berkumandang dari masjid agung. Lantaran saya sudah kadung memesan ojek online, saya pun berniat untuk mencari titik penjemputan yang mudah dijangkau. Akhirnya saya memilih Bank Syariah Mandiri sebagai titik penjemputan. Saya pun berjalan kaki melintasi Alun-Alun Rangkasbitung sambil sesekali mengambil gambar di sana. Setibanya di seberang bank, saya masih harus menunggu abang ojol menjemput. Setelah menunggu beberapa menit, abang ojol pun datang dan mengantar saya ke stasiun.

Setelah perjalanan yang lumayan singkat, saya tiba di stasiun Rangkasbitung. Saya langsung mencari makan siang yang pas. Kebetulan stasiun Rangkasbitung berada di pojok pasar Rangkas. Akan banyak pedagang makan di sana. Saya pun memilih mie ayam yang warungnya berada di depan pintu masuk untuk pengguna KRL,agar tidak terlalu kenyang selama perjalanan. Selesai makan, saya berpindah ke loket KA lokal di sebelah barat stasiun. Biasanya, stasiun-stasiun yang melayani KA reguler dan KRL memisahkan lokasi pelayanan kedua kereta tersebut agar tidak terjadi penumpukan calon penumpang.

Sebelumnya, saya tidak tahu bagaimana harus memesan KA Lokal Merak. Sebagaimana pengalaman saya bersama teman-teman ketika joyride jalur kantong, pemesanan tiket kereta lokalan hanya bisa dilakukan lewat aplikasi KAI Access dan dibayarkan via LinkAja. Berhubung tidak punya saldo LinkAja, saya sempat kebingungan gimana memesannya. Untung saja, tiket KA Lokal Merak bisa dipesan langsung di tempat setelah diberitahu oleh Balu lewat DM di Instagram. Saya pun segera memesan tiket KA Lokal Merak di loket yang harganya cuma Rp 3000,00, sangat murah buat joyride.

Tiket pun sudah di tangan! Saya pun melewati pemeriksaan tiket lalu masuk peron. Karena belum shalat Dzuhur, saya menunaikannya di musholla di barat peron. Setelah shalat, saya langsung masuk ke kereta yang tersedia di jalur 2. KA Lokal Merak yang saya naiki baru berangkat jam 12:55, sedangkan saya sudah di kereta sekitar jam 12:30. Jadi, ada waktu sekitar 15-20 menit untuk menunggu. Sembari menunggu, saya mencari tempat duduk karena KA Lokal Merak tidak menentukan kursi untuk penumpang.

Dan Kereta pun Berangkat

rute KA Lokal Merak
Peta rute perhentian KA Lokal Merak

Masinis KA Lokal Merak sudah membunyikan Semboyan 35 (isyarat berupa klakson kereta), tanda kereta siap berangkat. KA Lokal Merak perlahan berjalan meninggalkan stasiun Rangkasbitung. Setelahnya, ia berjalan melewati kerumunan pengendara yang berhenti di depan Jalan Perlintasan Langsung (JPL). Kondisi JPL siang itu cukup padat karena masih berada di sekitar pasar Rangkas. Beberapa langkah setelahnya, KA Lokal Merak meninggalkan keramaian kota Rangkasbitung.

KA Lokal Merak menggunakan rangkaian kereta ekonomi dengan konfigurasi tempat duduk 2-3. Satu kereta (bukan gerbong, ya…!) memuat 106 penumpang. Namun, kereta di siang itu tidak terlalu padat. Ada kurang lebih 50 orang yang ada di satu kereta. Saya pun menyempatkan diri berjalan-jalan dari satu kereta ke kereta lain.

Interior KA Lokal Merak
Bagian dalam kereta penumpang KA Lokal Merak

Tak berapa lama, KA Lokal Merak berhenti. Kereta berhenti di sebuah stasiun kecil. Papan namanya bahkan tidak terlihat dari jendela kereta. Kemungkinan stasiun tersebut adalah stasiun Jambu Baru. Kereta pun tak berhenti lama di sini. Untungnya, saya sempat mengambil gambar stasiun tersebut sesaat sebelum berangkat.

Stasiun Jambu Baru
Stasiun kecil yang kayaknya stasiun Jambu Baru

Selama perjalan dengan KA Lokal Merak, goncangan di dalam kereta sangat terasa. Bunyi “glodak glodak” bogie kereta beradu dengan rel juga terdengar. Hal ini terjadi karena rel yang digunakan masih menggunakan standar R42, artinya setiap 1 meter batang rel beratnya 42 kg. Konstruksi rel semacam ini mempengaruhi beban gandar (beban kereta yang ditanggung oleh jalur rel) dan batas kecepatan kereta api. KA Lokal Merak pun berjalan tidak terlalu cepat, tidak secepat KA yang melintas di jalur utara Jawa karena konstruksi rel yang sedemikian.

Namun, perjalanan KA Lokal Merak yang lambat memberikan berkah tersendiri bagi saya. Perjalanan ini menyajikan pemandangan dengan nuansa hijau. Sawah-sawah yang luas diselingi pepohonan terlihat di depan mata; kontras dengan apa yang ada di kota besar macam Jakarta. Berkahnya adalah kesempatan untuk memfoto dengan hasil yang tidak blur dengan kamera HP. Lantaran asyik memotret, kereta sudah melewati dua stasiun, yakni stasiun Catang dan Cikeusal.

Pemandangan dari dalam KA Lokal Merak
Pemandangan indah dari balik jendela KA Lokal Merak


Stasiun Cikeusal
Stasiun Cikeusal

KA Lokal Merak mulai masuk wilayah Serang. Pemberhentian pertama di kota ini adalah stasiun Walantaka. Stasiun kecil ini terletak paling timur di kota Serang. Mulai dari sinilah keseruan joyride dengan KA Lokal Merak dimulai.

Stasiun Walantaka
Stasiun Walantaka

Kalau kata Balu yang sudah pernah naik KA Lokal Merak sebelumnya, penumpang di sini dikenal barbar. Eits, bukan berarti mereka garang dan membawa senjata, ya! Maksudnya barbar di sini adalah penumpangnya terkenal ramai. Apalagi jika penumpangnya adalah ibu-ibu, pasti ramai dengan gosip dan obrolan mereka. Udah kayak obrolan di warung sayur!

Hal itu terbukti ketika KA Lokal Merak berangkat dari stasiun Walantaka. Kereta semakin riuh rendah oleh rombongan emak-emak dan penumpang lainnya. Entah dari mana saja dan ke mana saja mereka pergi, sepertinya mereka akan menunaikan tugas mereka, yakni berbelanja. Belum lagi ada penumpang yang membawa belanjaan dengan jumlah besar. Hal ini membuat kereta penuh hatta saya memilih duduk manis di kursi saja. Pengumuman dari kondektur pun hampir tidak terdengar, kalah suara dengan rombongan penumpang. 

penumpang turun di stasiun Serang
Banyak penumpang yang turun di stasiun Serang

Pengumuman tadi memberitahukan bahwa KA Lokal Merak tiba di stasiun Serang. Stasiun ini adalah stasiun terbesar di kota Serang. Di stasiun ini, banyak penumpang “barbar” turun. Dengan turunnya penumpang tadi, saya berharap keriuhan mulai mereda. Ternyata, tidak juga! Masih banyak penumpang naik di sini. Kereta pun harus berhenti cukup lama. Keramaian kereta pun berlanjut kembali dan saya lagi-lagi harus tetap duduk daripada tempat saya diambil orang lain. 

Setelah berhenti cukup lama, KA Lokal Merak berangkat dari stasiun Serang. Suasana kota Serang yang tidak seramai Rangkasbitung dalam pandangan saya terlihat di sini. Dari jendela kereta, tampak bangunan tinggi berpadu dengan areal persawahan dan perkampungan warga. kombinasi antara kehidupan masyarakat urban dan rural terlihat di sini. Setelah perjalanan beberapa saat, kereta tiba di stasiun Karangantu. 

stasiun Karangantu
Stasiun Karangantu

Stasiun Karangantu masih berada di kota Serang. Stasiunnya tidak sebesar stasiun Serang, tapi ia punya keunikan tersendiri. Ia terletak di kawasan Banten lama atau wilayah eks istana kesultanan Banten. Ia dekat dengan Masjid Agung Banten. Menara masjid sampai terlihat dari kereta ketika kereta meninggalkan stasiun Karangantu. Setelah dari Karangantu, kereta berangkat kembali hingga tiba di stasiun Tonjongbaru. Stasiun ini terbilang kecil dan dekat dengan jalan raya. Saking dekatnya, kereta sampai menutupi JPL dan kendaraan yang lewat harus berhenti agak lama di situ. Kereta pun tak berlama-lama di stasiun Tonjongbaru karena takut dilempari sama pengguna kendaraan. Bukan, ding! Tapi karena sudah diisyaratkan berangkat oleh PPKA.

perlintasan stasiun Tonjongbaru
Perhentian KA Lokal Merak bahkan menutupi perlintasan di stasiun Tonjongbaru

KA Lokal Merak pun meneruskan perjalanannya hingga masuk kota Cilegon. Nuansa kota Cilegon agak kontras dengan perjalanan sebelumnya. DI sini banyak berdiri pabrik mengingat Cilegon adalah salah satu kota industri besar. Salah satu industri besar di sini adalah PT Krakatau Steel. Hal itu terlihat juga dari banyaknya kendaraan berat seperti truk kontainer yang lewat jalan tol Jakarta-Merak, menunjukkan arus distribusi pendukung industri yang masif di daerah ini. KA Lokal Merak berhenti di 3 stasiun di kota ini, yaitu stasiun kota Cilegon, stasiun Krenceng, dan stasiun Merak.

stasiun Cilegon
Stasiun Cilegon difoto dari dalam KA Lokal Merak

Tiba di Merak

Pelabuhan Merak
Selat Sunda dekat pelabuhan Merak diambil dari dalam kereta

KA Lokal Merak terus menyusuri rel waktu di siang jelang sore. Beberapa kilometer ia melangkah, kereta melewati dua tebing cukup tinggi seakan-akan membelahnya. Keluar dari bongkahan tebing, kereta melewati jalan besar bersisian dengan laut lepas. Pasti ini sudah dekat dengan Merak! Kapal-kapal gagah berlayar di tengah laut, ada pula yang lewat di pinggirannya.

Sebentar saja, pelabuhan Merak sudah terlihat terminal penumpangnya. Kondektur pun mengumumkan bahwa KA Lokal Merak tiba di stasiun Merak, stasiun akhir dari kereta ini. Para penumpang bersiap-siap turun, termasuk saya. Meski bersiap-siap turun, saya tetap duduk di tempat agar selamat.

peron stasiun Merak
Suasana di stasiun Merak setelah kedatangan kereta

Kereta pun tiba di Merak. Semua penumpang yang di dalam turun. Saya turun dari pintu kanan dari arah datangnya kereta. Keluar dari kereta, saya tidak langsung keluar area stasiun melainkan kembali ke loket untuk memesan tiket perjalanan berikutnya. Setelah tiket di tangan, barulah saya keluar stasiun.

stasiun Merak
Stasiun Merak tampak depan

Di luar stasiun ternyata ada juga rel kereta. Di atasnya ada satu gerbong kricak terparkir. Tepat di depan stasiun, ada musala kecil yang terhimpit oleh pagar tembok. Berhubung waktu Ashar sudah dekat, orang-orang terutama kaum Adam memenuhi musala untuk menunaikan hajatnya di hadapan Sang Pencipta.

rel depan stasiun Merak
Ternyata ada rel di depan stasiun Merak!

Namun, saya memilih untuk langsung keluar dari kompleks stasiun. Jalan keluarnya terletak di ujung timur kompleks stasiun. Ia berupa pintu terbuka diapit oleh tembok dengan akses khusus bagi pejalan kaki yang memandu ke arahnya. Saya berjalan kaki mengikuti jalan berpagar besi tersebut sampai keluar.

Di luar stasiun, banyak kendaraan berlalu lalang. Banyak truk kontainer, truk molen, dan kendaraan besar lain yang melintas jalan ini diselingi kendaraan-kendaraan lain seperti angkot, kendaraan pribadi dan sepeda motor. Perlu ekstra hati-hati untuk melintasi jalan ini. Salah fokus sedikit, bisa-bisa jadi korban tabrakan! Saya pun berhasil menyeberang jalan. Di seberang jalan, berjajar ruko-ruko dengan berbagai macam dagangan. Setelah beberapa langkah, saya akhirnya berinisiatif untuk membeli perbekalan di Indomaret. Setelah bekal dirasa cukup, saya kembali ke stasiun.

Kembalinya ke stasiun, Alhamdulillah saya menjumpai momen spesial buat saya. Begitu masuk ke kompleks stasiun, lokomotif penarik KA Lokal Merak dilangsir ke arah Rangkasbitung. Lokomotifnya berposisi long hood alias kabin masinis berada di belakang. Tak mau melewatkan momen itu, saya pun merekamnya di ponsel. Setelah lokomotif tersambung dengan rangkaian kereta, saya menuju mushola untuk menunaikan shalat Ashar lalu kembali ke stasiun untuk pulang.

Langsiran lokomotif KA Lokal Merak
Lokomotif yang dipindah arah di stasiun Merak

Kembali ke Rangkasbitung

backride ke Rangkasbitung
Waktunya kembali!

Waktu sudah semakin sore. Waktunya kali ini untuk kembali ke stasiun. Karena sudah membeli tiket setelah tiba di Merak, saya langsung menuju pemeriksaan tiket. Setelah lolos pengecekan, saya langsung masuk kereta yang terparkir sejak kedatangannya.

Saya memilih tempat di rangkaian paling belakang. Itu saya lakukan untuk menjawab rasa penasaran seperti apa ujung rel paling barat di Jawa. Setiba di kereta paling belakang, saya mendekati bordes untuk mengobati penasaran. Ternyata, ujungnya berupa sepur badug! Sepur badug sendiri berarti sepur yang sudah berada di ujung. Sepur badug di stasiun Merak berupa tongkat dengan papan bulat merah dan papan persegi panjang berwarna hitam-putih bergaris, disebut dengan Semboyan 8G yang menandakan akhir jalur semua kereta api. 

ujung rel di Merak
Ternyata seperti ini ujung rel paling barat di stasiun Merak!

Setelah penasaran terobati, saya duduk di tempat kosong yang ada di kereta belakang. Di sana sudah duduk beberapa orang. Ada petugas berseragam, ada pula penumpang biasa. Para petugas ini sepertinya petugas KAI yang hendak kembali dari Merak ke rumah setelah bertugas. Uniknya, di kereta ada beberapa tukang jajanan yang membawa jajanannya di kereta. Meski demikian, mereka tidak berkeliling ke kereta-kereta seperti saat kita naik kereta di zaman dulu, tapi hanya duduk di kursi. Duduk-duduk gitu, ada saja yang membeli jajanan mereka. Saya pun ikut-ikutan membeli sebuah arem-arem (semacam lontong dengan isian). Enak dan mengenyangkan. Bukan cuma tukang jajanan, ada juga penjual pernak-pernik yang menumpang kereta ini. Sepertinya mereka dari pulau seberang yang datang dari pelabuhan atau pedagang sekitar pelabuhan. 

KA Lokal Merak berangkat pada jam 15:50. Saya ke bordes lagi untuk mengambil video momen backride dari ujung barat Jawa. Setelah puas, sayya kembali ke kursi. Ternyata, kereta sudah cukup ramai dengan obrolan para penumpang di sana. Saya yang joyride sendirian hanya duduk menyimak apa yang mereka omongkan.

Semakin lama kereta berjalan, semakin ramai penumpang yang datang. Suasana dalam kereta pun semakin riuh. Hampir tak terdengar apa yang mereka bicarakan. Begitu memasuki kota Cilegon dan Serang, penumpang masuk bertambah. Saya pun pindah ke depan karena bosan dan ingin mencari tempat yang lebih tenang.

Pencarian tempat duduk yang sepi tak membuahkan hasil. Setiap sudut-sudut kereta sudah penuh dengan penumpang. Ada yang menumpang sendiri, membawa keluarga, ada juga anak-anak sekolahan yang baru pulang sekolah. Beberapa tukang pikul masih ada di sini. Bahkan, sebagian penumpang memenuhi bordes kereta. Kondektur pun agak kewalahan bolak-balik kereta. Ya sudah! Saya pasrah saja berdiri di lorong-lorong yang tersisa. Daripada bosan, mending foto pemandangan lagi aja dari dalam kereta

sekitar rel menjelang maghrib
Pemandangan dari dalam kereta menjelang Maghrib

Beruntung, kereta mulai kosong ketika kereta hampir sampai di Rangkasbitung. Di stasiun Catang, sudah mulai banyak penumpang turun. Saya pun segera duduk keburu orang lain menempati. Sembari duduk, saya menikmati sangu yang masih tersisa di tas. Bekal yang saya beli di Merak tidak sempat saya makan karena tidak ada tempat duduk untuk makan. Masak makannya sambil berdiri?!

Hari semakin gelap. KA Lokal Merak masih terus mengangkut penumpang ke tujuannya. Begitu kereta tiba di stasiun Jambu Baru, sebagian penumpang sudah mulai turun lagi. Penumpang yang naik dari stasiun ini tidak begitu banyak. Saya pun semakin tenang karena tidak terlalu ramai seperti di awal naik dari Merak. KA Lokal Merak pun kembali berangkat. Menjelang maghrib, kereta tiba di stasiun akhir Rangkasbitung. Semua penumpang pun turun. Saya memilih turun agak telat agar tidak berdesakan dengan penumpang lain. Setelah turun dari kereta, azan maghrib bersahut-sahutan dari masjid-masjid sekitar. Saya segera keluar stasiun untuk mengakhiri perjalanan sore itu. 

peron stasiun Rangkasbitung
Alhamdulillah, akhirnya tiba di Rangkasbitung

0 Comments:

Museum Multatuli, Museum Sejarah Antikolonialisme Pertama di Indonesia

9/26/2020 05:04:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Museum Multatuli merupakan museum yang memamerkan sejarah kolonialisme Belanda di Lebak, Banten dan perjuangan Multatuli melawan praktiknya. Ia terletak di kawasan Alun-Alun Rangkasbitung, kelurahan Rangkasbitung Barat, kecamatan Rangkasbitung, Lebak. Dulunya bangunan tersebut merupakan kantor Wedana Lebak. Akan tetapi pada 2017, bangunan ini dialihfungsikan sebagai museum dan diresmikan pada bulan Februari 2018 oleh bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dan Direktur Jenderal Kebudayaan. Museum ini unik, karena ia adalah museum anti-kolonialisme pertama di Indonesia. Sebetulnya, museum serupa sudah ada di Amsterdam, Belanda. Namun, museum tersebut tidak memiliki afiliasi dengan museum yang ada di kota Rangkasbitung ini.


Letak Museum Multatuli sangat strategis sehingga rutenya mudah dijangkau. Saya berangkat dari stasiun Rangkasbitung menumpang ojek online. jaraknya hanya kurang lebih 1,5 km via Rangkasbitung Indah Plaza (Rabinza). Selama perjalanan, saya sesekali mengobrol bersama abang ojol tentang kawasan Lebak, sembari bercerita tentang sedikit pengalaman ke perkampungan masyarakat Baduy. Asyik mengobrol, tak terasa perjalanan kami sudah tiba di Alun-Alun Rangkasbitung. Dengan sedikit mengitari alun-alun, saya sudah sampai di Museum Multatuli.


Selamat datan Museum Multatuli


Begitu memasuki Museum Multatuli, saya disambut dengan gapura unik. Gapuranya terbuat dari susunan bambu-bambu membentuk segitiga mirip singgasana di serial Game of Thrones. Di dalam terdapat pendopo di sisi kiri saya dan patung-patung dan spot foto di sisi kanan. Di spot foto, berdiri patung Multatuli dengan pose duduk membaca dikelilingi oleh tiang-tiang tinggi. 

Gapura Museum Multatuli

Patung Multatuli


Sebelum masuk museum, saya menyempatkan diri duduk sejenak di pendopo. Pendopo Museum Multatuli tidak terlalu tinggi namun cukup luas dan sejuk. Sejuknya pendopo terpengaruh oleh arsitekturnya yang semi terbuka dengan berlantaikan marmer. Pendopo museum penuh dengan nuansa kuning keemasan berpadu coklat dari lantai, tiang dan atapnya. Selain saya, ada beberapa orang tampak duduk-duduk santai menikmati siang di pendopo.


Pendopo Museum Multatuli


Sebelum masuk, saya mendaftarkan diri dengan menulis biodata pengunjung di resepsionis. Pendaftaran masuk Museum Multatuli tidak ditarik biaya sepeserpun alias gratis, tis! Resepsionis juga menyediakan beberapa brosur terkait museum. Dari pintu masuk, saya disambut dengan patung potret Multatuli bertuliskan “Multatuli Eduard Douwes Dekker -- 2 Maret 1820-19 Februari 1887”. Terpampang pula quote Multatuli berbunyi “Tugas manusia adalah menjadi manusia” bersanding dengan vektor wajah Multatuli di sisinya. Tulisan tersebut mengingatkan saya, sudahkah saya menjadi manusia seutuhnya?


Potret Multatuli


Masuk ke ruang berikutnya, ada ruangan yang menceritakan awal mula kedatangan VOC ke Indonesia. Di sana diputarkan video mengenai kedatangan VOC ke Indonesia. Sebagaimana diketahui,tujuan awal VOC adalah untuk berdagang dan mencari hasil bumi di tanah Nusantara. Namun, yang terjadi adalah penjajahan, eksploitasi sumber daya yang mengakibatkan penderitaan panjang bagi rakyat. Selain video, di ruangan ini juga dipamerkan miniatur kapal yang digunakan VOC.




Beberapa komoditas yang diincar oleh VOC juga dijelaskan. Di antara hasil bumi yang dimaksud adalah pala, kopi, dan cengkeh. Di situ diterangkan asal mula tanaman, di mana tanaman tersebut dibudidayakan, serta kegunaannya bagi manusia. Alat-alat yang digunakan untuk mengolah tanaman tersebut juga dipamerkan seperti mesin giling kopi tradisional. 




Ada juga peta yang menerangkan tanam paksa. Sistem yang disebut dengan Cultuurstelsel dalam bahasa Belanda ini mewajibkan pemilik tanaman menyerahkan 20% tanahnya untuk ditanami tanaman ekspor. Bagi yang tidak memiliki tanah diwajibkan untuk menggarap lahan dengan komoditas ekspor. Namun, praktiknya tidak sesuai dengan aturan tertulis. Tuan tanah dirampas tanahnya melebihi yang disepakati untuk kepentingan penjajah. Begitu pula dengan para penggarap tanah. Mereka diperas tenaganya melebihi waktu yang ditentukan tanpa diberikan upah lembur. 




Kondisi demikian yang menyiksa rakyat Banten pada waktu itu. Karena penderitaan masyarakat semakin bertambah, rakyat Banten melakukan serangkaian aksi melawan kebijakan tanam paksa. Beberapa peristiwa yang terekspos di Museum Multatuli adalah Pemberontakan Haji Wakhia pada tahun 1854 dan Pemberontakan Nyimas Gamparan. Peristiwa pertama dipimpin oleh Haji Wakhia, seorang ulama dari Serang. Beliau bersama Tubagus Iskak memimpin gerakan rakyat melawan kolonial sejak 1850, memuncak pada 1 Mei 1854 dan berakhir ketika beliau berdua ditangkap dan dihukum mati pada 1856. Sedangkan, peristiwa Nyimas Gamparan terjadi pada tahun 1885 di beberapa tempat di Banten. Semua terekam dalam sebuah visual berbentuk timeline berwarna merah. Selain dua peristiwa tadi, linimasa yang tertempel juga menampilkan peristiwa lain seperti pendirian Indische Partij dan Sarikat Islam hingga kemerdekaan Indonesia.



Selain linimasa sejarah perjuangan rakyat, Museum Multatuli juga menampilkan sejarah Lebak. Dimulai dari pendirian kabupaten Lebak pada tahun 1828 sampai era kemerdekaan Indonesia. Salah satu yang ditampilkan adalah sosok RTA Kartanegara, bupati Lebak ketiga yang berhasil memadamkan pemberontakan Nyimas Gamparan hingga diangkat menjadi bupati. Pembangunan jalur kereta api di Lebak pun diangkat dalam anjungan ini. Ketika Indonesia merdeka, kabar tentang proklamasi kemerdekaan disampaikan ke Lebak oleh beberapa tokoh. Linimasa ini diakhiri oleh kisah bupati RT Hardiwinangun yang ikut andil dalam kemerdekaan Indonesia.



Mengunjungi Museum Multatuli tentu saja tak boleh lupa membahas peran Multatuli dalam pengentasan kolonialisme di Banten. Multatuli, yang nama aslinya adalah Eduard Douwes Dekker, merupakan seorang pegawai residen Belanda yang ditugaskan di Lebak, karesidenan Banten. Di sana ia menemukan bahwa sistem kerja rodi menyengsarakan rakyat. Padahal, ia sendiri melaksanakan mandat dari pemerintah kolonial Belanda untuk mengawal sistem Tanam Paksa. Namun, rasa kemanusiaannya tergerak untuk peduli dengan warga Lebak. Untuk itu, ia melontarkan kritik kepada pemerintah sebagai kepeduliannya.


Raja Willem III dan Surat Multatuli


Awalnya, ia menulis surat kepada Raja Willem III, penguasa Belanda waktu itu. Dalam suratnya, ia memohon agar kerajaan memperhatikan penderitaan rakyat jajahan. Dengan tegas ia menulis:


"Kepada Anda saya bertanya dengan penuh keyakinan: Apakah Kerajaan Anda ingin membuat lebih dari tiga puluh juta rakyat di Hindia Timur ditindas dan dihisap atas nama Anda?"


Multatuli juga memberitahukan naskah bukunya yang akan terbit dalam surat tersebut. Namun, karena permintaanya tidak digubris oleh raja, ia segera menerbitkan Max Havelaar yang menjadi karya sastra fenomenal karena menggambarkan penderitaan rakyat jajahan secara apa adanya.



Di museum Multatuli pun dipamerkan beberapa versi dari Max Havelaar. Ada 13 naskah Max Havelaar dengan versi bahasa Belanda, Inggris, dan Indonesia. Setiap versi memiliki ciri khasnya sendiri sesuai dengan penerbit. Ada cetakan di era periode awal berbahasa Belanda. Cetakannya yang terbaru di antara koleksi tersebut sudah dilampirkan foto-foto tentang kondisi Hindia Belanda di masa itu. Buku-buku koleksi Max Havelaar bisa kita baca di tempat, dan difasilitasi bangku serta suasana yang asri. Selain Max Havelaar terdapat karya tulis yang lain seperti surat Sukarno kepada sahabatnya, Samuel Koperberg. Dalam suratnya, Bung Karno menceritakan kondisi dirinya dan tempat pengasingannya di Ende, Nusa Tenggara Timur. Sebagai pengetahuan, Bung Karno diasingkan oleh pemerintah kolonial di Ende pada tahun 1934-1938 karena ia memperjuangkan kemerdekaan Indonesia secara vokal. Karya tulis lain adalah buku pleidoi Bung Hatta dengan judul Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka) yang ditulis pada tahun 1928.




Masih di tempat yang sama dengan koleksi Max Havelaar, ada potret beberapa tokoh Lebak dan tokoh lain yang pernah memiliki kesan dengan Lebak. Di antara figur yang terpampang adalah Maria Ulfah, Menteri Sosial pertama Indonesia; W.S. Rendra, penyair tenar yang pernah menulis sajak tentang rakyat Lebak berjudul Demi Orang-Orang Rangkasbitung; juga Tan Malaka yang pernah berjuang menyejahterakan para romusha di Banten, dan Misbach Yusa Biran, seorang putra daerah Lebak yang tersohor sebagai sutradara dan kolumnis. Selain potret tokoh-tokoh Banten, potret figur yang mengomentari Multatuli dan Max Havelaar juga dipamerkan beserta komentar mereka tentangnya. Tokoh-tokoh tersebut adalah Bung Karno, Raden Ajeng Kartini, Jose Rizal (pejuang kemerdekaan Filipina), Ahmad Subardjo, dan Pramoedya Ananta Toer.




Ruangan terakhir yang saya kunjungi di Museum Multatuli adalah ruangan tentang seluk-beluk Lebak. Ruangan ini secara ringkas menampilkan tentang kehidupan masyarakat Baduy, penduduk asli Lebak. Diorama yang dipamerkan dalam ruangan ini adalah pakaian khas, alat tenun Baduy yang menjadi salah satu mata pencaharian mereka, dan beberapa motif kain tenun. Bagi kalian yang penasaran tentang masyarakat Baduy, ruangan ini dapat mengenalkan secara ringkas dan membuka wawasan kalian.





Di pintu keluar, saya disambut dengan halaman belakang yang sama indah dengan halaman depan Museum Multatuli. Taman dengan nuansa kuning keemasan dari lantainya berpadu warna putih dari tembok bangunan ditambah tanaman-tanaman hijau menyegarkan pandangan mata. Toilet bagi pengunjung terletak di sisi belakang museum ini. Peta wilayah Lebak beserta petunjuk lokasi wisata buat yang penasaran untuk mengeksplorasi keindahan Lebak. Di sisi lain, terdapat jalan setapak menuju Perpustakaan Umum Saidjah-Adinda yang terletak persis di utara museum dengan konsep senada seperti taman belakang museum. Halaman belakang ini tempat cocok untuk beristirahat setelah menjelajah museum.





Museum Multatuli menawarkan pembelajaran tentang sejarah perjuangan Multatuli dan masyarakat Lebak menghadapi kolonialisme Belanda. Konsep museum sejarah dikemas dengan nuansa kekinian mengajak generasi muda mengkaji sejarah. Interior museum yang instagrammable semakin menarik minat untuk mencintai museum dan sejarah yang disajikannya. Museum Multatuli bisa menjadi tujuan buat kita, anak muda yang minat dengan kajian tentang masa lalu kelam kolonialisme.


0 Comments:

Cerita dari Kereta: Ekspedisi Jalur Kantong bagian III/habis (KA Dhoho Surabaya-Tulungagung via Kertosono)

5/22/2020 04:04:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Dhoho, Surabaya, Tulungagung

Tulisan ini merupakan bagian terakhir cerita dari Ekspedisi Jalur Kantong. Untuk membaca cerita bagian sebelumnya klik di sini dan sini

Kami telah tiba di Stasiun Surabaya Kota (Stasiun Semut). Hari itu, kami baru menyelesaikan jelajah singkat ke Tugu Pahlawan yang jaraknya dekat dari stasiun. Karena lelah, kami langsung mengambil tempat duduk terdekat di ruang tunggu. Kami melepaskan tas masing-masing di kursi agar tidak keberatan.


Setelah duduk, saya mengambil ponsel dan charger lalu mengisi daya di spot yang sudah disediakan. ALhamdulillah, lokasi charging spot dekat dengan kursi tempat kami sehingga cukup selangkah kami bisa ngecas HP. Agar tidak kelaparan di jalan, kami berinisiatif untuk patungan membeli bekal di warung-warung tersebut. Tidak ada besaran yang ditentukan, masing-masing bisa mengeluarkan semampunya, yang penting mau mengumpulkan.
Setelah semua mengumpulkan, kami membagi tugas, Harun dan Balu shalat Dzuhur duluan, Faiq dan Hasbi membeli makanan, dan saya menjaga barang bawaan. Shalat Dzuhur kami rencanakan bergantian agar bawaan tetap bisa dijaga. Saya pun duduk menjaga barang-barang, tak berapa lama terdengar suara dari pengeras suara

“Kereta Api Rapih Dhoho tujuan Blitar akan diberangkatkan 10 menit lagi....”
Sontak saya pun kaget. Lalu saya panggil semua teman yang masih berpencar. Balu keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru. Begitu pula dengan Hasbi dan Faiq yang sudah tiba dari warung, untungnya sudah membawa perbekalan. Saya pun segera menyuruh mereka untuk membawa barang-barang.

“Bawa aja semua barangnya!” seruku panik.

“Ane check-in duluan, ya…!” Hasbi membalas. 

“Yo, ndang!” jawabku singkat.

Namun, ternyata masih ada seorang lagi yang belum keluar. Harun masih di kamar mandi! Saat yang lain sudah berangkat, saya masih berdiri di belakang gerbang check-in menunggunya. 

“Run…! Harun…!” teriakku di stasiun.

Dia belum juga muncul!

Saya pun akhirnya menyerah dan masuk peron. Ternyata, Harun baru keluar kamar mandi. Ia berlari-lari kebingungan. Waktu itu, semboyan 40 (isyarat dari PPKA bahwa kereta siap diberangkatkan) hampir diberikan. Masinis juga hampir siap memberangkatkan. Itu tandanya kereta siap berangkat dan Harun bisa-bisa ketinggalan kereta. Beruntung, ia lolos check-in dan bisa masuk kereta. Saya pun merasa lega. Kembali saya berlari mengejar kereta namun dengan perasaan agak tenang karena tidak ada yang tertinggal.

Saya masuk kereta, mencari teman-teman lain yang sepertinya sudah duduk. Tanpa sadar, Harun sudah berdiri di belakang. Kami berdua akhirnya mencari tempat duduk. Tempat di mana Balu, Hasbi, dan Faiq naik. Saya tidak mau duduk terpisah karena akan menyusahkan. Bisa jadi, akan banyak penumpang yang naik dan kereta akan penuh. Setelah melewati 2 atau 3 kereta, kami pun akhirnya saling bertemu dan bisa mendapatkan tempat duduk. 

Setelah duduk dan menaruh barang, kami bercerita kenapa kita bisa hampir terlambat. Ternyata, Hasbi salah melihat jadwal. Hasbi kebagian tugas memesankan tiket kereta Dhoho karena dialah satu-satunya yang punya aplikasi LinkAja. Menurut pengakuannya setelah memesan tiket, KA Dhoho berangkat jam 12:20. Kami pun sebelum berangkat hanya mengiyakan. Ternyata, jadwal yang tertera di jadwal bukan jam 12:20, melainkan jam 12:10, lebih cepat dari yang kami tahu. Kami hanya tertawa-tawa mengingat kejadian tadi sebelum berangkat. Setelah asyik mengobrol, Faiq pun membagikan nasi bungkus yang telah ia beli.

Kami pun makan di atas kereta Dhoho. Menunya sederhana, nasi rames dengan porsi sedang. Yang penting waktu itu adalah perut terisi, tenaga tercukupi, perjalanan lancar terkendali. Cuaca panas menyengat kota Surabaya hingga menembus jendela kereta. AC kereta pun seperti hampir tidak terasa saking panasnya. Mau ditutup dengan gorden, tidak bisa melihat pemandangan. Sayang banget kalau jendelanya ditutup. Saya yang makan sembari melihat pemandangan pun harus menahan panas dari luar.

Tak terasa KA Dhoho sudah memasuki stasiun Wonokromo. Di sini banyak kereta dari kota-kota lain berhenti di stasiun ini. Ia adalah pintu gerbang awal bagi kereta api ke Surabaya. Di sini banyak penumpang yang naik KA Dhoho menuju kota-kota lain. Setelah meninggalkan Wonokromo, KA Dhoho bergerak ke arah barat melintasi JPL 1A Wonokromo dan JPL 8 Ketintang menuju stasiun Sepanjang.

Dhoho, Sepanjang, Surabaya
Suasana penumpang di stasiun Sepanjang

KA Dhoho pun tiba di stasiun Sepanjang. Stasiun Sepanjang sudah termasuk wilayah Kab. Sidoarjo. Stasiun ini tergolong sebagai stasiun kecil. Meskipun kecil, cukup ramai penumpang yang naik dari stasiun ini cukup banyak sehingga terlihat ramai dari dalam kereta. Mendengar nama stasiun ini, saya teringat lagunya The Rain yang berjudul “Sepanjang Jalan Kenangan.” Entah apakah ada jalan kenangan betulan di sini. Tentunya stasiun ini diambil dari nama kelurahan letak stasiun ini.

Tiba di Jombang
Jombang, Dhoho, Surabaya
KA Dhoho dan KA Ketel parkir di stasiun Jombang
Setelah meninggalkan Sepanjang, saya tertidur pulas. Perjalanan singkat yang melelahkan membuat saya tertidur. Begitu bangun, tiba-tiba saya sudah berada di daerah Jombang. Tiba-tiba juga saya terpisah dari teman-teman lain. Mereka sepertinya bergeser ke tempat duduk di sebelah karena harus berbagi tempat dengan yang lain. Di depan saya pun sudah duduk tiga orang pemuda. Mereka tampak asyik mengobrol sambil tertawa lepas sampai berisik.

Sejenak selepas saya terbangun, KA Dhoho berhenti di sebuah stasiun kecil di Jombang, saya lupa namanya. KA Dhoho ternyata harus bersilang dengan KA Logawa. Persilangan terjadi ketika ada dua kereta yang akan berpapasan dalam satu jalur. Ini wajar terjadi demi keselamatan kereta api. Prosedur yang biasa dilakukan adalah kereta dengan nomor perjalanan lebih besar akan menunggu di suatu stasiun menunggu kereta dengan nomor lebih kecil. Tidak hanya nomor perjalanan, persilangan kereta ditentukan dengan keterlambatan kereta atau faktor lain. 
Dhoho, Jombang, Kertosono
Suasana di jalur Kertosono-Jombang

Perjalanan KA Dhoho di Jombang melewati sawah dan kebun jagung yang luas. Sawah-sawah waktu itu tidak ditanami padi karena sudah memasuki musim panen. Sedangkan ladang jagung waktu itu sudah siap panen. Selain itu, jalur kereta bersisian dengan jalan raya membuat pemandangan unik. Kita bisa melihat sepeda motor atau kendaraan lain “mengejar” kereta api yang kita tumpangi, namun selalu didahului oleh kereta api.

KA Dhoho pun tiba di stasiun Jombang. Stasiun ini termasuk stasiun kereta api kelas besar di kecamatan Jombang Kota. KA Dhoho berhenti di Jombang sekitar pukul 14:30. Arus penumpang yang naik turun dari kereta ini cukup ramai, sehingga “mendorong” saya untuk keluar sejenak. Stasiun ini sendiri terletak di pusat kota, jadinya banyak orang yang naik turun di sini. Saya keluar untuk mengabadikan beberapa momen di stasiun. Ada satu kereta ketel yang terparkir di sini. Kereta ini berhenti di sini cukup lama, sekitar 5 menit.

Putar Arah di Kertosono

kertosono, dhoho

Setelah berhenti lama di Jombang, KA Dhoho diberangkatkan oleh masinis. Setelah meninggalkan Jombang, penumpang KA Dhoho terasa semakin penuh. Ini karena banyak penumpang yang naik di stasiun ini.

Setelah beberapa saat “lepas landas” dari Jombang, pemandangan yang sama dengan sebelum tiba di stasiun Jombang tersaji. Rel kereta yang bersebelahan dengan jalan raya masih mendominasi. Hari yang semakin sore membuat cuaca tidak terlalu panas tapi tetap menyilaukan. Tanpa terasa KA Dhoho sudah tiba di stasiun Sembung. KA Dhoho tidak berhenti lama di sini. Hanya beberapa menit, kereta sudah berangkat meninggalkan Sembung.

Setelah meninggalkan Sembung, saya pun kembali menikmati pemandangan dengan ditemani penumpang lain. Teman-teman yang lain berpencar di kursi-kursi lain karena saya sendiri yang turun di stasiun Jombang harus mencari kursi yang masih kosong. Tempat duduk yang saya sebelumnya harus saya relakan untuk orang lain jadi harus cari yang lain. 

KA Dhoho melewati jembatan besar yang di bawahnya mengalir sungai Brantas. Itu artinya kereta akan tiba di stasiun Kertosono. Kereta pun melewati proyek double track yang waktu itu hampir rampung. Meski begitu, pengerjaan terus dilakukan dan material tersusun di kanan kiri jalur seperti batang rel, bantalan beton, dan batu kricak.

KA Dhoho pun tiba di stasiun Kertosono sekitar pukul 3 sore. Inilah momen yang kami tunggu-tunggu, yakni langsiran lokomotif dan putar arah lokomotif. Kereta berputar arah dari arah barat ke timur, tepatnya ke arah Kediri, Tulungagung, lalu Blitar. Kereta berputar arah dengan cara membalikkan posisi lokomotif dari barat ke timur dengan menggunakan meja putar (turntable). Stasiun Kertosono adalah salah satu stasiun yang mempunyai fasilitas ini.


Begitu tiba di Kertosono, petugas langsir kereta sudah bersiap. Lokomotif pun dilepas dari rangkaian kereta. Lalu, lokomotif dilangsir ke arah barat kemudian dijalankan ke arah sebaliknya. Lokomotif berhenti di batas langsir kemudian dipindahkan jalurnya menuju jalur yang mengarah ke turntable. Dalam melangsir kereta, masinis didampingi juru langsir yang membawa bendera merah sebagai penanda lokomotif jalan atau berhenti.




Wesel pun dipindahkan untuk mengarahkan lokomotif ke arah turntable. Begitu lokomotif mendekati turntable, kami pun mencoba melihat prosesnya dari dekat. Balu pun bertanya kepada salah seorang petugas

“Mas, boleh ke sana, ya?!” pinta Balu menunjuk ke turntable.

“Monggo, mas! Tapi jangan lari-lari, ya!” Jawab si petugas mempersilahkan.

Yes, bisa lihat lokomotif putar balik! Kami segera mendekati turntable. Dengan hati-hati kami melangkah agar tidak tersandung di rel. Setelah tiba di sana, kurang afdhol kalau hanya melihat lokomotif diputar. Ide gila kami keluar untuk ikut nimbrung membantu memutarkan lokomotif.

“Pak, tak bantu, ya!” Kata Balu spontan.

“Oke, monggo, Mas!” Jawab petugas.


Alhamdulillah, bisa ikutan dorong lokomotif. Balu dan Faiq yang membantu petugas mendorong, saya dan Hasbi yang mendokumentasikan. Pemutaran lokomotif di Turntable dilakukan dengan tenaga manual. Caranya dengan mendorong gagang di masing-masing sisi. Ini dilakukan hingga lokomotif berganti haluan ke arah berlawanan. 

Lokomotif telah selesai diputar di turntable. Kami pun kembali ke kereta. Katanya, memutar lokomotif itu capek, tapi seru dan asyik. Terima kasih para petugas langsir Kertosono! 

Setelah kembali ke kereta, kami menunggu lokomotif disambungkan ke rangkaian kereta. Sambil menunggu, kami menemukan satu momen lagi, yaitu kereta produksi PT INKA untuk Filipina melewati stasiun Kertosono. Kereta jenis Diesel Multi Unit (DMU)/Kereta Rel Diesel (KRD) sedang diujicoba untuk diekspor ke negara mutiara laut orien. Setelah lokomotif disambung, KA Dhoho berangkat dari Kertosono.


Berpisah di Kediri


KA Dhoho beranjak dari Kertosono ke Blitar melewati jalur Kertosono-Bangil yang dijuluki jalur kantong. Ekspedisi jalur kantong pun berlanjut.

KA Dhoho sekali lagi melewati sungai Brantas, sungai yang penting bagi Jawa Timur karena Brantas adalah salah satu sumber irigasi bagi masyarakat Jatim. Sepanjang perjalanan, sawah-sawah terhampar. Berbeda dengan di Jombang, sawah di sini tampak menghijau karena mungkin baru masuk musim panen.

KA Dhoho sempat berhenti di stasiun Purwoasri. Stasiun kecil ini terletak di Purwoasri, Kediri. Meskipun berhenti, kereta tidak menurunkan atau menaikkan penumpang. Kereta hanya menunggu bersilang dengan sesama KA Dhoho arah Kertosono. Setelah di Purwoasri, KA Dhoho berhenti lagi di stasiun Papar. Kali ini untuk menaikturunkan penumpang.

KA Dhoho pun tiba di stasiun Kediri sekitar pukul 4 sore. Stasiun Kediri termasuk stasiun besar dan melayani seluruh perjalanan kereta yang melewati rute ini. Di sinilah kami harus berpisah dengan Faiq yang turun dahulu mengingat ia pulang ke rumahnya di kota ini.

“Ane pulang dulu, ya…!” kata Faiq.

“Yo. Hati-hati!” jawab Balu disusul teman-teman yang lain.

Saya ikut-ikutan keluar seperti “melepas” kepergiannya. Di peron stasiun tampak banyak orang. Tak lama berselang, KA Gajayana masuk stasiun Kediri dari arah Malang. KA Dhoho pun harus menunggu Gajayana berhenti barulah bisa diberangkatkan.

Pulang ke Tulungagung

Tulungagung, Kereta Api, dhoho

KA Dhoho telah pergi meninggalkan Kediri. Perjalanan kami menuju Tulungagung praktis tanpa ditemani Faiq yang turun duluan. Namun, Dhoho masih tetap ramai seperti biasa.

Setelah Kediri, KA Dhoho hanya berhenti di dua stasiun, yaitu stasiun Ngadiluwih dan KRas. Kedua stasiun kecil ini terletak di Kab. Kediri. Karena kelas kecil, tak banyak penumpang yang naik turun di sini.


Perjalanan kami berakhir ketika kereta Dhoho masuk Tulungagung. Dhoho berhenti di stasiun Tulungagung kira-kira pukul 5 sore. Kami pun turun dari kereta dan keluar melewati pintu yang ada di selatan stasiun. Setelah keluar kami beristirahat sejenak menikmati seporsi bakso di warung seberang stasiun lalu berjalan kaki mencari bus menuju Trenggalek.

0 Comments: