Cerita dari Kereta: Ekspedisi Jalur Kantong bagian III/habis (KA Dhoho Surabaya-Tulungagung via Kertosono)

5/22/2020 04:04:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 0 Comments


Dhoho, Surabaya, Tulungagung

Tulisan ini merupakan bagian terakhir cerita dari Ekspedisi Jalur Kantong. Untuk membaca cerita bagian sebelumnya klik di sini dan sini

Kami telah tiba di Stasiun Surabaya Kota (Stasiun Semut). Hari itu, kami baru menyelesaikan jelajah singkat ke Tugu Pahlawan yang jaraknya dekat dari stasiun. Karena lelah, kami langsung mengambil tempat duduk terdekat di ruang tunggu. Kami melepaskan tas masing-masing di kursi agar tidak keberatan.


Setelah duduk, saya mengambil ponsel dan charger lalu mengisi daya di spot yang sudah disediakan. ALhamdulillah, lokasi charging spot dekat dengan kursi tempat kami sehingga cukup selangkah kami bisa ngecas HP. Agar tidak kelaparan di jalan, kami berinisiatif untuk patungan membeli bekal di warung-warung tersebut. Tidak ada besaran yang ditentukan, masing-masing bisa mengeluarkan semampunya, yang penting mau mengumpulkan.
Setelah semua mengumpulkan, kami membagi tugas, Harun dan Balu shalat Dzuhur duluan, Faiq dan Hasbi membeli makanan, dan saya menjaga barang bawaan. Shalat Dzuhur kami rencanakan bergantian agar bawaan tetap bisa dijaga. Saya pun duduk menjaga barang-barang, tak berapa lama terdengar suara dari pengeras suara

“Kereta Api Rapih Dhoho tujuan Blitar akan diberangkatkan 10 menit lagi....”
Sontak saya pun kaget. Lalu saya panggil semua teman yang masih berpencar. Balu keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru. Begitu pula dengan Hasbi dan Faiq yang sudah tiba dari warung, untungnya sudah membawa perbekalan. Saya pun segera menyuruh mereka untuk membawa barang-barang.

“Bawa aja semua barangnya!” seruku panik.

“Ane check-in duluan, ya…!” Hasbi membalas. 

“Yo, ndang!” jawabku singkat.

Namun, ternyata masih ada seorang lagi yang belum keluar. Harun masih di kamar mandi! Saat yang lain sudah berangkat, saya masih berdiri di belakang gerbang check-in menunggunya. 

“Run…! Harun…!” teriakku di stasiun.

Dia belum juga muncul!

Saya pun akhirnya menyerah dan masuk peron. Ternyata, Harun baru keluar kamar mandi. Ia berlari-lari kebingungan. Waktu itu, semboyan 40 (isyarat dari PPKA bahwa kereta siap diberangkatkan) hampir diberikan. Masinis juga hampir siap memberangkatkan. Itu tandanya kereta siap berangkat dan Harun bisa-bisa ketinggalan kereta. Beruntung, ia lolos check-in dan bisa masuk kereta. Saya pun merasa lega. Kembali saya berlari mengejar kereta namun dengan perasaan agak tenang karena tidak ada yang tertinggal.

Saya masuk kereta, mencari teman-teman lain yang sepertinya sudah duduk. Tanpa sadar, Harun sudah berdiri di belakang. Kami berdua akhirnya mencari tempat duduk. Tempat di mana Balu, Hasbi, dan Faiq naik. Saya tidak mau duduk terpisah karena akan menyusahkan. Bisa jadi, akan banyak penumpang yang naik dan kereta akan penuh. Setelah melewati 2 atau 3 kereta, kami pun akhirnya saling bertemu dan bisa mendapatkan tempat duduk. 

Setelah duduk dan menaruh barang, kami bercerita kenapa kita bisa hampir terlambat. Ternyata, Hasbi salah melihat jadwal. Hasbi kebagian tugas memesankan tiket kereta Dhoho karena dialah satu-satunya yang punya aplikasi LinkAja. Menurut pengakuannya setelah memesan tiket, KA Dhoho berangkat jam 12:20. Kami pun sebelum berangkat hanya mengiyakan. Ternyata, jadwal yang tertera di jadwal bukan jam 12:20, melainkan jam 12:10, lebih cepat dari yang kami tahu. Kami hanya tertawa-tawa mengingat kejadian tadi sebelum berangkat. Setelah asyik mengobrol, Faiq pun membagikan nasi bungkus yang telah ia beli.

Kami pun makan di atas kereta Dhoho. Menunya sederhana, nasi rames dengan porsi sedang. Yang penting waktu itu adalah perut terisi, tenaga tercukupi, perjalanan lancar terkendali. Cuaca panas menyengat kota Surabaya hingga menembus jendela kereta. AC kereta pun seperti hampir tidak terasa saking panasnya. Mau ditutup dengan gorden, tidak bisa melihat pemandangan. Sayang banget kalau jendelanya ditutup. Saya yang makan sembari melihat pemandangan pun harus menahan panas dari luar.

Tak terasa KA Dhoho sudah memasuki stasiun Wonokromo. Di sini banyak kereta dari kota-kota lain berhenti di stasiun ini. Ia adalah pintu gerbang awal bagi kereta api ke Surabaya. Di sini banyak penumpang yang naik KA Dhoho menuju kota-kota lain. Setelah meninggalkan Wonokromo, KA Dhoho bergerak ke arah barat melintasi JPL 1A Wonokromo dan JPL 8 Ketintang menuju stasiun Sepanjang.

Dhoho, Sepanjang, Surabaya
Suasana penumpang di stasiun Sepanjang

KA Dhoho pun tiba di stasiun Sepanjang. Stasiun Sepanjang sudah termasuk wilayah Kab. Sidoarjo. Stasiun ini tergolong sebagai stasiun kecil. Meskipun kecil, cukup ramai penumpang yang naik dari stasiun ini cukup banyak sehingga terlihat ramai dari dalam kereta. Mendengar nama stasiun ini, saya teringat lagunya The Rain yang berjudul “Sepanjang Jalan Kenangan.” Entah apakah ada jalan kenangan betulan di sini. Tentunya stasiun ini diambil dari nama kelurahan letak stasiun ini.

Tiba di Jombang
Jombang, Dhoho, Surabaya
KA Dhoho dan KA Ketel parkir di stasiun Jombang
Setelah meninggalkan Sepanjang, saya tertidur pulas. Perjalanan singkat yang melelahkan membuat saya tertidur. Begitu bangun, tiba-tiba saya sudah berada di daerah Jombang. Tiba-tiba juga saya terpisah dari teman-teman lain. Mereka sepertinya bergeser ke tempat duduk di sebelah karena harus berbagi tempat dengan yang lain. Di depan saya pun sudah duduk tiga orang pemuda. Mereka tampak asyik mengobrol sambil tertawa lepas sampai berisik.

Sejenak selepas saya terbangun, KA Dhoho berhenti di sebuah stasiun kecil di Jombang, saya lupa namanya. KA Dhoho ternyata harus bersilang dengan KA Logawa. Persilangan terjadi ketika ada dua kereta yang akan berpapasan dalam satu jalur. Ini wajar terjadi demi keselamatan kereta api. Prosedur yang biasa dilakukan adalah kereta dengan nomor perjalanan lebih besar akan menunggu di suatu stasiun menunggu kereta dengan nomor lebih kecil. Tidak hanya nomor perjalanan, persilangan kereta ditentukan dengan keterlambatan kereta atau faktor lain. 
Dhoho, Jombang, Kertosono
Suasana di jalur Kertosono-Jombang

Perjalanan KA Dhoho di Jombang melewati sawah dan kebun jagung yang luas. Sawah-sawah waktu itu tidak ditanami padi karena sudah memasuki musim panen. Sedangkan ladang jagung waktu itu sudah siap panen. Selain itu, jalur kereta bersisian dengan jalan raya membuat pemandangan unik. Kita bisa melihat sepeda motor atau kendaraan lain “mengejar” kereta api yang kita tumpangi, namun selalu didahului oleh kereta api.

KA Dhoho pun tiba di stasiun Jombang. Stasiun ini termasuk stasiun kereta api kelas besar di kecamatan Jombang Kota. KA Dhoho berhenti di Jombang sekitar pukul 14:30. Arus penumpang yang naik turun dari kereta ini cukup ramai, sehingga “mendorong” saya untuk keluar sejenak. Stasiun ini sendiri terletak di pusat kota, jadinya banyak orang yang naik turun di sini. Saya keluar untuk mengabadikan beberapa momen di stasiun. Ada satu kereta ketel yang terparkir di sini. Kereta ini berhenti di sini cukup lama, sekitar 5 menit.

Putar Arah di Kertosono

kertosono, dhoho

Setelah berhenti lama di Jombang, KA Dhoho diberangkatkan oleh masinis. Setelah meninggalkan Jombang, penumpang KA Dhoho terasa semakin penuh. Ini karena banyak penumpang yang naik di stasiun ini.

Setelah beberapa saat “lepas landas” dari Jombang, pemandangan yang sama dengan sebelum tiba di stasiun Jombang tersaji. Rel kereta yang bersebelahan dengan jalan raya masih mendominasi. Hari yang semakin sore membuat cuaca tidak terlalu panas tapi tetap menyilaukan. Tanpa terasa KA Dhoho sudah tiba di stasiun Sembung. KA Dhoho tidak berhenti lama di sini. Hanya beberapa menit, kereta sudah berangkat meninggalkan Sembung.

Setelah meninggalkan Sembung, saya pun kembali menikmati pemandangan dengan ditemani penumpang lain. Teman-teman yang lain berpencar di kursi-kursi lain karena saya sendiri yang turun di stasiun Jombang harus mencari kursi yang masih kosong. Tempat duduk yang saya sebelumnya harus saya relakan untuk orang lain jadi harus cari yang lain. 

KA Dhoho melewati jembatan besar yang di bawahnya mengalir sungai Brantas. Itu artinya kereta akan tiba di stasiun Kertosono. Kereta pun melewati proyek double track yang waktu itu hampir rampung. Meski begitu, pengerjaan terus dilakukan dan material tersusun di kanan kiri jalur seperti batang rel, bantalan beton, dan batu kricak.

KA Dhoho pun tiba di stasiun Kertosono sekitar pukul 3 sore. Inilah momen yang kami tunggu-tunggu, yakni langsiran lokomotif dan putar arah lokomotif. Kereta berputar arah dari arah barat ke timur, tepatnya ke arah Kediri, Tulungagung, lalu Blitar. Kereta berputar arah dengan cara membalikkan posisi lokomotif dari barat ke timur dengan menggunakan meja putar (turntable). Stasiun Kertosono adalah salah satu stasiun yang mempunyai fasilitas ini.


Begitu tiba di Kertosono, petugas langsir kereta sudah bersiap. Lokomotif pun dilepas dari rangkaian kereta. Lalu, lokomotif dilangsir ke arah barat kemudian dijalankan ke arah sebaliknya. Lokomotif berhenti di batas langsir kemudian dipindahkan jalurnya menuju jalur yang mengarah ke turntable. Dalam melangsir kereta, masinis didampingi juru langsir yang membawa bendera merah sebagai penanda lokomotif jalan atau berhenti.




Wesel pun dipindahkan untuk mengarahkan lokomotif ke arah turntable. Begitu lokomotif mendekati turntable, kami pun mencoba melihat prosesnya dari dekat. Balu pun bertanya kepada salah seorang petugas

“Mas, boleh ke sana, ya?!” pinta Balu menunjuk ke turntable.

“Monggo, mas! Tapi jangan lari-lari, ya!” Jawab si petugas mempersilahkan.

Yes, bisa lihat lokomotif putar balik! Kami segera mendekati turntable. Dengan hati-hati kami melangkah agar tidak tersandung di rel. Setelah tiba di sana, kurang afdhol kalau hanya melihat lokomotif diputar. Ide gila kami keluar untuk ikut nimbrung membantu memutarkan lokomotif.

“Pak, tak bantu, ya!” Kata Balu spontan.

“Oke, monggo, Mas!” Jawab petugas.


Alhamdulillah, bisa ikutan dorong lokomotif. Balu dan Faiq yang membantu petugas mendorong, saya dan Hasbi yang mendokumentasikan. Pemutaran lokomotif di Turntable dilakukan dengan tenaga manual. Caranya dengan mendorong gagang di masing-masing sisi. Ini dilakukan hingga lokomotif berganti haluan ke arah berlawanan. 

Lokomotif telah selesai diputar di turntable. Kami pun kembali ke kereta. Katanya, memutar lokomotif itu capek, tapi seru dan asyik. Terima kasih para petugas langsir Kertosono! 

Setelah kembali ke kereta, kami menunggu lokomotif disambungkan ke rangkaian kereta. Sambil menunggu, kami menemukan satu momen lagi, yaitu kereta produksi PT INKA untuk Filipina melewati stasiun Kertosono. Kereta jenis Diesel Multi Unit (DMU)/Kereta Rel Diesel (KRD) sedang diujicoba untuk diekspor ke negara mutiara laut orien. Setelah lokomotif disambung, KA Dhoho berangkat dari Kertosono.


Berpisah di Kediri


KA Dhoho beranjak dari Kertosono ke Blitar melewati jalur Kertosono-Bangil yang dijuluki jalur kantong. Ekspedisi jalur kantong pun berlanjut.

KA Dhoho sekali lagi melewati sungai Brantas, sungai yang penting bagi Jawa Timur karena Brantas adalah salah satu sumber irigasi bagi masyarakat Jatim. Sepanjang perjalanan, sawah-sawah terhampar. Berbeda dengan di Jombang, sawah di sini tampak menghijau karena mungkin baru masuk musim panen.

KA Dhoho sempat berhenti di stasiun Purwoasri. Stasiun kecil ini terletak di Purwoasri, Kediri. Meskipun berhenti, kereta tidak menurunkan atau menaikkan penumpang. Kereta hanya menunggu bersilang dengan sesama KA Dhoho arah Kertosono. Setelah di Purwoasri, KA Dhoho berhenti lagi di stasiun Papar. Kali ini untuk menaikturunkan penumpang.

KA Dhoho pun tiba di stasiun Kediri sekitar pukul 4 sore. Stasiun Kediri termasuk stasiun besar dan melayani seluruh perjalanan kereta yang melewati rute ini. Di sinilah kami harus berpisah dengan Faiq yang turun dahulu mengingat ia pulang ke rumahnya di kota ini.

“Ane pulang dulu, ya…!” kata Faiq.

“Yo. Hati-hati!” jawab Balu disusul teman-teman yang lain.

Saya ikut-ikutan keluar seperti “melepas” kepergiannya. Di peron stasiun tampak banyak orang. Tak lama berselang, KA Gajayana masuk stasiun Kediri dari arah Malang. KA Dhoho pun harus menunggu Gajayana berhenti barulah bisa diberangkatkan.

Pulang ke Tulungagung

Tulungagung, Kereta Api, dhoho

KA Dhoho telah pergi meninggalkan Kediri. Perjalanan kami menuju Tulungagung praktis tanpa ditemani Faiq yang turun duluan. Namun, Dhoho masih tetap ramai seperti biasa.

Setelah Kediri, KA Dhoho hanya berhenti di dua stasiun, yaitu stasiun Ngadiluwih dan KRas. Kedua stasiun kecil ini terletak di Kab. Kediri. Karena kelas kecil, tak banyak penumpang yang naik turun di sini.


Perjalanan kami berakhir ketika kereta Dhoho masuk Tulungagung. Dhoho berhenti di stasiun Tulungagung kira-kira pukul 5 sore. Kami pun turun dari kereta dan keluar melewati pintu yang ada di selatan stasiun. Setelah keluar kami beristirahat sejenak menikmati seporsi bakso di warung seberang stasiun lalu berjalan kaki mencari bus menuju Trenggalek.

0 Comments:

Mengenang Pertempuran Surabaya di Museum 10 November

5/06/2020 10:14:00 pm Ikhalid "Ian" Rizqy Al Raihan 1 Comments


tugu pahlawan, museum 10 november, 10 november, surabaya

Waktu menunjukkan pukul 09:50 ketika kami tiba di stasiun Surabaya Kota. Aku berpikir, masih ada waktu cukup lama untuk menunggu kereta berikutnya ke Tulungagung. Kereta yang akan kami naiki baru berangkat jam 12.00. Ada waktu sekitar 2 jam untuk menunggu kereta berikutnya. Lalu, buat apa menunggu berlama-lama di stasiun?

Daripada menunggu lama di sana, kami berlima akhirnya sepakat untuk jalan-jalan di sekitar stasiun. Di luar stasiun mungkin saja ada tempat wisata menarik untuk dikunjungi. Setelah iseng-iseng googling, ternyata kami menemukan salah satu lokasi wisata. Jreng jreng, ternyata tempat itu adalah salah satu ikon kota Surabaya! Ia bahkan terpampang jelas dalam logo kota Pahlawan. Tempat tersebut adalah Tugu Pahlawan.



Kami berjalan sekitar 15 menit untuk tiba di sana. Jalan Stasiun yang memanjang di depan stasiun yang disebut juga dengan Stasiun Semut ini cukup lengang. Hanya ada beberapa kendaraan melintas dan banyak becak yang sedang beristirahat. Hal sama kami temukan pula di Jl. Kebonrojo setelahnya. Di sepanjang jalan itu, kami menemukan berbagai bangunan klasik penuh sejarah. Salah satu nya adalah Gedung Bank Mandiri yang berada tepat di persimpangan jalan. Bangunan klasik ini masih digunakan sebagai Kantor Cabang Niaga Bank Mandiri Surabaya. Saya sempat iseng mengintip karena kepo seperti  apa dalamnya  gedung ini. Katanya masih terpakai, koq terlihat tidak terawat dari luar?! Ternyata, masih ada orang bertransaksi di dalam. Ada pula satpam yang berjaga di pintu masuk yang letaknya agak masuk dari jalan raya. Untung tidak ketahuan satpam. Hehehe…


Selain gedung Bank Mandiri, masih banyak gedung bersejarah lainnya di sepanjang Jl. Pahlawan. Ada Graha Pelni dan Gedung Bank Indonesia. Di sekitarnya terdapat kursi taman terpasang di trotoar. Terdapat pula restoran mewah bernama Surabaya Country. Restoran dengan gaya arsitektur Eropa klasik ini semakin menambah kemegahan kawasan Kota Lama Surabaya. Sebagiannya digunakan sebagai lapak tempat jual beli makanan. Satu lagi gedung penting di jalan ini, yaitu Kantor Gubernur Jawa Timur,tempat Ibu Khofifah Indar Parawansa berdinas.




Sepanjang perjalanan ke Tugu Pahlawan, cuaca panas Surabaya mulai menyengat. Para pejalan kaki banyak yang berteduh atau duduk-duduk di kursi taman untuk melepas lelah. Kami berusaha mencari cara agar bisa berjalan terus mengejar waktu sambil menahan panas. Kami melepas jaket yang dikenakan dari Malang  agar tidak kegerahan. Sesekali kami berhenti untuk sekadar foto-foto. Untung saja, setelah kantor gubernur banyak pohon tegak berdiri. Kami pun tidak merasa kepanasan lagi.





Tugu Pahlawan merupakan salah satu tempat bersejarah sekaligus landmark kota Surabaya. Ia didirikan pada tanggal 10 November 1951 oleh Presiden Soekarno untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang gugur dalam perjuangan di Surabaya. Tugu Pahlawan  termasuk dalam kawasan Kota Tua Surabaya. Kompleks Tugu Pahlawan terdiri atas Monumen dan Museum 10 November. Tugu Pahlawan memiliki tinggi 41,15 meter dan berbentuk lingga (paku terbalik). Tugu ini diresmikan setahun berikutnya, tepat pada tanggal 10 November 1952.

surabaya, tugu, pahlawan, tugu pahlawan

Kita masuk kawasan Tugu Pahlawan melalui areal parkir selatan. Di sana beberapa bus ukuran ¾ parkir memenuhi lapangan parkir. Bus-bus itu membawa rombongan para turis asing yang datang ke Surabaya dalam rangka suatu event. Kami disambut oleh beberapa relief berjajar menceritakan pertempuran Arek-Arek Suroboyo mengusir Sekutu. Selain itu, ada patung Soekarno-Hatta tegak berdiri dilatarbelakangi reruntuhan bangunan dengan pilar-pilar yang bertuliskan slogan-slogan pembakar semangat seperti “Merdeka Ataoe Mati.” Setelah melewati patung proklamator tersebut, barulah kami memasuki kawasan Tugu Pahlawan yang luasnya mencapai 1,3 hektar tersebut.

Relief di gerbang Tugu Pahlawan

Kami awalnya hendak berjalan di sekeliling Tugu Pahlawan. Karena cuacanya terlalu panas dan terburu-buru, kami pun langsung menuju Museum 10 November. Museum tersebut berada di sisi barat Tugu Pahlawan. Jalan menuju museum ditumbuhi pepohonan dan berhias patung tokoh-tokoh penting Surabaya, seperti patung Soerjo (gubernur Jawa Timur I), Doel Arnowo (walikota Surabaya 1950-1952, tokoh penggagas Tugu Pahlawan), dan Bung Tomo (pemimpin pejuang Pertempuran 10 November). Ada juga mobil Opel Kapitan milik Bung Tomo yang dijadikan koleksi museum, mengingatkan kita akan perjuangan Bung Tomo dalam mempertahankan Indonesia melawan penjajah.


Jalan menuju Museum 10 November

Mobil Opel Kapitan milik Bung Tomo 
Gubernur Soerjo, gubernur pertama Jawa Timur



Doel Arnowo, Walikota Surabaya pencetus Tugu Pahlawan

Kami pun masuk Museum 10 November. Untuk masuk museum, dikenakan tiket masuk sebesar Rp 10.000,00 untuk umum. Setelah membayar, kami diperkenankan untuk turun. Lho, koq turun? Iya! Posisi Museum 10 November berada di bawah tanah, tepatnya di kedalaman 7 meter di bawah permukaan tanah. Jadi, kita masuk museum dengan menuruni tangga. Museum ini sendiri dibuka pada 10 November 2001 oleh presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk melengkapi kesejarahan Tugu Pahlawan dan menghimpun koleksi seputar perjuangan Indonesia melawan
Sekutu.

Kami pun menuruni tangga menuju lantai dasar Museum 10 November. Di sisi tangga disajikan relief yang menggambarkan Pertempuran 10 November 1945 yang meletus di Kota Pahlawan. Di bawah relief itu, terdapat prasasti berisi tulisan yang menggugah semangat juang. Salah satu prasasti berbunyi “Tetes air mata dan doa tulus bunda adalah bekal dan semangat dan tekad baja. Kami bangkit mengayuh langkah pasti, membuka dada menyerahkan jiwa dan raga bagi Ibu Pertiwi.” Prasasti tersebut sungguh mendeskripsikan bagaimana semangat juang Arek-Arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan dan memotivasi para pemuda yang berjihad demi bangsa dan negara. Di atas tangga tergantung sebuah hiasan berbentuk piramida terbalik dengan gambar kolase foto-foto Surabaya tempo doeloe.


Setibanya di lantai dasar, kami melewati lorong menuju pintu masuk utama. Di sebelah kiri lorong terdapat foto-foto Surabaya zaman dulu. Foto berwarna hitam putih dengan dibingkai pigura berwarna coklat gelap menambah kesan klasik dari foto itu. Salah satu foto yang berhasil saya tangkap adalah foto viaduk Tugu Pahlawan. Di gambar itu tram masih menjadi transportasi andalan Kota Pahlawan. Tram masih digunakan di Surabaya sampai 1978 karena kalah bersaing dengan moda transportasi lainnya. Viaduk itu sendiri melintang di atas Jl. Pahlawan dan digunakan sebagai jalur kereta api lintas Surabaya. Setelah melewati lorong, kami pun tiba di ruang utama. Sebelum masuk, ada papan peringatan bertuliskan nama-nama pejuan kemerdekaan dalam pertempuran 1945 di Surabaya.

Lorong menuju pintu masuk museum



Nama-nama pejuang yang gugur dalam Pertempuran 10 November

Banyak benda-benda bersejarah yang dapat kami jelajahi. Kami menjumpai beberapa koleksi pribadi Bung Tomo seperti kalender tahun 1945. Kalender berwarna dasar putih ini masih jelas tulisannya. Tulisan hari dalam kalender tertulis dalam bahasa Arab dan Indonesia. Selain kalender juga ada kamera dan mesin tik. Museum ini juga menyiarkan rekaman pidato Bung Tomo. Rekaman ini diperdengarkan melalui speaker berbentuk radio jadul. “Radio” ini diletakkan di antara patung-patung pejuang. Salah satu cuplikan pidato Bung Tomo berbunyi:

“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga.
Saudara –saudara rakyat Surabaya, siaplah!keadaan genting! tetapi saya peringatkan sekali lagi jangan mulai menembak baru kalau kita ditembak maka kita akan ganti menyerang mereka itu kita tunjukkan bahwa kita ini benar-benar orang yang ingin merdeka!”
Di antara koleksi pribadi Bung Tomo lainnya yang dapat dijumpai di Museum 10 November adalah buku harian, peta pergerakan pejuang, radio, dan baju perang.

Mesin tik koleksi Bung Tomo


Surat ultimatum dari Sekutu kepada pasukan RI

Beberapa peralatan pribadi milik pasukan Sekutu

Tidak hanya koleksi milik Bung Tomo, koleksi lainnya juga ada di museum ini, seperti perangko jadul dan foto-foto sekitar Pertempuran 10 November. Bahkan, barang-barang milik prajurit Sekutu juga ditemukan di sini, seperti korek api, botol minum, dan pisau cukur. Tidak hanya itu, ada juga surat ultimatum yang dikeluarkan Sekutu kepada rakyat Indonesia untuk menyerahkan diri.




Berkunjung ke museum sejarah pertempuran, kurang lengkap jika tidak mengunjungi koleksi senjata. Ada beberapa pucuk senjata yang dipamerkan di Museum 10 November. Senjata api yang dipajang rata-rata adalah senjata laras panjang, meskipun ada beberapa pula senjata seperti pistol dan revolver. Ada senapan penghalau tank, senapan ringan, dan senapan mesin.

Beberapa koleksi senjata di Museum 10 November

Beberapa koleksi senjata di Museum 10 November (2)

Peta pergerakan pasukan
Kami pun turun ke lantai dasar untuk melihat berbagai koleksi perang yang ada. Di sana ada patung 10 pejuang. Patung-patung tersebut menggunakan baju perang seakan-akan menggambarkan perjuangan para pahlawan. Di lantai dasar bagian tengah ada diorama besar yang menggambarkan pertempuran kala itu. Patung tersebut berbentuk sekumpulan orang dan seseorang yang mengangkat senjata di antara orang-orang lain yang terkulai. Sepertinya itu gambaran pemuda yang masih gigih berjuang di antara rekan-rekannya yang telah gugur. Di atas patung itu terpasang neon box dengan gambar Bung Karno dengan ucapan-ucapannya,  di antaranya “Merdeka ataoe Mati.”




Museum 10 November menyimpan berbagai diorama statis. Diorama ini menceritakan bagaimana Surabaya selama Pertempuran 10 November. Diorama didampingi dengan media audio visual. Video disajikan dalam 6 bahasa, yaitu Indonesia, Inggris, Korea, Belanda, China, dan Jepang. Diorama yang paling menarik adalah diorama tentang pertempuran Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit). Tentu kita semua ingat kalau hotel tersebut terkenal dengan peristiwa perobekan bendera Belanda oleh Arek-Arek Suroboyo.

Sebagian dari diorama yang ada di Museum 10 November

Tidak hanya menyimpan koleksi milik Bung Tomo, Museum 10 November juga menyimpan koleksi milik tokoh lain. Ia termasuk salah satu aktor kunci dalam Pertempuran Surabaya dari kalangan militer. Beliau adalah H. R. Mohamad. Tokoh yang memiliki nama lengkap Raden Mohamad Mangoendiprodjo ini merupakan pimpinan pasukan RI dalam Pertempuran 10 November. Beliau-lah yang menjadi kontak antara pasukan RI dan Sekutu dalam gencatan senjata pada 29 Oktober 1945 mengingat posisinya saat itu adalah pimpinan TKR di Jawa Timur. Namun, perjanjian tersebut batal dan Sekutu mengultimatum pasukan RI agar segera menyerahkan diri. Hal tersebut tentu ditolak oleh H.R. Mohamad beserta pasukan. Akhirnya, pecah lah pertempuran selama 22 hari hingga 10 November yang dipimpin oleh H. R. Mohamad sendiri. Atas jasa-jasanya dalam memimpin pasukan, negara memberikan berbagai apresiasi. Salah satunya dengan menempatkan memorabilia H.R. Mohamad khusus di Museum 10 November. Di tempat itu dipamerkan seragam, foto, dan kliping dari surat kabar tentang H. R. Mohamad. Tak lupa pula biodata beliau dipaparkan secara ringkas.

Anjungan H. R. Mohamad

Ada juga stan tentang sejarah Rumah Sakit Simpang. RS Simpang adalah salah satu rumah sakit tertua di Surabaya. Rumah sakit inilah yang menampung korban Pertempuran Surabaya. Namun, korban semakin membludak hingga akhirnya sebagian harus dilarikan ke Malang. Rumah sakit tersebut sudah tidak ada lagi, berganti menjadi Delta Plaza. Walakin, kita masih bisa melihat sejarah RS Simpang di Museum 10 November. Terdapat foto-foto dan narasi sejarah yang cukup mempresentasikan peran andil RS Simpang dalam perjuangan melawan Sekutu dalam Pertempuran 10 November.

Anjungan Rumah Sakit Simpang

Akhir perjalanan, kami dilepas dengan sebuah relief besar menggambarkan Surabaya saat ini. Bertuliskan “Surabaya Membangun” di bawahnya, relief ini benar-benar menjelaskan Surabaya yang terus membangun untuk masa depan. Pembangunan yang diinginkan dari gambar itu adalah pembangunan yang menyeluruh dan merata, baik dari segi ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya. Hal itu terpampang jelas dari elemen yang tergambar di relief itu. Pendidikan sudah berbasis teknologi. Pelayanan kesehatan terus berbenah. Masyarakat hidup berdampingan dalam kemajemukan seperti rumah-rumah ibadah yang terletak bersebelahan di gambar itu. Bahkan, relief itu memaparkan bahwa akan ada kereta rel tunggal (monorail). Kereta rel tunggal telah diwacanakan oleh Pemprov Jatim awal tahun ini. Semoga benar-benar terwujud.

Relief "Surabaya Membangun" di pintu keluar

Kami pun keluar dari museum  10 November. Pintu keluar mengarah ke balik museum. Di sini pun masih ada satu lagi monumen bersejarah. Ia adalah Makam Pahlawan Tak Dikenal. Konon katanya, ada banyak pejuang yang gugur dalam Pertempuran 10 November yang tidak diketahui identitasnya dimakamkan di kompleks Tugu Pahlawan. Kemudian, dibuatlah pusara besar untuk mengenang jasa-jasa mereka.

Makam Pahlawan Tak Dikenal

Setelah berjalan-jalan di kawasan Tugu Pahlawan, ada banyak hal yang kami dapatkan. Pertempuran 10 November mengingatkan kita bahwa kemerdekaan Indonesia diraih dengan perjuangan mengorbankan harta dan nyawa. Para pejuang yang gugur adalah pahlawan bangsa karena pengorbanan mereka mempertahankan Indonesia. Tugas kitalah yang melanjutkan jejak mereka, bagaimanapun caranya. Setelah pergi meninggalkan Tugu Pahlawan dengan membawa sejarah, kami pun bergegas menuju Stasiun Semut untuk perjalanan berikutnya.

Untuk informasi mengenai Tugu Pahlawan silakan kunjungi:
Instagram: @museumtupal
Twitter: @museumtupal
Alamat: Jl. Pahlawan, Alun-alun Contong, Kec. Bubutan, Kota SBY, Jawa Timur 60174
Jam buka:
Senin-Jum'at: 08.00–16.00
Sabtu & Minggu: 07.00–15.00

1 Comments: